Makan Malam

1161 Words
Bagaimana bisa aku menjelaskan bahwa hari ini rumah Vince benar-benar sangat berbeda. Penataan ruangan benar-benar sangat rapi, untuk masalah kebersihan Veronica memang sangat ahli. Veronica menuntun ku menuju sofa besar, disana terlihat ada Leo yang tengah menonton Tv. "Duduklah disini sembari aku membuat sesuatu di dapur," ujar Veronica. "Apa aku bisa ikut denganmu?" tanyaku. Bagaimana bisa aku duduk bersama mereka berdua? Ini tidak akan mungkin. "Tidak, Anna. Kau tetaplah disini sembari aku berada di dapur. Ini tidak akan lama, hanya beberapa saat saja, hm?" Baiklah, aku lagi lagi harus menyerah. "Baiklah, aku akan menunggu mu." Setelah mengatakan hal itu, Veronica langsung menuju ke arah dapur sedangkan aku hanya berdiri dan diam membisu. Oh ya Tuhan aku benar-benar sangat bingung harus melakukan apa sekarang. Vince tampak sibuk dengan urusannya sendiri yakni memainkan ponselnya. Dan Leo? Jangan tanya tentang pria itu. Ia bahkan hanya duduk diam sambil menatap layar TV dengan santai. Lantas bagaimana denganku? Aku menghela nafas pelan, apakah aku hanya akan berdiri disini? Mereka berdua bahkan sama sekali tidak minat melihatku sekilas saja. Lalu bagaimana denganku? "Jangan hanya berdiam diri seperti orang bodoh disitu!" imbuh Leo. Aku menoleh kearahnya dan tampaknya ia tau bahwa saat ini aku benar-benar sangat bingung. "Kau bicara denganku?" tanya untuk memastikannya. "Apa ada orang lain yang berdiri seperti orang bodoh selain dirimu disitu?" "HAH?? BODOH??!" Aku menatap Leo dengan tatapan tajam, dia baru saja mengatakan aku bodoh? "Kenapa? Kau tidak terima?" Leo menoleh ke arahku. "Jangan macam-macam denganku! Sungguh, aku sama sekali tidak berminat bicara denganmu!" ketusku. "Tapi kita saat ini sedang bicara, ada apa denganmu, nona?" "Berhenti mengganggunya." Kini Vince yang bersuara, mungkinkah dia masih peduli padaku? Oh Ya Tuhan! Aku benar-benar merasa aneh, sungguh. "Kau duduklah, dan tidak perlu mendengarkan apa katanya, dia memang selalu begitu. Selalu saja mengganggu dirimu," ucap Vince lagi dan aku hanya mengangguk lagi, lagi, dan lagi. Aku tidak bergeming, aku masih berdiri. Ya memang benar, aku terlihat seperti orang bodoh, apa yang Leo katakan memang ada benarnya juga. "Kenapa? Kenapa kau tetap diam? Apa kau tidak ingin duduk di tempat yang sama denganku?" ujar Leo, aku menggeleng. "Kau benar-benar gadis yang sangat aneh." Ya, aku memang sangat aneh, sama halnya dengan Leo. Dia juga aneh. Tanpa kusadari Leo bangkit dari kursinya lalu datang padaku. Ia menarik tanganku lalu membawaku duduk, tampaknya ia sudah sangat kesal. Aku tidak menolak, aku hanya diam saja ketika tangannya itu menggenggam pergelangan tanganku. "Bagaimana keadaan mu?" tanya Leo padaku. Aku menoleh dan menatapnya dengan tatapan bingung. Keadaan? Untuk apa dia menanyakan tentang keadaan ku? "Kau? Kau bertanya padaku?" tanyaku padanya. Leo mendesah pelan, "Kau benar-benar sangat menyebalkan. Menurutmu aku bicara dengan siapa, huh?" "Tapi kenapa tiba-tiba kau bertanya tentang keadaan ku? Memangnya ada apa? Dan apa ada sesuatu yang terjadi padaku, huh?" "Tidak tau! Percuma bicara denganmu!" Leo mengalihkan pandangannya. Ia kembali menatap layar TV sedangkan aku hanya diam dan menatapnya saja. Aku menoleh menatap Vince. Pria itu sibuk dengan ponselnya sejak tadi. Aku bahkan sampai bingung mengapa segalanya menjadi seperti ini. *** Veronica tampak sibuk mempersiapkan makan malam. Aku memutuskan untuk masuk ke dapur dan membantunya. Aku tidak tau mengapa aku sampai terjebak di situasi ini, tapi tampaknya inilah yang sebenarnya harus terjadi. "Apa ada yang bisa aku bantu?" tawarku pada Veronica yang tampak sedang mengaduk dan membuat saus itu. "Ah, tidak ada. Sebenarnya sebentar lagi semuanya akan selesai. Tapi kau bisa membantuku dengan mulai menyiapkan peralatan makan di meja, itu jika kau tidak keberatan." Veronica menoleh ke arahku sembari tersenyum. "Baik, aku akan melakukannya." Lebih cepat lebih baik. Aku juga tidak ingin berlama-lama disini. Jujur saja aku khawatir jika ayahku sampai tau keberadaanku. Aku takut ayah akan marah besar karena aku telah menutupi segalanya darinya. Tidak membutuhkan waktu yang cukup lama bagi kami menyiapkan makan malam. Veronica memanggil kedua pria itu untuk mencicipi hidangan buatannya. Seutas senyum tak pernah lepas dari wajah mulus Veronica. Ia menuntun Vince untuk duduk di kursi, ia lalu duduk tepat di sebelahnya. Lain halnya dengan Leo, pria itu justru menarik kursinya dan duduk tepat di sebelahku. Aku tau ia pasti akan mengangguku lagi. "Sebaiknya kita makan sekarang. Anna juga sepertinya harus pulang dengan cepat," ujar Veronica dan aku hanya mengangguk mengiyakan saja. Veronica membantu Vince menyajikan makanan di piring Vince. Aku hanya bisa menatap interaksi mereka. Sedangkan Leo, jangan tanya apa yang pria aneh itu lakukan. Ia bahkan lebih dulu dan langsung mencicipi makanan tanpa mengatakan apapun pada Veronica. "Masakanmu lumayan," ucapnya samar-samar karena mulutnya masih penuh dengan nasi. "Terimakasih," balas Veronica. "Bagaimana menurutmu?" tanya gadis itu lagi pada Vince. "Enak." "Ah syukurlah." Veronica melirikku yang sedari tadi hanya duduk diam tanpa menyentuh makanan apapun. "Kau... Kau tidak makan?" "Eh, aku... aku akan makan." Aku mulai menuangkan datu persatu makanan yang tersaji di atas meja sementara mereka bertiga asik menikmati makanannya. Rasanya benar-benar sangat aneh. Aku bahkan merasa bahwa sebenarnya aku tidak berhak berada diantara mereka bertiga. Tapi mengapa aku bisa ada di situasi ini? Benar-benar sangat menyebalkan. Uhukk!! Uhukk!! Uhukk!! Aku tersedak, rasanya benar-benar sangat menyakitkan. Vince dan Leo tampak panik, mereka berdua langsung memberiku gelas yang berisi air secara bersamaan. Aku bingung harus mengambil gelas yang mana. Haruskah aku mengambil gelas yang Vince berikan atau justru mengambil gelas yang Leo berikan? Aku menepuk-nepuk dadaku lalu menuangkan sendiri air pada gelas yang ada di dekatku dan meminumnya hingga tenggorokan ku terasa lega. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Veronica. "Kau tidak suka bubuk cabe, ya?" sambungnya lagi. Aku mengangguk mengiyakan, mungkin ini penyebabnya kenapa aku sampai tersedak. "Lain kali cek lebih dulu jika hendak memakan sesuatu. Bisa saja jika kau diberi makan yang berisi racun tanpa pikir panjang kau akan memakannya. Aku yakin kau akan dengan mudah dihabisi," ucap Leo. Aku menoleh kearahnya dan menatapnya dengan tatapan bingung. Apa yang baru saja ia katakan? "Ah sudahlah, lupakan. Anna kau bisa lanjut makan, tapi jika tidak ingin juga tak apa," timpal Veronica. Lalu bagaimana dengan Vince? Kenapa pria itu tidak mengatakan apapun padaku? Ada apa dengannya? Kenapa semuanya berubah secepat ini? "Maaf, aku akan pulang sekarang. Terimakasih untuk makan malam yang lezatt ini. Kau benar-benar ahli dalam memasak, aku salut padamu." Aku bangkit dari kursi lalu menuju wastafel untuk mencuci tangan. Terlihat Leo juga ikut berdiri dan melangkahkan kaki menuju kearahku, mungkin ia juga akan mencuci tangan. Setelah selesai, aku langsung berpamitan dan pergi. Tasku masih ada di tempat dimana tadi aku duduk bersama Leo, aku langsung mengambilnya. Saat aku menoleh, rupanya Leo sudah betdiri tepat di belakangku. "Ada apa?" tanyaku padanya dengan tatapan acuh. "Kau sudah tau apa posisimu, bukan? Berhenti memikirkannya dan cobalah untuk memulai harimu sendiri tanpa adanya dia. Aku harap kau mengerti maksudku," ujar Leo. "Aku memang berniat untuk melupakan segalanya. Itulah sebabnya kau tidak perlu mengingatkan ku tentang apa yang harus aku lakukan, oke?" setelah mengatakan hal itu aku langsung pamit pergi untuk segera kembali ke rumah. Aku khawatir ayah sudah pulang, jika ia pulang lebih dulu aku yakin ia tidak akan membiarkan ku lolos tanpa bertanya darimana, dan dengan siapa aku pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD