Mengembalikan PIN Milik Vince

1214 Words
Beep beep beep!! Anna berbalik, ternyata yang mengklakson dirinya adalah Vincent. Kali ini Vincent tidak menaiki mobil, kali ini ia memakai sepeda motor, entah itu miliknya atau milik orang lain. "Kau? Mengapa kau sangat suka berdiri disini? Kau menunggu ayahmu lagi?" tanya Vincent. "Ah tidak. Kali ini aku sedang menunggu taxi," ucap Anna sembari terus celingak-celinguk kanan dan kiri. "Mengapa? Memangnya ayahmu tidak bisa menjemputmu, atau?" "Iya, beliau ada urusan di kantor itu sebabnya dia memintaku untuk pulang sendiri." Anna memperhatikan motor Vincent, "Hari ini kau memakai motor, ada apa dengan mobilmu?" sambung Anna. "Mobilku rusak, yah kau tau... musuh ku ada dimana-mana, dan aku yakin yang merusak mobilku ada salah satu diantara mereka," jelas Vincent. "Oh begitu." "Kau mau pulang bukan? Kalau begitu kita bisa pulang bersama lagi, kebetulan aku harus mengambil beberapa barang dirumah, ayo?" ajak Vincent. Ia dengan cuma-cuma menawarkan Anna untuk ikut pulang bersama. "Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri kok," tolak Anna. Ia merasa tidak enak jika harus merepotkan Vincent terus-menerus. "Ayolah, tak apa. Lagipula kita adalah tetangga, atau jangan-jangan ayahmu tau kita pulang bersama dan memin—" "Tidak-tidak, ayahku tidak tau soal ini. Hanya saja akh tidak ingin merepotkan dirimu," tutur Anna. "Merepotkan apanya? Aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Ayo?" Anna terpaksa mengangguk setuju, ia kemudian berjalan menuju motor Vincent yang tinggi itu lalu naik ke atasnya. "Sudah?" tanya Vincent. "Iya!!" seru Anna. Vincent tersenyum melihat tingkah Anna yang lucu dari balik spion motornya itu, Anna terlihat sangat manis. "Baiklah, sekarang kita pergi!" Vincent melajukan motornya dengan kecepatan rendah. Biasanya ia akan melajukan motornya dengan kecepatan yang sangat tinggi, tapi kini tidak karena Vincent tidak ingin mengambil resiko yang kemungkinan besar akan terjadi. "Oh iya Vince, apakah aku boleh menanyakan sesuatu padamu?" tanya Anna dengan gugup, ia khawatir jika Vincent nantinya merasa terganggu. "Katakan. Mengapa kau harus meminta izin terlebih dulu padaku? Katakan sajaaa!" sahut Vincent. "Em, mengenai hal ini aku merasa perlu menanyakan hal ini padamu. Ya kau tau, kita baru saja bertemu dan bahkan saling mengenal tapi... mengapa kau sangat baik? Maksudku, aneh saja. Kau adalah seorang gang motor dan aku adalah putri seorang polisi, apa menurutmu itu tidak aneh?" tanya Anna. Ia memberanikan diri untuk menanyakan hal ini pada Vincent. Hal yang membuatnya kadang merasa diistimewakan. "Memangnya apa yang salah dengan ini? Ya, bagiku ini bukanlah hal yang dilarang. Memangnya kenapa jika seorang gangster berteman dengan anak seorang polisi? Semua orang berhak untuk berteman dengan siapapun. Lagipula, kau adalah gadis yang baik tentu aku harus memperlakukan dirimu juga dengan sangat baik, bukan?" Anna terpaku, Vincent benar-benar gadis yang luar biasa. Dibalik gelar seorang wakil leader, Vincent adalah pria yang sangat baik. Anna merasa sangat beruntung bisa di kelilingi oleh orang-orang yang sangat baik. "Ada apa? Mengapa kau terus diam? Apa aku telah mengatakan hal yang salah?" tanya Vincent lagi. "Tidak-tidak. Aku hanya memikirkan sesuatu saja, hehe." "Baiklah." *** Mereka berdua telah tiba di depan gerbang rumah Anna. Anna turun dari motor Vincent tentu dengan dibantu Vincnt karena motornya lumayan tinggi. "Terimakasih," ucap Anna dibarengi senyum manisnya itu. "Iya, apa ayahmu sudah pulang?" "Kurasa belum. Biasanya ayahku pulang saat sudah jam 9 malam, dan sekarang masih sore ia masih berada di kantor," jelas Anna. "Syukurlah, aku bisa bicara denganmu sebentar." "Ah iya, apa aku bisa mengatakan sesuatu padamu?" Vincent tertawa, "Kau selalu seperti ini. Ketika ingin menanyakan sesuatu kau terus meminta izin. Katakan saja, aku tidak akan marah atau memakan dirimu jika sampai bertanya, ada-ada saja." Anna tersenyum, ia kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. "Eh, ini bukan hal yang besar. Tapi aku hanya merasa penasaran saja makanya aku ingin menanyakan hal ini padamu," ujar Anna dengan gugup. "Baiklah, katakan saja." "Aku sempat mendengar bahwa, anak-anak gang black catcher itu harus memakai PIN sebagai tanda pengenal mereka, apa aku benar?" "Iya, lalu?" "Tapi, aku merasa bingung. Leo, yang katanya ketua gang selalu memakai PIN itu tapi, tidak denganmu. Aku bahkan tidak pernah melihatmu memakai PIN, kenapa?" "Oh ternyata kau menanyakan perihal PIN." Vincent seperti tengah memikirkan sesuatu, ia terdiam cukup lama. "Ada apa?" tanya Anna, ia menyadari bahwa Vincent terlihat seperti orang yang bingung. "Aku kehilangan PIN-ku. PIN yang dibuat khusus itu, aky telah kehingannya. Aku tidak tau pasti dimana hilangnya henda itu, tapi yang pasti sampai saat ini aku belum menemukannya. PIN itu dibuat khusus dan pengrajin yang membuatnya sudah tiada jadi, PIN itu tidak bisa dibuat lagi. Aku sampai frustasi mencarinya kemana-mana," jelas Vincent. Anna terdiam, ternyata Vincent telah kehilangan PIN-nya. PIN yang khusus dibuat dan pengrajinnya juga sudah meninggal. Anna jadi teringat pada PIN yang ia temukan saat ia pertama kali masuk kampus. PIN itu sampai sekarang masih Anna simpan dan ia belum menemukan pemiliknya. Anna berfikir untuk memberikan PIN itu pada Vincent berharap bahwa PIN itu adalah PIN yang sama dengan milik Vincent. "Ah iya, aku ingat," seru Anna. Vincent langsung menatap Anna dengan bingung. "Ada apa?" tanya Vincent. "Kau tunggu disini, aku harus mengambil sesuatu di kamarku. Jangan kemana-mana, mengerti?" "Baiklah, cepat." Anna mengangguk, ia buru-buru berlari masuk ke dalam rumahnya. Ia harus segera memberi PIN itu pada Vincent. Anna juga tidak mungkin akan terus menyimpan barang milik orang lain seperti itu. "Aku menemukannya!" seru Anna. Ia segera berlari keluar kamar, ia bahkan berlari ketika menuruni anak tangga. Anna bahkan tidak peduli jika ia sampai terjatuh. Tapi beruntunglah Anna bahkan tidak terjatuh sama sekali. Ia melihat Vincent masih menunggu dirinya diluar gerbang, Anna merasa sangat tersentuh. "Ada apa? Mengapa kau sangat terburu-buru hingga berlari seperti sedang mengejar hantu saja," ujar Vincent. Ia tertawa ketika melihat Anna yang sudah sangat ngos-ngosan. "Aku benar-benar merasa sangat letih, kau tau?" "Duduklah, kau benar-benar gadis yang aneh." Vincent menyuruh Anna agar ia duduk dibatu besar yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. "Ini." Anna mengulurkan tangannya pada Vincent. Vincent terkejut ketika melihat PIN yang berada di tangan Anna. "Kau? Darimana kau mendapatkan PIN ini?" "Aku menemukannya saat berada di kampus. Lalu aku menyimpannya. Tapi tadi kau mengatakan bahwa kau telah kehilangan PIN mu dan aky berfikir bahwa mungkin PIN ini adalah milikmu, apa benar?" tanya Anna. Vincent mengangguk, itu adalah PIN yang selama ini ia cari. "Ini, aku kembalikan padamu. Kau pasti akan terlihat sangat gagah jika memakai PIN ini lagi," puji Anna, ia sambil terus tersenyum pada Vincent. Senyuman yang mampu membuat Vincent meras jauh lebih baik. "Aku telah mencarinya kemana-mana. Terimakasih," ucap Vincent dengan tulus. "Terimakasih? Sungguh, aku sama sekali tidak menerima ucapan terimakasih. Kau harus melakukan hal besar untukku sebagai ucapan terimakasih mu. Ah iya, bagaimana dengan membuatkan aku makanan yang enak? Apa kau pandai memasak?" Vincent tampak berpikir dengan serius, "Sepertinya iya. Baiklah, aku akan membuatkanmu makanan sebagai bentuk ucapan terimakasih dariku. Setuju?" "Setuju!! Berarti kau pandai memasak?" "Em, aku tidak yakin. Tapi orang-orang mengatakan bahwa masakan ku lumayan enak," ujar Vincent. "Baiklah, aku harus mencobanya!" seru Anna. Sejak saat pertama kali Anna melihat Vincent ia yakin bahwa Vincent adalah orang yang sangat baik. Ia tidak pernah tanggung-tanggung jika menceritakan sesuatu pada Anna. Ia selalu mampu membuat Anna merasa sangat istimewa,itulah Vincent. "Baiklah, aku harus pergi. Teman-teman ku mungkin sudah menunggu, jaga dirimu." Vincent menuju motornya, ia memasang kembali helmnya lalu melajukan motornya pergi. Ia tidak singgah di rumahnya. Anna yakin ketika ia mengatakan akan pulang mengambil barang itu mungkin hanya sebuah alibi agar Anna setuju untuk diantar pulang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD