EJEKAN - BC

1120 Words
Leo datang dan langsung membanting pintu Vincent. Ia terlihat sedang marah—lagi. "Apa yang membawamu kesini?" Vincent sepertinya sudah tau Leo akan datang ke rumahnya. "Mengapa? Apa aku tidak boleh menginjakkan kaki dirumahmu lagi?" cecar Leo. Vincent bangkit dari kursinya lalu berjalan mendekati Leo, "Katakan ada apa? Kau terlihat sedang kesal." Vincent bisa membacanya dari raut wajah Leo, wajahnya memerah, manik matanya melebar. "Apa rencanamu? Mengapa tiba-tiba kau mendekati putri James? Apa kau telah kehilangan akal? Bagaimana bisa kau berpaling dari..." "Dari siapa? Siapa yang ingin kau katakan? Aku dan Anna hanya sebatas teman dan menurut ku dia adalah gadis yang baik dan ceria, lalu apa yang masalahnya?" Vincent sepertinya mengerti dengan apa yang Leo maksud. "Aku bahkan tidak tertarik ketika mendengar namanya di sebutkan." Leo berjalan menuju sofa kemudian ia langsung merebahkan tubuhnya. Ia terlihat sangat lelah. "Itulah yang menjadi penyebabnya. Aku bahkan sempat berfikir kau tidak normal." Vincent berjalan menuju mini barnya untuk mengambil botoh yang berisi vodka dan wine. "Apa aku mengatakan hal yang benar? Apa kau sungguh tidak normal?" sambung Vincent. "Tutup mulutmu!" sarkas Leo. Seperti inilah mereka, saling mengejek. "Kurasa aku benar, tidak ada yang salah dengan apa yang kukatakan." Vincent datang dengan membawa gelas dan botol yang berisi alkohol. "Irene saja, gadis berambut pirang yang di sukai oleh semua pria tidak bisa menarik perhatianmu sedikit pun, kurasa ada yang aneh denganmu. Tapi, Anna gadis yang cukup cantik. Ia tidak memakai riasan tapi tetap manis, bukankah apa yang aku katakan itu benar?" "Ah yang benar saja! Ada apa denganmu Vince? Mengapa tiba-tiba membicarakan sesuatu yang tidak penting? Membuang-buang waktu saja!" Leo bangkit lalu menuangkan wine kedalam gelasnya, lalu menenggaknya hingga habis. "Dugaan ku memang benar." Saat tengah asik meminum alkohol, Leo berfikir untuk menanyakan sesuatu hal pada Vincent, sesuatu hal yang bisa dengan cepat memancing emosi yang ada pada dirinya. "Apa gadis itu tidak pernah menghubungimu lagi?" tanya Leo pada Vincent. "Siapa yang kau maksud?" "Veronica." Deg!! Veronica, nama yang sampai saat ini menjadi alasan mengapa Vincent suka menyendiri, nama yang menjadi alasan untuk duka Vincent saat ini. Entah apa yang Leo fikirkan saat ini sampai menyebut nama orang yang telah membuat sahabatnya uring-uringan. "Apa maksudmu menanyakan hal ini?" Vincent menatap Leo dengan tajam. "Tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin tahu apakah dia pernah menghubungimu atau semacamnya, salah jika aku ingin tahu?" Leo balik menatap tajam Vincent. Ia terlihat santai ketika sahabatnya tengah mencoba untuk tetap tenang. "Untuk apa dia menghubungiku? Apakah aku dan dia masih memiliki hubungan? Tentu kau tau jawabannya, kan? Tolong berhentilah menyebut nama itu lagi, itu menggangguku," ujar Vincent dengan tegas. Ia memilih meninggalkan Leo menuju kamarnya. "Mengapa ia harus marah untuk hal sepele seperti itu?" *** Sedari tadi Anna terus memperhatikan David, hari ini ia tampil beda. Ada apa dengannya? "Kau... bagaimana bisa?" Anna memutari David, ia benar-benar tidak menyangka perubahan David. "Ada apa? Apa aku terlihat buruk memakai pakaian ini? Ah yang benar saja! Ibuku memaksaku memakai pakaian ini, ia bahkan mengancam akan membuang barang-barangku jika aku tidak menurut." David menghela nafas pelan. "Tapi penampilanmu sangat jauh berbeda. Sekarang kau benar-benar terlihat sangat keren, sungguh!" "Keren apanya, semua orang memperhatikanku seperti seorang penjahat. Aku merasa tidak nyaman," keluh David. Anna tersenyum, "Ish, ayo cobalah untuk percaya diri. Aku yakin jika penampilan mu seperti ini, akan banyak gadis yang mengantri untuk mendapatkanmu, percayalah padaku." David berhenti, ia memegang kedua bahu Anna kemudian menatap mata Anna dengan serius, "Apakah kau menyukaiku penampilanku?" tanya David. Anna hanya mengangguk mengiyakan. "Berarti kau menyukaiku?" sambung David lagi. Anna langsung tertawa, ia melepaskan tangan David dari pundaknya lalu memukul d**a bidang David. "Kau yang benar saja! Ah tapi iya, aku menyukaimu. Jika aku tidak menyukaimu aku tidak mungkin mau menjadi temanmu." David terdiam, ia tersenyum kecut. "Baiklah," ucapnya dengan penuh putus asa. "Ayolah mengapa kau sangat emosional, haha." Tanpa Anna dan David sadari ternyata dihadapan mereka sudah ada anak-anak black catcher. Anna dan David berhenti, mereka berdua saling menatap, saling melempar pandangan. "Ada apa?" ketus Anna. "Lihat, ada yang berbeda dari si kutu buku. Kau mendapat ide darimana sehingga mencoba untuk memakai pakaian seperti ini?" ucap Joshua. Pria yang sama yang telah mengusik David waktu itu. "Kau bahkan tidak cocok memakai pakaian seperti itu!" timpal salah satu dari mereka. Ucapan anak-anak black catcher langsung membuat David merasa insecure. Ia lagi dan lagi hanya bisa menundukkan kepalanya. Anna yang memperhatikan tingkah sahabatnya itu langsung merasa kesal. "Kau... berhentilah mengganggu dia. Ada apa deng—" "Apa yang kalian lakukan disini?" Vincent tiba-tiba muncul membuat semua orang terkejut, terutama Anna. Vincent melirik Anna sekilas, lalu melirik David. "Berhenti mengganggu mereka dan segera pergi temui Leo, ia menunggu kalian semua," perintah Vincent. Mereka langsung menurut dan pergi meninggalkan Anna, David, dan tentu Vincent. "Maaf untuk sikap mereka yang kurang ajar. Dan, kau terlihat keren jika memakai pakaian itu. Cobalah untuk percaya diri, Man."ujar Vincent, sebelum ia pergi mengikuti teman-temannya tadi, Vincent tersenyum kearah Anna, senyum yang sangat tipis. Setelahnya ia langsung pergi. Anna menoleh kearah David, "Kau dengar apa yang dikatakan Vincent barusan? Kau sangat keren, Vid. Ayolah, coba untuk percaya diri. Itu akan baik untukmu, okey?" David hanya mengangguk, mereka berdua pun berjalan beriringan menuju kelas. "Ibumu sangat keren, ia benar-benar tau akan style," puji Anna. "Iya, tapi gaya ini tidak cocok untukku Anna. Kau lihat apa kata mereka tadi? Mereka bahkan mengejekku dan mengatakan aku tidak pantas memakainya." "Ayolah, lupakan apa kata mereka. Mereka itu hanya iri denganmu karena kau mendadak jadi pusat perhatian, bukan mereka." "Kau sungguh membuatku merasa sangat baik, Anna. Terimakasih," ujar David dengan tulus. *** Anna berjalan menelusuri lorong koridor kampus. Hari ini ia tidak ada jadwal kelas sama sekali jadi Anna memutuskan untuk ke perpustakaan saja. Kali ini David tidak ikut, ia mengikuti kegiatan yang Anna sendiri juga tidak tau. Anna ingin menghabiskan waktunya di perpustakaan saja. Ia merasa bingung harus melakukan apa. Banyak mahasiswa yang berlalu-lalang keluar masuk kelas. Jika tidak ada David, Anna merasa sangat kesepian. Hanya David yang selalu menemaninya kemanapun ia pergi. Jika David tidak ada tentu ia merasa kesepian, ia tidak memiliki teman selain David. Entahlah Anna merasa ia hanya butuh David saja, ia tidak membutuhkan yang lainnya. *** Anna masuk kedalam kamarnya dengan perasaan yang sangat lelah. Hari ini ia benar-benar sangat lelah, banyak hal yang menyita tenaga Anna. Ia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah selesai ia menuju balkon setidaknya untuk mengamati keadaan rumah Vincent, dan inilah yang setiap hari Anna sempatkan untuk lakukan. Mengamati rumah Vincent merupakan hal atau aktivitas baru yang akan Anna lakukan. Walaupun ia tidak pernah mendapati Vincent berada di balkon rumahnya sendiri, tapi Anna tetap ingin melihat keadaan rumah Vincent. Vincent, pria itu benar-benar telah menarik perhatian Anna dari sejak pertama ia melihatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD