Keterbukaan

1202 Words
Anna pulang dengan langkah terburu-buru. Jujur saja, ia merasa sangat khawatir. Ia sangat takut jika ternyata James pulang lebih dulu darinya. Saat Anna tiba di depan pintu gerbangnya, Anna bisa melihat bahwa mobil ayahnya sudah terparkir disana. Nafas Anna tercekat, ia sangat khawatir. Ia takut jika ternyata ayahnya tau bahwa Anna baru saja pulang dari rumah Vincent. Anna ingat ketika ia menelepon ayahnya tadi, James mengatakan akan pulang jam 6 sore tapi sekarang? Ini bahkan belum jam 6 tapi James sudah pulang. Anna membuka pintu gerbang dengan hati-hati. Ia lalu segera menuju pintu rumahnya, ia sangat takut jika ayahnya sampai menanyakan hal yang bisa membuat Anna merasa bingung akan menjawab apa. Ceklek!! Anna membuka pintu dengan hati-hati. Rupanya James sudah menunggunya, terbukti ia sudah duduk di kursi ruang tamu sambil terus memandang Anna. "Ayah," lirih Anna. "Kau darimana saja, Anna? Mengapa ponselmu tidak bisa ayah hubungi? Kau darimana, huh?" Raut wajah James berubah, ia terlihat sangat marah. "Ku mohon maafkan aku, ayah. Aku tidak membawa ponselku, dan ponselku juga sedang di charge di kamar. Maaf jika aku membuat ayah khawatir," ujar Anna. Ia masih setia berdiri di depan pintu, ia tidak berani melangkah maju ke depan. "Katakan kau darimana? Dan dengan siapa? Huh?" "A-aku... aku baru saja dari rumah salah satu temanku untuk mengantarkan buku padanya, aku lupa mengabari ayah." Anna mencari alasan yang bisa membuat ayahnya tidak merasa curiga. "Rumah teman? Siapa? Dan sepenting apa buku itu sampai kau lupa mengabari ayah, huh? Anna apa kau tau? Ayah sangat khawatir dengan kondisi mu? Ayah buru-buru pulang karena ayah takut kau merasa kesepian di rumah sendirian. Tapi,.." "Ayah, aku baik-baik saja. Dan aku tidak pernah sekalipun merasa sangat kesepian. Lagipula tadi aku hanya mengantar buku saja, jika aku mengembalikan bukunya besok temanku tidak akan belajar. Itulah mengapa aku memutuskan untuk pergi sendiri ke rumah dia, tapi ayah tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja," ujar Anna mencoba menjelaskan kondisi dirinya pada ayahnya itu. "Jadi kau menghubungi ayah tadi untuk ini? Kau ingin pergi ke rumah temanmu. Tapi, ada hal yang membuat ayah bingung. Kau tadi sempat menghubungi ayah tapi kenapa kau lupa memberitahu bahwa kau akan ke rumah temanmu, apa kau berbohong? Katakan dengan jujur pada ayah Anna, apa yang kau lakukan sebenarnya!" desak James. Anna benar-benar bingung harus menjawab apa. James seperti tidak mempercayai omongan Anna sama sekali, ia bahkan terus mendesak Anna agar berkata jujur. "Aku tidak berbohong, aku mengatakan hal yang sebenarnya. Bagaimana bisa ayah tidak mempercayaiku? Ini adalah hal yang biasa, dan mengapa ini menjadi sangat penting untuk ayah? Aku benar-benar tidak mengerti." Anna menunduk, ia telah berbohong lagi dan lagi. Mengapa ia harus ada di situasi yang seperti ini? "Ayah hanya ingin kau menjelaskan apa yang sebenarnya, bukan karena ayah sama sekali tidak mempercayai dirimu, cobalah untuk mengerti, nak." James bangkit dari kursinya lalu berjalan mendekati Anna. "Lihat ayah, ayah hanya khawatir dengan kondisi mu. Ayah takut jika diluaran sana kau sampai kenapa-napa dan ayah tidak tau akan hal itu. Ibumu telah mempercayakan dirimu pada ayah, dan ayah tidak ingin sampai mengabaikan apa yang sudah ibumu percayakan. Cobalah untuk mengerti nak, ayah haya khawatir dengan kondisi dirimu saja." James terlihat sangat emosional dan hal ini membuat Anna merasa sangat bersalah. Ia telah berbohong, ia mendatangi rumah orang yang menjadi musuh ayahnya sendiri. Bagaimana jika James tau hal ini? Bagaimana jika James tau bahwa Anna ternyata dekat dengan orang yang ayahnya sendiri benci? "Maafkan aku ayah," lirih Anna. James menghela nafas pelan, ia tidak bisa melihat putrinya menunduk seperti orang yang bersalah dan tertangkap basah. "Baiklah, ayah memaafkan mu. Tapi lain kali tolong hubungi ayah, beritahu ayah kau akan kemana dan dengan siapa. Jika perlu ayah pasti akan datang untuk mengantarmu, kau tidak usah berfikir kalau merepotkan ayah. Ini sudah menjadi tugas dan kewajiban ayah padamu. Mengerti?" Anna mengangguk mengiyakan. Ia lalu memeluk tubuh ayahnya dengan sangat erat. Dalam hati Anna terus mengatakan maaf, maaf, dan maaf secara berulang-ulang. "Kalau begitu kembalilah ke kamarmu untuk beristirahat. Ayah juga harus mengerjakan beberapa pekerjaan," ucap James. "Baik, aku akan kembali ke kamar." Anna berjalan menuju tangga. Akhirnya ia bisa merasa jauh lebih tenang sekarang yah walaupun ia berbohong, tapi setidaknya Anna sudah merasa jauh lebih baik. Anna tidak tau sampai kapan ia akan terus berbohong seperti ini. Tapi yang pasti, Anna akan berusaha membuat hubungan antara black catcher dengan kepolisian bisa membaik. Ini juga sangat baik untuk ia dan Vincent, mereka berdua tidak perlu lagi bersembunyi ketika akan bertemu dan tentu ia tidak akan terus-menerus berbohong seperti ini. Anna membuka kamarnya, ia langsung segera menuju wastafel untuk mencuci muka. Kemudian ia melihat pantulan wajahnya pada cermin, Anna terlihat sangat letih. Ia letih karena harus terus-menerus berbohong pada ayahnya sendiri. "Sampai kapan aku akan terus berbohong pada ayah seperti ini? Aku benar-benar merasa sangat muak sekarang. Bagaimana jika kebohongan yang aku tutupi terbongkar? Aku yakin ayah pasti akan sangat marah," ucap Anna membatin. Tapi ada satu hal yang sampai saat ini mengganjal pikiran Anna. Hal yang membuat Anna merasa sangat ingin tahu tentang kebenaran yang coba Vincent tutupi darinya. Anna masih mengingat dengan jelas kejadian tadi ketika ia masih di rumah Vincent. Anna sangat ingat jelas seperti apa tingkah dan mimik wajah Vincent ketika Anna memegang foto gadis itu. Gerak gerik Vincent berubah ketika Anna hendak menanyakan siapa gadis yang ada di foto itu. Anna semakin ingin tau. Anna berfikir bahwa gadis itu adalah saudari perempuan Vincent, tapi ia ingat. Vincent pernah mengatakan bahwa ia sama sekali tidak memiliki saudara. Ia hanya memiliki Leo di kehidupannya, lalu siapa gadis itu? Anna yakin, gadis yang ada di foto itu merupakan gadis yang sangat spesial hingga Leo sampai memajang fotonya di ruangan itu. Atau mungkin gadis yang ada di foto itu adalah kekasih Vincent karena ia sama sekali tidak ingin Anna tau siapa gadis itu. Tapi Anna ingat, David pernah mengatakan bahwa Anna adalah satu-satunya gadis yang sangat dekat dengan Vincent sampai segala hal yang menyangkut hidupnya diberi tahu pada Anna, lalu siapa gadis itu yang sebenarnya? Anna menghela nafas pelan, "Mengapa Vincent tidak mau memberitahuku tentang gadis itu? Mengapa ia menutupi identitasnya?" Anna benar-benar bingung. Ia sangat ingin tau siapa gadis itu tapi Vincent seperti tidak ingin memberi tahu Anna. Lantas ia harus bertanya pada siapa? Hanya ada Leo saja yang sangat dekat dengan Vincent, tapi Leo dan Anna hubungan mereka berdua tidak baik. "Apa aku harus mencari tahu hal ini? Tapi pada siapa? Siapa yang bisa menjawab rasa penasaran ku ini? Ck, apa aku harus tanya Leo? Ah tapi itu akan sulit. Aku bahkan sangat malas melihat wajah pria itu," ucap Anna membatin. Ia bingung harus menceritakan segalanya pada siapa. Anna ingat, hanya ada satu orang yang bisa Anna percayai. Dia adalah David, sahabat Anna. Dan Anna harus segera menceritakan hal ini pada David, ia harus segera menemukan jawaban dari hal yang telah mengganggu pikirannya itu. Anna mungkin tidak akan mendapat jawaban yang ia inginkan dari David tapi paling tidak dengan menceritakan segalanya pada David ia bisa merasa jauh lebih baik. Anna menganggap segala hal yang telah ia dan Vincent lewati merupakan langkah awal untuk membuatnya terbuka, tapi mengapa untuk masalah foto gadis itu ia enggan bicara jujur, ia enggan menjelaskan siapa dan apa hubungannya dengan gadis itu? Mengapa ia melakukan itu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD