Kepercayaan

1119 Words
Tut tut tut Sedari tadi Anna mencoba untuk menghubungi ayahnya, tapi lagi dan lagi ponselnya tidak aktif. Harusnya ayahnya sudah menjemput dirinya dari sejam yang lalu, tapi sekarang ponselnya justru tidak aktif. Anna menghentikan aksinya untuk terus menelepon ayahnya, ia memilih untuk mencari taxi saja. Hari sudah sangat sore dan Anna masih berada di depan kampus sambil memeluk buku tebalnya itu. Beep beep beep Suara klakson mobil membuat Anna terkejut. Ia menoleh, terlihat Vincent tengah berada di dalam mobil, mobil yang telah menklakson dirinya tadi. "Kau menunggu siapa?" tanya Vincent. "Ayahku, tapi ponselnya sedari tadi tidak aktif." Vincent terlihat memperhatikan ke sekelilingnya, lalu kembali menatap Anna, "Mau pulang bersamaku? Ah itupun jika kau setuju, rumahku dekat jadi..." "Em, apa kau tidak keberatan jika aky ikut denganmu?" "Mengapa harus keberatan? Kita adalah tetangga bukan? Ayo, masuklah." Vincent keluar dari mobil lalu membukakan pintu mobil itu untuk Anna. Vincent benar-benar pria yang sangat manis. "Terimakasih." Anna masuk kedalam mobil Vincent, setelah itu Vincent menutup pintu mobil lalu kembali ke kursi kemudi. Selama diperjalanan, tidak banyak pembicaraan yang terjadi antara mereka berdua. Vincent banyak diam, begitu pun Anna. Anna juga bahkan takut memulai pembicaraan jadi ia memilih untuk diam. "Aku terkejut setelah mengetahui kalau tuan James memiliki seorang putri," ujar Vincent, Anna menoleh kearah Vincent untuk mendengarkan apa yang selanjutnya akan ia katakan. "Aku bahkan berfikir ayahmu tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita," sambung Vincent lagi. Anna hanya bisa tersenyum saja. "Tentu kau tidak tau akan hal itu, lagipula aku juga baru saja bertemu ayahku selama beberapa tahun terpisah dan... ini merupakan kali pertamaku datang ke kota ini, kota kelahiran ayahku," jelas Anna pada Vincent. "Itu berarti kau dan ayahmu sudah lama berpisah?" "Iya, orang tuaku berpisah sejak aku masih kecil dan ibuku yang mengambil hak asuhku ketika keputusan sidang perceraian waktu itu." Vincent melirik Anna sekilas, "Kau bahkan masih ingat setiap detail yang terjadi pada kehidupan mu." "Iya, lalu bagaimana deng—" Anna terdiam, ia tidak jadi melanjutkan ucapannya. Seharusnya ia tidak menanyakan hal menyangkut kehidupan pribadi orang lain, bukan? "Denganku? Well, aku tidak mempunyai orang tua dan aku juga tidak membutuhkan kehadirannya," ucapan Vincent sukses membuat Anna terpaku, ia terdiam dan larut dalam pikirannya sendiri. "Bagaimana bisa Vincent mau menceritakan hal yang menyangkut hidupnya padaku? Padahal kami baru saja bertemu," ucap Anna membatin. "Ada apa? Mengapa kau diam?" Vincent menatap Anna dengan bingung, "Kau... kau tidak menyangka aku akan mengatakan hal itu?" Anna menggeleng, ia benar-benar heran dengan sikap terbuka Vincent padanya. "Kau pasti berfikir mengapa aku mengatakan hal yang menyangkut kehidupan ku padamu padahal kita baru saja saling mengenal, benar bukan? Bagiku, ketika seseorang sudah berani menceritakan kisah hidupnya pada kita itu tandanya orang itu percaya pada kita, dan kau baru saja menceritakan hal mengenai kehidupan mu padaku, dan sudah sepantasnya aku juga memberikan mu kepercayaan sama seperti yang kau berikan padaku," ujar Vincent, ia lalu tersenyum kemudian kembali fokus menyetir. "K-kau mempercayai ku?" "Ya! Kenapa tidak?" seru Vincent. Anna tersenyum, ia sampai tersipu malu. "Apa kau mempercayaiku juga?" kini Vincent yang bertanya pada Anna. "Tentu, aku percaya padamu." "Baiklah kalau begitu. Ah iya, aku sampai lupa menanyakan nama mu. Aku bahkan bingung harus memanggil mu dengan sebutan apa." Ah iya, Anna sampai lupa memperkenalkan dirinya pada Vincent,"Oh iya, namaku Anna Fradella. Orang-orang memanggilku dengan sebutan Anna," "Nama yang indah, sangat pantas untukmu," puji Vincent. Tak terasa mobil Vincent telah tiba di depan gerbang Anna, mereka bahkan tidak menyadari kalau sudah tiba. "Kita sudah sampai," ucap Anna. "Iya, aku bahkan tidak sadar bahwa kita sudah sampai." Anna tersenyum, "Baiklah aku akan masuk, terimakasih untuk tumpanganmu, Vince." Saat Anna memanggil Vincent dengan sebutan 'Vince' hal itu mengingatkan satu hal padanya, yang sampai saat ini tidak bisa ia lupakan. Sebutan Vince itu hanya ditujukan oleh orang-orang terdekatnya, Tapi Anna? Ia memanggil Vincent dengan sebutan itu. "Sama-sama. Ah iya, aku sampai lupa mengatakan hal ini padamu. Kau pasti tau bahwa hubungan kami dan ayahmu itu tidak baik, aku khawatir jika ayahmu tau kau pulang bersamaku pasti dia tidak akan suka, jadi lebih baik kau merahasiakan ini darinya, sampai situasi ini menjadi baik. Aku harap kau mengerti dengan apa yang aku katakan barusan," ujar Vincent, ia tidak ingin ada kesalahpahaman lagi antara gang black catcher dengan anggota kepolisian. "Tentu saja, baiklah aku akan masuk. Sampai jumpa," *** Jam menunjukkan pukul 8 malam, Anna menuruni anak tangga sembari membawa gelas yang berisi s**u. Ia melihat ayahnya tengah menonton serial TV kesukaannya. "Malam ayah," sapa Anna. Ia duduk tepat di samping ayahnya. "Kau belum tidur?" "Belum." James teringat akan satu hal, ia kini menoleh kesamping lalu menatap putrinya dengan raut wajah serius, "Ayah lupa menjemputmu tadi sore, tapi saat ayah ke kampus kay sudah tidak ada disana. Jadi, kau pulang dengan siapa?" Deg!! Jantung Anna bergerak dengan cepat, ia benar-benar bingung harus menjawab apa pertanyaan ayahnya, ia juga tidak ingin ayahnya sampai tahu bahwa ia pulang bersama Vincent. "Ah itu, aku... aku pulang naik taxi. Aku terus menghubungi ayah tapi ponsel ayah tidak aktif, itulah mengapa aku memilih untuk pulang sendiri, tapi aku lupa untuk mengabari ayah, maaf ya ayah." Anna mencari alasan yang sangat masuk akal, ia juga tidak mau kalau sampai mengatakan pulang bersama teman karena ia tau ayahnya pasti akan menyelidiki akan hal ini. "Benarkah? Ternyata kau sudah ingat jalan untuk pulang, ayah bahkan khawatir kau tersesat jika tidak menjemputmu." "Ayolah ayah, aku tinggal di kota ini sudah lumayan lama dan mana mungkin aku tidak bisa mengingat jalan rumahku sendiri, jadi ayah tidak perlu khawatir lagi. Bahkan ketika ayah tidak bisa menjemputku, aku akan pulang sendiri." James hanya mengangguk mengiyakan, ia kembali memfokuskan perhatiannya pada televisi, sembari menyeruput kopi. "Ayah minum kopi?" Anna baru menyadari bahwa ayahnya sedang menikmati secangkir kopi. "Mengapa?" "Ish, ayah tidak boleh meminum kopi ketika malam hari, ayah seharusnya minum s**u agar besok bisa bangun lebih segar. Pokoknya Anna tidak ingin melihat ayah minum kopi lagi ketika malam hari, mengerti?" "Baiklah, kau terlalu banyak mengatur ayah." "Ini demi kesehatan ayah, aku tidak ingin ayah minum kopi lagi, kalau begitu aku akan kembali ke kamar. Selamat malam." Anna mengecup pipi ayahnya kemudian kembali ke kamarnya. Anna akan mengecek, apakah Vincent ada dirumahnya atau tidak. Saat tiba di kamarnya Anna langsung menuju je jendela, ia membuka jendela kamarnya membiarkan angin malam menerpa kulitnya yang mulus itu. Terlihat lampu rumah Vincent menyala, ia tau kalau Vincent pasti ada dirumah. "Apa yang pria itu lakukan sekarang yah?" ucap Anna membatin. Tidak lama terlihat lampu sorot mulai mendekat. Ia melihat seorang pria data g dengan mengendarai motor. Ia melepaskan helmnya sebelum turun dari motornya lalu melirik kearah Anna. "Pria itu???" Anna langsung berlari masuk kedalam kamarnya dan menutup jendela kamarnya dengan rapat-rapat. "Leo selalu saja mengganggu, dasar pria menyebalkan!" keluh Anna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD