Datang Bersama

1201 Words
Anna melenguh, suara alarm telah mengganggu tidurnya. Berkali-kali Anna mengerjapkan matanya berniat untuk mematikan alarm yang telah mengusik tidurnya itu. Anna bangun dari tidurnya, ia membuka mata secara perlahan, ternyata matahari sudah mulai menampakkan diri. Anna bangkit dan berjalan dengan sempoyongan menuju pintu kaca balkon. Ia menyibakkan tirainya dan membuka pintu kaca itu untuk membiarkan udara pagi masuk ke dalam kamarnya. Anna keluar menuju balkon untuk menghirup udara segar di pagi hari. Tak selang beberapa lama Leo juga keluar dari pintu kaca balkonnya. Tatapan mereka bertemu tapi Anna langsung memutuskan tatapan matanya. Jujur saja Leo terlihat sangat tampan ketika ia baru bangun tidur. Rambutnya masih acak-acakan dan tentunya ia tidak memakai baju sehingga d**a bidangnya terekspos jelas, menggoda mata. Anna kembali masuk dalam kamarnya, dari kejauhan Leo hanya bisa tersenyum ketika melihat Anna. Rambutnya yang panjang masih terlihat rapi bahkan ketika ia baru bangun tidur. Anna terlihat sangat lucu ketika ia memakai baju tidurnya yang berwarna merah muda itu, Leo mendadak terpesona. Anna masuk ke dalam kamar mandinya untuk membersihkan diri. Hari ini Anna sudah menyediakan pakaian yang akan ia kenakan untuk ke kampus. Ia memakai kemeja berwarna cream dan rok yang panjangnya selutut berwarna hitam. Hari ini Anna menguraikan rambutnya, ia hanya memberi jedai cantik untuk menahan sebagian rambutnya. Anna melirik pantulan tubuhnya di cermin, ia tampak sangat manis dengan merah pipi alami dan bibirnya yang berwarna pink itu. Usai bersiap-siap, Anna menutup kembali pintu kaca yang menuju balkon itu lalu mengambil tas, buku dan ponselnya dan keluar dari kamarnya. Anna menuruni anak tangga dengan santai, terlihat ayahnya seperti biasa tengah duduk di kursi sambil asik membaca koran. Pemandangan ini yang setiap hari Anna lihat. Anna berlalu, ia meletakkan barang-barangnya ke meja lalu menuju dapur untuk membuat s**u. Setelah membuat s**u Anna memanggang roti untuk membuat sandwich, tiba-tiba James muncul dengan pakaian lengkapnya. "Ayah?" "Ayah harus pergi sekarang, telah terjadi sesuatu. Kau hati-hatilah saat hendak berangkat ke kampus, I love you, honey." Setelah mengatakan itu James segera bergegas pergi, Anna bahkan belum sempat menjawab ucapan James. "I love you more, Dad," lirih Anna. Ia kembali melanjutkan kegiatannya yakni membuat sandwich. Setelah selesai sarapan, Anna mulai merapikan barang-barangnya untuk berangkat ke kampus. Hari ini, Anna berangkat tentu dengan menggunakan Taxi. Ia harus keluar dari kompleks terlebih dahulu untuk menunggu Taxi, ya sedikit melelahkan. Sebelum berangkat, Anna terlebih dahulu memastikan kalau pagarnya telah terkunci dengan benar. Dari kejauhan juga terlihat kalau Leo dan Vincent hendak berangkat ke kampus, Vincent melihat Anna berjalan seorang diri, ia berniat untuk mengantarnya ke kampus tapi ia yakin Anna pasti akan menolak. Sedangkan Leo, pria itu lebih dulu melajukan motornya dan berhenti tepat di samping Anna. "Pagi nona James," sapa Leo sambil tersenyum kearah Anna. Anna menatap Leo dengan tatapan jijik. "Apa?" ketus Anna. "Kemana ayahmu? Aku melihatnya berangkat pagi-pagi sekali tadi," ujar Leo. Anna menoleh dengan berkacak pinggang, "Mengapa kau ingin tau segala hal tentang ayahku, huh?" "Karena ayahmu lucu," jawab Leo sekenanya. "Tutup mulutmu! Berhentilah menggangguku," sarkas Anna. Leo tersenyum, "Siapa yang mengganggumu? Aku sama sekali tidak pernah merasa telah mengganggu dirimu," timpal Leo. Ia mulai menunjukkan sikap menyebalkannya. "Ck, pergilah dari sini. Aku muak melihat wajahmu!" Anna kembali berbalik lalu melanjutkan perjalanannya tapi Leo tetap mengikutinya dari belakang. "Mau naik?" tawar Leo. "Mengapa aku harus naik?" "Jika kau tidak naik, kau bisa terlambat masuk kampus. Bagaimana?" "Aku tidak peduli!" balas Anna. Vincent melihat Anna dari kejauhan. Leo akan terus mengganggunya jika Vincent tidak turun tangan. Ia menyalakan mesin motornya lalu melajukannya dan berhenti tepat didepan Leo. "Anna, ayo naik. Kita berangkat bersama," ajak Vincent. Anna menoleh kearah Vincent, sungguh situasi ini membuat Anna merasa tidak enak, ia merasa tidak nyaman. Anna perlahan berjalan menuju Leo, "Aku akan ikut denganmu." Leo melirik Vincent sekilas, ia lalu menyalakan kembali motornya dan ketika Anna sudah duduk di jok motornya, Leo langsung melajukan motornya meninggalkan Vincent yang masih diam membisu. Diperjalanan mereka hanya sama-sama diam. Tidak ada yang berani membuka suara. Jujur saja Anna merasa takut ketika dibonceng Leo, ia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, berbeda dengan Vincent. Tapi Anna tidak ingin menegur Leo, ia membiarkannya. Sedangkan Leo, ia bahkan tidak ingat kalau saat ini tengah membonceng seorang gadis. "Mengapa kau tiba-tiba setuju ikut denganku?" tanya Leo. "Entahlah." Leo melirik wajah Anna dari balik kaca spion motornya, Anna terlihat kesusahan menyeimbangkan diri karena Leo terlalu kencang melajukan motornya. "Mengapa ia tidak mengatakan agar aku lebih perlahan membawa motornya?" ucap Leo membatin. "Dasar gadis payah!" umpat Leo. Anna bisa mendengarnya, ia tentu tau siapa yang ia maksud payah dan tentu itu adalah dirinya. *** Mereka telah tiba di parkiran motor, Vincent juga tampak menyusul dari arah belakang. Seluruh pasang mata tertuju pada Anna dan Leo. Anna turun dari motor Leo dengan kesusahan karena memakai rok, tapi Leo dengan sigap mengulurkan tanganya untuk membantu Anna turun dari motor dan tanpa pikir panjang Anna menerimanya. Ada pasang mata yang menyaksikan itu membuatnya merasa kesal dan marah, siapa lagi kalau bukan Irene. Ia tidak senang melihat Anna dekat dengan Leo. Ada perasaan tidak suka dan cemburu di hatinya. Bagaimana tidak, ia bahkan belum pernah naik ke motor Leo tapi Anna sudah lebih dulu naik. Padahal mereka baru saja bertemu, sungguh menyebalkan. "Terimakasih," ucap Anna. Ia hendak melangkah pergi tapi Leo menarik tasnya lebih dulu. "Kulitmu lumayan mulus juga," goda Leo, ia tersenyum simpul. Anna menatap Leo dengan tatapan tajam, "Dasar m***m!!" umpat Anna. Ia menarik tasnya dan berjalan dengan langkah terburu-buru. Leo tersenyum penuh arti. Ia telah berhasil menggoda Anna. Anna segera menghampiri David yang sedari tadi memperhatikannya dari kejauhan. "Hai, Vid?" sapa Anna dengan nafas terengah-engah. "Kenapa kau bisa datang bersama Leo? Bagaimana mungkin? Apa kalian dekat?" "Tidak. Tadi kebetulan dia lewat dan aku kesulitan mendapatkan taxi jadi aku terpaksa ikut dengannya daripada harus terlambat masuk kampus," jelas Anna. David mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kampus, "Apa kau tau? Semua orang melihat interaksi kalian? Tak jarang ada yang mengatakan kau perempuan yang tidak baik, Anna. Aku khawatir mereka akan menyebarkan gosip yang tidak baik tentangmu," ujar David. Anna menoleh ke kanan dan ke kiri dan benar saja, semua orang menatapnya dengan tatapan yang aneh. "Tak apa, tidak usah terlalu dipikirkan. Lagipula aku tidak seperti apa yang mereka pikirkan." Anna tersenyum simpul, ia menarik tangan David agar bergegas pergi. Anna benar-benar merasa tidak nyaman ditatap oleh seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang ada di kampus, tapi Anna berusaha untuk bersikap cuek. Lagipula apa yang orang pikirkan tentangnya itu tidak benar. Disisi lain, Leo baru saja membuka helmnya. Ia berniat turun dari motornya tapi Irene tiba-tiba muncul dihadapannya dengan tatapan kesal. "Ada apa?" tanya Leo. "Kau yang ada apa? Mengapa tiba-tiba kau dekat dengan putri James? Apa jangan-jangan kau menyukainya? Katakan padaku!!!" desak Irene. Ia menatap Leo dengan tatapan tajam. Leo tersenyum, "Lalu apa urusannya denganmu? Mengapa aku harus memberitahu padamu tentang dengan gadis siapa yang dekat denganku, memangnya urusan denganmu apa?" Irene diam, ia tidak bisa menjawab. Ia sama sekali tidak memiliki hubungan yang spesial dengan Leo, itu berarti dia tidak berhak untuk marah. Tapi ini soal perasaan, dan Irene tidak mungkin akan membiarkan orang lain dekat dengan pria yang ia sukai. Ia tidak akan rela. Irene berbalik, ia pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. Batinnya terluka, sekarang objeknya adalah Anna, putri James.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD