Perlahan

1111 Words
Pernah dengar kata ini? 'Titik tertinggi dari mencintai adalah mengikhlaskan.' Ikhlas bukanlah perkara yang mudah. Bukan kata yang hanya bisa diucapkan saja, tapi ikhlas lebih jauh maknanya. Ikhlas berarti merelakan dengan sepenuh hati. Itulah yang saat ini coba aku lakukan, ya walaupun aku tau bahwa perasaan yang aku punya saat ini bisa disebut sebagai cinta atau yang lainnya. Setiap kali terjadi sesuatu aku selalu merasa ketakutan. Aku takut jika dia sampai terluka, aku khawatir jika dia sampai berbuat yang tidak-tidak. Tapi sadarkah aku bahwa yang ia lakukan padaku semua hanya omong kosong dan drama saja. Aku tau ini tidak benar, tapi apakah salah? Sedari tadi aku mengamati pantulan tubuhku dari balik cermin. "Haruskah aku melupakan segalanya?" ucapku membatin. Aku tetap diam dan terus menatap manik mataku sendiri. "Apa perlu aku melakukan ini semua?" tanyaku kembali pada diriku sendiri. Aku tidak suka terus berada di situasi yang ada ini. "Veronica gadis yang lumayan cantik. Berbeda denganku yang terlihat biasa saja. Tentu saja Vince sangat menyukainya. Jika dibandingkan dengannya aku tidak ada apa-apanya," ujarku. Sudah hampir setengah jam aku berada di toilet yang hanya diam untuk melihat penampilanku saja dari balik cermin besar yang ada di toilet ini. "Aku harus melupakan segalanya, sekarang bukan waktunya memikirkan hal ini. Jika Vince mencintainya, lantas apa urusannya denganku? Aku tidak bisa memaksanya untuk melupakan Veronica. Lagi pula aku bukanlah siapa-siapa disini." Aku tersenyum kecut, aku akan melakukannya! Aku tersenyum melihat pantulan diriku di cermin. Sungguh, kali ini aku akan berusaha untuk ikhlas walaupun aku tau ini pasti akan sangat sulit untukku, tapi aku psti akan berusaha untuk mencobanya sekalipun ini sangat sulit. Aku keluar dari toilet, saat keluar dari sana rupanya David masih berdiri dan menungguku, dia benar-benar teman yang setia, bukan? "Kau masih disini?" tanyaku padanya. "Lalu menurut mu aku ini siapa? Aku telah menunggu hampir setengah jam disini." Aku tersenyum, "Maaf jika telah mwmbuatmu menunggu lama. Lagi pula mengapa kau hanya berdiam diri disini? Kenapa tidak masuk dan memanggilku?" tanyaku. "Ini adalah toilet wanita, bagaimana bisa seorang pria masuk kedalam kamar mandi para gadis," sewotnya. "Baiklah tuan David, maaf jika telah membuat anda menunggu terlalu lama, kita pergi?" David mengangguk mengiyakan. Aku melihat David masih membawa tote bag pemberian Veronica tadi. Kami bahkan belum memakannya. Bagaimana ini? Haruskah kami memakannya? "Kau belum membuka kotak makan itu?" "Iya, aku menunggumu. Kita diberikan bersama lantas kita pun harus memakannya bersama," seru David. Aku diam, lalu kemudian mengangguk. "Mari, sepertinya aku sangat lapar." "Kau mau memakannya?" tanya David untuk memastikan. "Iya, memangnya ada apa?" "T-tidak. Ayoo." David menarik tanganku dan membawaku menuju kursi panjang yang berada dibawah pohon. *** Rasanya hari ini benar-benar sangat panjang. Aku pulang dengan mengendarai Taxi. Ayah hari ini tidak bisa menjemputku karena katanya dia ada urusan mendadak, dan tak apa. Aku kadang biasanya memang pulang seorang diri. Saat hendak membuka pintu gerbang, dari kejauhan samar-samar aku melihat seorang gadis keluar dari mobil Vince, apa mungkin itu Veronica? Tanganku terhenti, bahkan untuk membuka pintu gerbang pun aku rasanya tidak bisa. Tapi kembali lagi, aku telah menekankan pada diriku untuk ikhlas dan melupakan segalanya, tapi mengapa rasanya sangat sulit? Aku menghela nafas pelan, kemudian mengayunkan kembali tanganku dan mendorong pintu gerbang itu. "Anna?" suara teriakan seorang gadis terdengar dan itu membuat langkahku terhenti. Aku menoleh ke arah samping dan kulihat Veronica sudah berdiri disana, dia benar-benar melihatku. Dia mendekat kearah tembok pembatas rumah kami, "Kau tinggal disini?" tanyanya padaku, ia terlihat terkejut melihat kehadiranku. "I-iya," ucapku. Aku melirik kearah Vince, disana ia masih berdiri dan mungkin ia menunggu Veronica. "Oh iya, bagaimana jika kau mampir ke rumah ini sebentar? Hari ini aku ingin memasak makanan, dan tampaknya sangat seru jika kau ikut bergabung," ajak Veronica. "Tidak, kalian saja. Aku masih ada beberapa pekerjaan dirumah, dan ayahku akan pulang nantinya," tolakku. "Ah ayolah, tidak akan lama. Ayahmu pasti akan mengerti, aku hanya ingin mengenal lebih jauh tentang siapa dirimu agar kita bisa menjadi teman. Apa kau tidak ingin?" Ternyata, Veronica gadis yang cukup keras kepala. Aku sampai bingung harus bicara seperti apa untuk menolak ajakannya. Aku menolaknya bukan karena aku tidak mau mengenalnya lebih dekat. Tapi aku benar-benar tidak bisa berada di ruangan yang sama dengan mereka, aku khawatir perasaan ini akan membuatku mengacaukan segalanya. Bagaimana bisa aku mengatasi hal ini? "Ayo?" "T-tapi, aku tidak bisa." "Kenapa? Kenapa kau selalu menolak ajakanku? Ada apa?" Aku diam, bagaimana bisa aku menjelaskan padanya bahkan aku benar-benar tidak bisa? Aku bahkan tidak mengerti kenapa aku harus berada di situasi seperti ini. Aku kembali melirik Vince, pria itu masih berdiri disana dan bahkan ia sama sekali tidak menyapaku. Apakah secepat itu ia melupakan segalanya? Apa menurutnya, kenangan yang telah kami habiskan bersama itu tidak penting baginya? Mengingatnya saja membuat hatiku sakit. "Aku khawatir ayahku akan tau jika aku datang ke rumah kalian. Ayahku dan Leo tidak memiliki hubungan yang baik. Dan jika ayahku tau aku datang kesana ia bisa saja menghabisi Leo," jawabku. "Kalau begitu kita tidak membiarkan ayahmu tau hal ini. Kami akan berhati-hati." Memang sangat sukit untuk menolak Veronica saat ini. Jika aku hanya diam berdiri disini seluruh waktu akan terbuang sia-sia. Tapi bagaimana ini? Apakah aku harus setuju? Aku khawatir kehadiranku sama sekali tidak penting disana, tapi bagaimana aku harus menolaknya? Dia selalu punya cara untuk menjawabku. "Ayo, Anna. Vince dari tadi menunggu kita. Ini juga bisa menjadi kesempatan untukmu agar bisa bicara dengannya. Aku tau kau punya 1000 pertanyaan untuk Vince, jadi sebaiknya kau datang." "I-iya, baiklah." Aku terpaksa setuju. Aku kembali berbalik arah untuk datang ke rumah Vince, semoga tidak ada masalah apapun yang terjadi nantinya. Aku berjalan menuju rumah Vince dengan langkah lamban. Veronica dan Vince masih berdiri di tempat yang sama. Senyuman dari bibir Veronica tidak pernah lepas, ia tersenyum dan melihat ke arahku dengan tatapan bahagia, seperti itulah yang aku rasakan. Saat tiba di depan pintu gerbang rumah Vince, rasanya aku ingin berteriak saja ketika melihat Vince diam-diam mengusap kepala Veronica. Pemandangan itu benar-benar membuatku merasa aneh, mengapa sangat sulit melupakan Vince? Veronica tampak menghindar, ia datang menyambut dan membukakan ku pagar. "Ayo masuk," ujar Veronica. Aku hanya mengangguk. Kami berdua berjalan beriringan menuju pintu masuk sementara Vince hanya menyusul dari arah belakang. Pertama kali saat menginjakkan kaki ke dalam rumah Vince aku langsung terkesima dengan keindahan yang ada di dalam sana. Pandanganku langsung mengarah pada Vince dan Veronica, mereka berdua tinggal bersama dan mereka adalah sepasang kekasih, apa mungkin mereka tidur bersama? Aku langsung memikirkan hal itu. Bagi orang seperti Vince, mungkin hal itu adalah hal biasa dan pastinya mereka sudah melakukan itu. Inilah yang menjadi alasan utama mengapa aku harus belajar untuk melupakannya, karena sejatinya Vince telah dimiliki oleh seseorang dan seseorang itu bukanlah aku, qku harus banyak-banyak sadar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD