Hari ini Leo meminta Joshua untuk datang ke rumah Vincent. Mereka akan membahas mengenai beberapa nomor yang terus menghubunginya.
Joshua datang dengan membawa komputernya. Jujur saja, ia belum menemukan siapa pemilik dari nomor-nomor itu. Nomor yang menelepon Leo adalah nomor yang tidak terdaftar, sehingga sangat sulit untuk di hubungi.
Joshu datang, rupanya Leo dan Vincent sudah menunggu dirinya tiba.
"Mengapa kau memintaku untuk memberitahu mu disini?" tanya Joshua.
"Hanya tempat ini yang paling aman. Aku tidak ingin karena masalah ini anak-anak black catcher menjadi kesal," ujar Leo.
"Kau sudah menemukannya bukan?" Kini Vincent yang bicara, ia keluar dengan membawa gelas dan minuman beralkohol.
"Iya!" seru Joshua. Ia mulai menyalakan laptop yang ia bawa, laptop ini yang berisi apa yang ingin Leo ketahui.
"Perlihatkan padaku," timpal Leo. Ia mendekat kearah Joshua.
"Aku telah melacak salah satu nomor dari mereka dan pelakunya benar adalah anak-anak red bulls. Entah mereka mendapat nomormu dari mana tapi mereka telah menyusun rencana ini dengan sangat matang. Aku sudah mencoba untuk melacak keberadaan mereka tapi terputus sehingga cuman informasi ini yang bisa aku dapatkan," papar Joshua.
"Mereka lagi lagi berulah," ujar Leo, ia merasa sangat kesal sekarang.
"Berarti benar dugaan kita. Ada salah satu mata-mata red bulls yang mereka utus untuk mendapatkan informasi. Tapi sayangnya kita belum tau siapa orang itu," timpal Vincent.
"Aku tidak akan mengampuni mereka, ini tidak benar!"
"Tenanglah Leo. Jika mereka pintar menyusun rencana, kita juga harus pintar. Jangan sampai kita kalah. Jika kita gegabah kita tidak akan mendapatkan apa yang ingin kita capai, jadi tetap tenang." Vincent selalu bisa membuat Leo merasa jauh lebih tenang. Ia selalu bisa membuat Leo bisa mengontrol emosinya.
"Benar. Kita harus menyusun rencana yang benar-benar matang. Kita tidak bisa jalan dengan rencana yang tidak ada, mereka bisa mengambil keuntungan dari itu. Jadi kita harus pikirkan cara yang tepat untuk membuat mereka bertekuk lutut," sahut Joshua.
"Baiklah,"
Leo mulai menyadari bahwa semakin ia berusaha untuk menjatuhkan red bulls, mereka selalu punya cara untuk berhasil lolos. Mereka selalu punya cara untuk membuat black catcher merasa terguncang oleh rencana-rencana yang mereka buat.
Leo harus segera mencari tahu siapa orang yang telah menjadi mata-mata red bulls di gangnya. Jika hal ini terus berlanjut red bulls akan dengan mudah mengalahkan black catcher dan Leo tidak mau jika hal ini sampai terjadi.
Tapi yang masih menjadi pertanyaan dalam benak Leo, bagaimana caranya agar bisa menemukan siapa mata-mata yang diutus red bulls? Leo benar-benar bingung. Bagaimana bisa mereka menemukan pelakunya? Bagaimana caranya?
Joshua akhirnya pamit, ia pamit untuk pulang karena harus menyelesaikan beberapa hal dan Leo mengizinkannya.
Sementara itu, Vincent tengah berusaha untuk memastikan bahwa pelakunya bukan Joshua. Ia berpikir demikian karena mereka harus menemukan siapa pelakunya. Tidak ada yang bisa ia percayai kini kecuali Leo.
"Kita tidak bisa langsung percaya dengan seseorang. Kita harus mencari cara agar bisa menemukan siapa pelakunya yang sebenarnya," ujar Vincent.
"Kau benar. Siapapun saat ini tidak bisa kita percayai. Siapa saja bisa menjadi musuh," timpal Leo.
"Mulai saat ini kita harus berhati-hati. Ini bukan masalah yang biasa, ini adalah masalah yang serius. Kita tidak bisa main-main,"
"Baiklah Vince. Kali ini aku akan lebih berhati-hati."
"Baik," ujar Vincent.
Terkadang, Leo akan tinggal dirumah Vincent. Rumah ini adalah rumah yang dibeli Vincent dengan uangnya sendiri. Leo sendiri bingung darimana ia bisa mendapatkan uang, tapi Leo tidak banyak bertanya. Ia mempercayai Vincent, lagipula apa pentingnya soal uang itu?
Rumah ini terdiri dari 4 kamar. Dua kamar di oantai atas dan dua kamar di lantai bawah. Kamar yang berada di lantai bawah tidak terisi, dan kamar yang ada di lantai dua itu kamar milik Leo dan tentunya Vince.
Terkadang Leo tinggal disini bersama Vince ketika ia sedang tidak ingin diganggu. Mereka kadang menghabiskan waktu bersama dengan minum atau bermain vidio game, layaknya anak kecil saja.
Leo tengah asik menyesap rokoknya. Mereka berdua tengah menonton Tv drama action dengan minuman yang masih berada di meja.
"Tadi aku melihatmu dan Anna bertemu, apa yang kalian bicarakan? Apa ada masalah?" tanya Vincent, Leo menoleh kearahnya. Ternyata sahabatnya juga lumayan kepo.
"Tidak ada masalah. Aku hanya kebetulan lewat dan sedang melihat dia seperti orang yang sedang kebingungan. Tentu saja ia merasa bingung, dia adalah gadis payah," jawab Leo sesukanya. Ia berbohong, tentu ia tidak ingin Vincent tau alasannya bertemu dengan Anna tadi.
Vincent terdiam, Leo selalu seperti ini. "Jangan membuatnya sampai terlibat masalah karenamu. Dan jangan sampai kau melukainya, dia adalah gadis yang baik dan aku tau itu," ujar Vincent memperingatkan.
"Aku tau. Tenang saja, aku bisa mengontrol diriku sendiri. Lagipula aku tidak akan mengusik orang lain sebelum dia yang mengusik ku lebih dulu," jawab Leo. Ia mematikan rokoknya lalu berdiri berniat untuk ke kamar.
"Aku akan ke kamarku untuk tidur, kau juga jangan lupa untuk beristirahat." Leo melangkah pergi. Jujur saja ia belum mengantuk, tapi Leo terpaksa ke kamar karena tidak ingin berlama-lama bicara dengan Vincent yang terus-menerus membahas soal Anna.
Vincent meminta agar Leo tidak menyakiti Anna tapi ternyata yang telah menyakiti perasaannya lebih dulu adalah dirinya sendiri.
Leo membuka pintu kamarnya. Perhatiannya langsung tertuju pada area balkon. Langit malam terlihat sangat indah dengan bintang-bintang yang bersinar terang. Leo membuka pintu balkonnya lalu keluar untuk menikmati angin malam.
Ada satu lampu yang masih menyala, lampu yang terdapat di kamar Anna. Mungkin gadis itu belum bisa tidur. Leo menatap dari kejauhan kamar Anna, ia hanya bisa melihat lampunya yang menyala saja.
"Apa yang dilakukan gadis itu sampai belum tidur selarut ini?" ucap Leo membatin. Ia tersenyum simpul, terlintas di benaknya ketika ia mengangkat Anna yang terlelap di sofa dan membawanya ke kamar. Leo masih ingat setiap detail sudut kamar Anna yang terlihat rapi dengan dominan warna pastel. Leo ingat seberapa ringan tubuh Anna ketika ia mengangkatnya. Leo ingat seberapa harum rambut panjang Anna yang berwarna hitam pekat itu. Leo masih ingat setiap detail peristiwa itu.
"Ah sial, mengapa aku memikirkan gadis itu? Benar-benar aneh." Leo mengusap wajahnya, ia memilih untuk duduk di kursi sambil menikmati langit dan angin malam yang indah. Leo bisa merasa tenang ketika menikmati angin malam yang menerpa kulit tubuhnya yang dingin itu.
Disisi lain, Anna terbangun. Ia tidak bisa tidur sekarang. Anna menyalakan lampu, ia kemudian berjalan menuju meja belajarnya. Anna memutuskan untuk menyalakan laptopnya lalu menonton serial drama di Netflix tapi sayang sekali Anna merasa bosan. Ia berjalan menuju pintu kaca balkonnya lalu menyibakkan tirainya sedikit. Dari kejauhan Anna melihat Leo tengah duduk di balkon.
"Apa yang pria itu lakukan disana malam-malam begini? Apa dia tidak merasa dingin? Dasar aneh."
Anna bisa melihat bagaimana Leo begitu menikmati semilir angin malam.
Anna melihat ke sisi sebelahnya, ia mencari keberadaan Vincent. Anna ingin sekali melihat Vincent tapi kenapa yang terlihat hanya ada Leo saja?