Anna benar-benar tidak mengerti dan tidak menyangka bagaimana bisa ia dan Vincent bisa sedekat sekarang. Setelah Anna memberikan pin itu pada Vincent kembali, Vincent mulai lebih mempercayai Anna. Ia menceritakan segala hal yang menyangkut kehidupannya pada Anna. Ia tidak tanggung-tanggung, ketika bertemu Anna baik ada teman-temannya atau tidak Vincent selalu menyapanya. Anna merasa sangat di spesialkan oleh Vincent.
Perasaan ini tidak semerta-merta muncul karena Anna terlalu percaya diri, tapi inilah yang Vincent lakukan pada Anna. Jujur, Anna tidak tau seperti apa pemikiran orang-orang pada Anna ketika dekat pada Vincent. Tapi, Anna mencoba untuk tidak peduli hal itu. Kata David, sebelumnya Vincent tidak pernah dekat pada gadis manapun selain Anna, bahkan teman-teman gangnya yang wanita.
Vincent adalah pria yang tertutup, sama hal Leo. Hanya orang-orang yang Vincent percayai yang mengetahui sedikit banyak tentang kehidupannya.
Tapi, walaupun dengan kepercayaan yang telah Vincent berikan pada Anna ia masih merasa takut. Takut jika tiba-tiba Vincent merasa kalau Anna terlalu ingin mengetahui sejarah kehidupannya. Takut jika semua orang terutama Leo mulai mempertanyakan apa maksud Vincent begitu terbuka pada Anna.
***
Ponsel Anna berdering, Anna melirik ponselnya untuk mencari tahu siapa yang telah menelepon dirinya. Ia terkejut ketika melihat satu nama itu, ia langsung menghentikan aktivitasnya lalu mengangkat telepon dari Vincent.
"Halo?"
["Hai, halo. Apakah aku mengganggu waktumu?"] tanya Vincent dari balik sambungan telepon.
"Ah tidak-tidak. Aku juga tidak sedang melakukan sesuatu," ucap Anna berbohong. Jujur saja ia tengah membuat sebuah jurnal keseharian untuknya sendiri, tapi ia berbohong agar Vincent merasa bahwa ia tidak mengganggu Anna.
["Ah baguslah jika hal itu benar, aku takut jika mengganggumu."]
"Ah tidak, sama sekali tidak," sahut Anna.
["Baiklah, aku menelepon untuk menanyakan sesuatu, ya bukan masalah besar sih tapi kurasa ini penting untuk aku tanyakan"]
"Ah iya, ada apa? Katakan saja."
["Bukankah kemarin kau mengatakan sangat ingin makan makanan yang aku buat?"]
"Iya, aku masih mengingatnya. Lalu?"
["Aku mengundangmu. Datanglah kerumahku nanti, aku membuat masakan yang spesial untukmu"] ucap Vincent. Hal ini membuat Anna benar-benar terkejut. Ia ingat ketika mengatakan hal itu kemarin, itu hanyalah sebuah candaan yang Anna lontarkan tapi sekarang? Vincent benar-benar mewujudkannya dalam satu malam? Anna tidak percaya ini.
"Apakah kau serius?" tanya Anna untuk memastikan. Ia tidak yakin Vincent benar-benar mengundang dirinya datang ke rumahnya.
["Apakah sungguh aku kelihatan seperti sedang bercanda? Apakah perlu aku mengirimkan gambar padamu agar kau bisa mempercayai bahwa aku sudah memasak masakan spesial untukmu?"]
"Tidak perlu! Aku hanya ingin memastikannya saja," potong Anna cepat.
["Kalau begitu datanglah, aku menunggumu."]
"T-tapi..."
Tut tut tut!!
Vincent mematikan teleponnya secara sepihak. Anna menghela nafas pelan, ia menuju ke jendela dan balkon kamarnya, ia melihat kearah rumah Vincent.
"Apa aku harus kesana? Tapi bagaimana jika Ayah tau tentang hal ini?" ucap Anna dengan perasaan khawatir. Jujur saja, Anna sangat ingin datang ke rumah Vincent tapi ia takut jika sampai ketahuan.
Anna melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, dan Anna tidak tau kapan Ayahnya akan pulang. Ia merasa sangat khawatir, hari ini adalah hari weekend dan tidak menutup kemungkinan kalau ayahnya bisa saja cepat pulang.
"Apa aku harus kesana? Oh ya Tuhan, mengapa Vince sangat excited memasak makanan khusus untukku? Ada apa dengannya?" Anna mencoba mencari ide, ia harus menemukan ide bagaimana caranya agar bisa datang ke rumah Vincent tanpa ketahuan oleh ayahnya.
Tingg!
Suara pesan masuk, Anna tertegun. Sepertinya Vincent tengah memperhatikan dirinya dari balik rumahnya.
[Jika kau tidak bisa datang kerumahku maka aku yang akan datang kesana membawakanmu makanan ini, bagaimana?] isi pesan Vincent. Mata Anna sontak membulat, Vincent benar-benar kehilangan akal. Bagaimana bisa ia memikirkan hal seperti ini?
Ia haru menemukan jalan keluarnya. Anna memutuskan untuk menghubungi ayahnya dan menanyakan kapan ia pulang. James mengatakan akan pulang pada pukul 6 sore nanti, berarti Anna memiliki waktu setidaknya 2 jam untuk menemui Vincent.
Setelah itu, ia bergegas masuk dan bersiap. Anna harus segera menuju rumah Vincent secepatnya, ia tidak ingin membuang-buang waktu.
Tok tok tok!!
Anna mengetuk pintu Vincent dengan terburu-buru. Ia takut jika seseorang melihatnya datang ke rumah Vincent, ini bisa menjadi masalah untuknya.
Tok tok tok!!
Belum sempat melakukan ketukan terakhir, Vincent langsung membuka pintu. Penampilannya kini berbeda, ia terlihat lebih santai, memakai celana jeans pendek lalu memakai kaos oblong berwarna hitam.
"Aku fikir kau tidak akan berani datang ke rumahku," ujar Vincent.
"Apakah aku bisa masuk sekarang?"
"Masuklah, oh iya hati-hati didalam sana ada anjing yang bisa menggigitmu kapan saja," ujar Vincent berusaha menakut-nakuti Anna, tapi Anna tidak peduli akan hal itu.
Ia melenggangkan kakinya menuju ruangan tamu milik Vincent. Anna terpukau dengan dekorasi rumah Vincent yang menurut Anna sangat mewah tapi elegan. Rumah ini di d******i warna putih dengan berbagai macam perabot berwarna hitam, menambah efek elegan.
Perhatian Anna kini mengarah pada bingkah besar yang memperlihatkan seluruh anggota gang Black Catcher, disana ada dirinya dan tentu juga ada Leo sebagai leader gang.
"kau... Kau akan terus berdiri disini atau mencicipi masakan yang sudah kubuat?" tanya Vincent yang sedari tadi tengah memperhatikan Anna.
"Biarkan aku melihatnya lagi, rumahmu sangat indah. Aku sangat menyukai dekorasi yang ada pada rumahmu," puji Anna. Perhatiannya juga mengarah pada bingkai-bingkai kecil yang berada di satu sudut. Disana Anna melihat foto-foto Vincent dan Leo ketika bersama, dan bahkan ada juga foto dua anak kecil yang Vincent yakini adalah foto miliki Vincent dan sahabatnya, Leo.
"Apakah ini fotomu dan Leo?" tanya Anna pada Vincent. Ia mengambil foto itu lalu memperlihatkannya pada Vincent.
"Iyap,"
Anna tersenyum, ia kembali meletakkan foto itu ketempat semula. Tapi ada satu foto yang menarik perhatian Anna. Foto seorang gadis cantik memakai outfit berwarna putih dengan rambut panjang terurai.
Anna mengambil foto itu lalu berbalik dengan maksud menanyakan siapa gadis yang ada di foto itu tapi ketika melihat foto yang Anna pegang, wajah Vincent seketika berubah.
Ia langsung merebut foto yang ada ditangan Anna lalu memasukkannya kedalam laci meja tanpa menjelaskan mengapa ia melakukannya dan siapa gadis itu.
Anna merasa aneh, ada kecanggungan diantara mereka hanya karena sebuah foto. Tapi Anna juga tidak bisa menutupi rasa keingintahuannya terhadap foto itu.
"Sudahlah! Tidak perlu menelusuri setiap foto-foto yang ada disana, ayo ikut denganku," titah Vincent. Ia mulai berjalan meninggalkan Anna tapi Anna langsung mengikutinya dari arah belakang.
"Maaf untuk itu, Vince. Aku tidak bermaksud untuk—"
"Lupakan saja. Kita tidak perlu membahasnya lagi, ayo ikut aku. Kita menuju meja makan saja agar kau bisa cepat pulang," ujar Vincent. Ada yang berbeda dari Vincent kini, ia mendadak menjadi aneh hanya karena foto itu tadi. Anna malah makin penasaran dengan hal ini.
"Iya, kau benar. Aku harus segera pergi," timpal Anna.
"Maaf, maaf jika kata-kata ku mungkin menyakiti dirimu, tapi sungguh. Aku... aku tidak ingin kau benar-benar pergi dari rumahku secepatnya. Maafkan aku." Vincent berbalik lalu menatap Anna dengan perasaan tidak enak.
"Tidak masalah, itu bukanlah hal yang besar bagiku. Ayo, kau bilang sudah memasak makanan untukku, lalu mana?" tanya Anna yang mencoba mencairkan suasana.
"Ah iya, maaf. Aku sampai lupa menyajikan makanan yang aku buat sendiri pada tamu ku. Baiklah, ayo."
Vincent benar-benar sangat pandai memasak makanan. Terbukti, dari pertama kali Anna melihat makanan yang Vincent buat, Anna merasa langsung tergiur. Dari looknya saja terlihat kalau makanan yang Vincent buat pasti sangat enak.
"Dari penampilannya saja, sepertinya ini aian sangat enak." Anna mengamati makanan yang Vincent buat.
"Ayo, makanlah. Makanan ini aku buat khusus untuk dirimu, dan jika kau memakannya aku pasti akan merasa sangat dihargai," ujar Vincent.
"Baiklah,"
***
Jam sudah menunjukkan pukul setengah 6 sore. Anna segera meminta izin untuk pulang pada Vincent m Ia takut jika ayahnya sudah pulang, ia pasti akan ditanya-tanya dari mana ia dan ia pergi dengan siapa.
"Aku harus pulang," ucap Anna pada Vincent.
"Iya, kau harus pulang. Baiklah, terimakasih telah berkunjung kerumahku."
"Aku yang harus berterimakasih. Makanan yang kau buat benar-benar sangat nikmat. Kau sepertinya cocok untuk menjadi seorang koki," puji Anna.
"Terimakasih. Kau bisa pergi, aku takut ayahmu akan curiga ketika ia pulang dan kau tidak ada dirumah."
Anna mengangguk, ia segera pergi dari rumah Vincent dan pulang kerumahnya.