Leo benar-benar tidak bisa menahan amarahnya lagi. Malam ini ia akan melakukan p*********n untuk membalas perbuatan anak-anak Red Bulls yang telah menghabisi nyawa pria yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan gang Black Catcher. Mereka semua telah keterlaluan.
Leo meminta kepada semua anggotanya untuk mempersiapkan diri, malam ini p*********n harus tetap terjadi.
"Kau sudah menyiapkan segalanya?" tanya Leo pada Christ.
"Iya, yang lainnya pun sudah siap!!"
Leo mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan mencari dimana keberadaan sahabatnya itu. Ia tidak terlihat lagi, entah kemana.
"Irene, dimana Vince?"
"Dia lagi-lagi belum datang, Leo. Dia juga bahkan tidak mengangkat teleponnya," ujar Irene. Irene adalah salah satu gadis yang bisa Leo percaya. Yah walaupun demikian, Leo sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada Irene. Bahkan sekeras apapun Irene mencoba menarik perhatian Leo, Leo tetap tidak bisa tertarik. Bagi Leo, Irene hanyalah anggota gangnya saja dan selamanya akan seperti itu.
"Kemana Vince? Mengapa ia selalu saja menghilang ketika sedang dalam situasi seperti ini," keluh Jonson, salah satu anggota gang Black Catcher.
"Sembari menunggu Vince datang kalian mulailah persiapan. Aku akan menunggu di dalam, ayoo semangat!" perintah Leo. Kali ini Leo yang akan mencoba menghubungi Vince.
Disisi lain, Vince tengah berada di dalam mobilnya. Ia sedari tadi hanya duduk diam di dalam mobil, dan tidak berniat melakukan sesuatu. Sejak tadi ponselnya terus berdering tapi Vince tetap tidak peduli. Saat ini pikirannya sedang kalut, ia hanya butuh menyendiri saja.
Ponsel Vince terus berdering, disana tertera nama Leo tapi Vince memilih untuk mengabaikannya. Ia saat ini benar-benar tidak ingin diganggu oleh siapapun sekalipun itu Leo, sahabatnya.
Tingg!!
Sebuah pesan masuk berasal dari Leo.
[Cepat kembali, kami semua menunggu dirimu. Ada hal penting yang ingin ku bahas denganmu." tulis Leo. Vince hanya membaca pesan yang dikirim oleh Leo lalu kembali meletakkan ponselnya di dashboard mobil, ia memilih untuk memejamkan mata agar bisa merasa jauh lebih tenang.
***
Suara hiruk-pikuk kendaraan menjadi candu bagi Anna. Hari ini udara jauh lebih segar dari hari-hari biasanya, Anna menghirup udara pagi dari jendela kamarnya membiarkan angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya yang mungil dan mulus itu.
Dari kejauhan Anna melihat seorang pria yang turun dari mobil hitam terparkir di halaman rumah tetangganya yang sudah kosong berhari-hari. Anna yakin pria itu adalah pemilik rumah yang cukup besar itu.
Seorang pria keluar, ia memakai celana jeans dan Hoodie berwarna hitam, penampilannya sangat menarik. Pria itu seperti dadar tengah diawasi oleh seseorang, ia mengangkat kepalanya mencari siapa yang telah memperhatikan dirinya. Ia sadar, ada seorang gadis yang tengah mengamatinya. Gadis yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Apakah dia.... Oh ya Tuhan!! Dia adalah Vincent!" teriak Anna dengan panik. Ia langsung menutup pintu jendela kamarnya dengan kencang. Bagaimana bisa tetangga Anna adalah Vincent? Ini sangat-sangat tidak mungkin. Apa ini hanya sebuah kebetulan saja? Atau ini merupakan takdir?
Anna mengintip dari balik ventilasi udara yang berada di kamarnya, ia melihat Vincent yang berjalan menuju pintu masuk rumahnya. Ini benar-benar diluar dugaan Anna.
Saat Vincent sudah tidak terlihat lagi Anna baru menyadari tingkahnya. Ia benar-benar seperti orang yang tertangkap basah tengah melakukan sesuatu hal buruk. Mengapa ia harus pura-pura bersembunyi?
***
Anna menelusuri koridor dengan perasaan yang senang, bagaimana tidak ia baru saja mengetahui bahwa Vincent tinggal di samping rumahnya, Anna benar-benar tidak mempercayainya. Sangking bahagianya Anna bahkan tidak melihat orang yang juga jalan berlawanan arah dengannya.
Bruk!!!
Anna terhempas jatuh ke lantai koridor. Anna benar-benar sudah kehilangan fokusnya. Ia mengumpulkan buku-bukunya yang terjatuh di lantai, saat hendak bangkit Anna terkejut dengan sosok pria yang ada di hadapannya sekarang.
"K-kau?"
Vincent mengulurkan tangannya untuk membantu Anna berdiri, "Maaf untuk itu, aku terburu-buru jadi tidak sengaja menabrakmu," ucap Vincent.
Anna menggeleng, "Tidak masalah! Lagi pula aku baik-baik saja."
Vincent memperhatikan gerak-gerik Anna, "Apa kah kita pernah bertemu sebelumnya?" Vincent memperhatikan wajah Anna dengan serius.
"Ah iya, aku ingat. Kau bukannya gadis yang tinggal tepat di samping rumahku bukan?" sambung Vincent. Anna benar-benar tidak menyangka bahwa Vincent tadi memperhatikan dirinya.
"I-iya, itu aku." Anna terlihat sangat gugup. Vincent benar-benar pria yang manis, ia memiliki sikap yang jauh berbeda dari yang lainnya. Gadis mana yang tidak tertarik dengan pesona Vincent.
"Oh baiklah kalau begitu, aku pergi dulu," pamitnya pada Anna. Anna hanya mengangguk mengiyakan.
Saat beberapa langkah menjauh, Vincent berbalik menatap Anna, ia bahkan tersenyum—senyum yang sangat tipis.
"Kau putri James bukan?"
Deg!!
Pertanyaan itu mampu membungkam mulut Anna. Ia ingat kalau ayahnya dan gang black catcher merupakan musuh. Apa yang harus ia katakan sekarang?
"I-iya, aku adalah putrinya."
Vincent diam memperhatikan Anna, ia larut dalam pikirannya sendiri. Sedangkan Anna? Gadis itu hanya berusaha untuk tetap bersikap tenang sekarang.
Setelah terdiam cukup lama, Vincent berbalik kembali lalu melangkah pergi. Anna hanya bisa memperhatikan punggung Vincent yang semakin lama semakin menjauh dari pandangannya.
"Ada apa denganku? Mengapa aku merasa kecewa ketika Vincent pergi tadi? Ahh!! Perasaan apa ini? Memalukan!" keluh Anna pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba saat ia hendak berbalik badan ternyata sudah ada David yang berdiri tepat dibelakangnya sembari tersenyum.
"Oh, Ya Tuhan!!" Anna mengelus dadanya, lagi dan lagi David membuatnya terkejut. Ia langsung memukul d**a bidang David dengan pelan, "Kau selalu saja membuatku kaget. Bagaimana jika aku mempunyai penyakit lemah jantung, huh?" ucap Anna dengan kesal. Sedangkan David? Pria itu hanya tertawa melihat ekspresi lucu Anna.
"Jangan menertawaiku!" ketus Anna. Ia menunjukkan wajah marahnya pada David.
"Yang benar saja, ah iya. Apa yang sedang kau lakukan disini? Berdiri seperti orang yang baru saja bertemu hantu," tanya David.
"Aku... Aku sedang mencari udara segar." Anna tidak ingin David sampai tau kalau ia tadi sempat bicara dengan Vincent, ya walaupun hanya sebentar.
David mengernyitkan dahinya, ia kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru koridor yang panjang, "Kau mencari udara segar di lorong koridor yang tertutup dan pengap ini? Yang benar saja, Anna."
"Memangnya ada larangan mencari udara di lorong koridor tertutup?" Anna balik bertanya.
"Tapi logika saja, udara segar yang mana yang kau maksud? Udaranya sama sekali tidak segar malahan membuat sesak!"
Anna terdiam, ia tidak akan selesai jika berdebat dengan David, ia memilih menarik tangan David lalu berjalan menuju kelas. Itu jauh lebih baik, bukan?
***
Disisi lain, Leo tengah menunggu Vincent datang menemuinya. Sejak semalam Vincent tidak terlihat, ponselnya pun tidak pernah ia angkat. Leo benar-benar frustasi karena ulah Vincent, p*********n semalam pun tidak maksimal karena tidak ada Vincent yang ikut mendampingi.
"Apa kau menungguku?" suara Vincent sudah terdengar, Leo bangkit dari kursinya menunggu Vincent berada di hadapannya.
"Menurutmu?" Leo kini menantap Vincent dengan tajam, "Apa yang kau lakukan Vince? Mengapa semalam kau tidak mengangkat teleponmu, huh? Apa kau tidak melihat puluhan panggilan dariku?!" Leo berteriak pada Vincent, ia benar-benar sangat kesal.
"Aku sedang tidak ingin diganggu, itulah mengapa aku tidak mengangkat telepon dari kalian," balas Vincent, ia berusaha untuk tetap tenang.
"Kau mengabaikan apa yang sudah menjadi tanggung jawabmu. Ada masalah apa yang tidak aku ketahui, huh? Katakan padaku!" desak Leo.
"Apa semua hal yang menyangkut kehidupanku harus kau ketahui juga, huh?!" bentak Vincent. Ini pertama kalinya ia meneriaki Leo hanya karena perkara sepele.
Vincent menghela nafas panjang, berusaha untuk menenangkan diri. Ia mengusap wajahnya, ia marah untuk hal kecil, ini bukan dirinya.
"Maafkan aku,"
Vincent berbalik lalu pergi meninggalkan Leo yang hanya mematung. Leo mulai menyadari bahwa ada hal yang telah mengganggu pikiran Vincent hingga ia seperti ini, tapi Leo tidak tau apa yang sedang mengganggu pikirin Vincent, ia jiga tidak mengerti dengan apa yang terjadi.