Udara pagi adalah udara yang paling segar untuk dihirup. Pagi ini Anna sudah berada di balkon kamarnya sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya.
Anna hari ini bangun lebih cepat, ia juga akan berangkat ke kampus lebih cepat. Semalam Anna sudah menghubungi David dan ia meminta agar David datang lebih cepat ke kampus karena ada beberapa hal yang ingin Anna bahas dengan David, terutama perihal foto yang ada dirumah Vincent kemarin.
Dari kejauhan, Anna melihat Vincent keluar dari rumahnya dengan terburu-buru. Ia bahkan tidak menyadari bahwa ada Anna yang tengah mengamati dirinya dari balkon kamar. Vincent terlihat mengendarai motor meninggalkan area rumahnya dengan kecepatan tinggi.
Anna menghela nafas pelan. Ia masuk ke dalam kamarnya lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Hari ini Anna akan datang lebih awal dari biasanya. Rasa penasaran Anna akan seketika hilang jika ia sudah menemukan jawaban apa yang ingin ia ketahui.
Banyak hal yang telah Vincent katakan pada Anna, tapi mengapa dengan foto gadis itu? Mengapa foto itu berbeda? Dan mengapa ia tidak mau menjelaskan siapa gadis yang ada difoto itu? Ia memilih menyimpan foto itu di laci dan perubahan sikapnya jelas sangat berbeda.
Anna semakin yakin bahwa gadis yang ada di foto itu adalah gadis yang spesial untuk Vincent.
Anna benar-benar yakin akan hal itu. Tidak mungkin Vincent menyembunyikan hal itu jika gadis itu bukan orang penting baginya, itu sudah sangat jelas. Anna tau itu.
Tapi yang membuat Anna tidak habis fikir, mengapa Vincent menyembunyikan hal ini darinya? Kenapa ia tidak ingin jujur mengenai gadis yang telah menjalin hubungan dengannya?
Setelah selesai dengan kegiatan bersih-bersihnya, Anna segera menyiapkan barang yang akan ia bawa ke kampus. Anna memakai outfit yang cukup santai hari ini.
Anna bergegas menuruni anak tangga. Ia langsung meminta agar ayahnya mengantar dirinya sekarang ke kampus.
"Ayah, ayo berangkat." Anna berdiri di depan ayahnya.
"Sekarang? Mengapa cepat sekali? Ada apa?"
"Kelasku dimulai lebih cepat hari ini, ayo ayah, aku harus segera tiba di kampus," ucap Anna, ia sangat terburu-buru.
"Baiklah tunggu sebentar, ayah akan mengambil kunci mobil dulu. Okey?"
"Baiklah!" seru Anna. Ia segera keluar terlebih dahulu menunggu di depan rumahnya.
Ada sesuatu yang mengganjal pikiran Anna hingga saat ini, dan itu semua mengenai Vincent.
"Mengapa Vincent harus merahasiakan hal ini? Aku benar-benar dibuat frustasi karena rasa keingintahuan ku ini," batin Anna.
***
Anna bergegas menuju ruang kelas. Ia baru saja mendapat pesan dari David bahwa ia telah sampai dan sudah menunggu di kelas.
Situasi kampus masih sepi, dan ini kesempatan yang tepat bagi Anna untuk membicarakan hal ini pada David, orang yang bisa ia percayai.
"Pagi?" sapa David saat ia melihat Anna sudah masuk ke dalam ruangan.
"Pagi." Anna langsung melepaskan tasnya lalu duduk di samping David.
"Katakan, ada hal penting apa yang mengganggu pikiranmu tentang Vincent, apa ada masalah?" tanya David langsung keintinya. Mereka tidak suka banyak basa-basi.
"Kau tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan, tapi aku melihatnya sendiri." Anna menghela nafas pelan, berusaha untuk menenangkan dirinya.
"Katakan, ada apa?"
"Kau bilang padaku bahwa aku adalah satu-satunya gadis yang berhasil dekat dengan Vincent karena katamu Vincent adalah tipe pria yang tertutup, tapi sepertinya kau berbohong padaku, Vid." Anna menatap David dengan serius, ia berbohong mengenai hal apa? David bahkan tidak mengerti dengan apa yang Anna maksud.
"Iya, yang aku tau seperti itu. Sejauh ini hanya kau gadis yang berhasil menarik perhatiannya," ujar David mengiyakan ucapan Anna.
"Kau berbohong! Aku yakin sudah ada gadis yang masuk dalam kehidupan Vincent yang mampu membuat Vincent mencintai gadis itu dengan tulus!"
David tidak mengerti dengan apa yang Anna maksud sekarang, ia benar-benar bingung.
"Apa maksudmu?"
Anna benar-benar bingung akan memulainya dari mana. Ia menatap David dengan tatapan serius, "Aku... aku melihat foto seorang gadis di rumah Vince, foto seorang gadis yang sangat cantik, bahkan ia memajang foto gadis itu di ruangan khusus. Saat aku bertanya mengenai siapa gadis itu, Vince tiba-tiba terlihat sangat kesal. Ia bahkan merebut paksa foto yang ku pegang itu, aku tidak tau siapa gadis itu," ujar Anna.
David terlihat bingung, apakah ia juga tidak tau akan hal ini? Anna yakin iya, ia bahkan terlihat sangat bingung.
"Apa mungkin, gadis itu adalah kekasih Vince?" tanya Anna.
"Aku tidak tau pasti akan hal itu. Tapi sejauh yang aku tau Vincent tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Tapi, mengapa kau tiba-tiba ingin tau akan hal ini? Mengapa kau begitu sangat penasaran? Apa mungkin... apa mungkin kau menyukai Vincent?"
Deg!!
Anna terdiam, ia bahkan bingung akan menganggap apa perasaan yang saat ini ia rasa. Apakah ini bentuk kecemburuannya karena mungkin ia telah menyukai Vincent? Atau mungkin ia hanya sekedar ingin tahu saja? Anna benar-benar bingung akan menjawab apa pertanyaan dari David untuknya.
"Aku... aku tidak yakin dengan perasaan yang kurasakan saat ini. Aku bahkan tidak mengerti apa itu makna cinta, lalu bagaimana mungkin aku bisa mengatakan bahwa ini adalah sebuah rasa, mengungkapkannya saja ku rasa aku tidak bisa, Vid. Mungkin ini hanya sebuah rasa keingintahuan saja, tidak ada hal yang lain lagi," elak Anna. Ia tersenyum kaku ke arah David.
"Kau mengelak untuk perasaan yang ada di hatimu. Ck, ck, ck. Bagaimana bisa kau mengerti apa artinya cinta jika kau tidak ingin memulainya, menurutku jika kau ingin tau siapa gadis itu sebaiknya kau tanyakan pada Vincent, dia jelas tau jawabannya," ujar David. Ia bangkit dari kursi lalu menarik tangan Anna. Ia memegang kedua pundak Anna sambil tersenyum.
"Tanyakan pada Vincent, okey?"
Anna menghela nafas pelan, bagaimana mungkin ia langsung menemui Vincent dan menanyakan hal mengenai kehidupannya? Memangnya siapa dirinya? Ia bahkan bukan siapa-siapa Vincent, ia tidak punya hak untuk menanyakan sesuatu yang menyangkut privasi Vincent.
"Aish, tidak mungkin aku menanyakan hal ini pada Vincent. Kau ada-ada saja. Memangnya aku siapa harus tau segala hal tentangnya, ini tidak mungkin." Anna melepaskan tangan David yang berada di kedua pundaknya.
"Mengapa tidak mungkin? Apa kau akan terus-menerus menerka-nerka seperti ini? Jika kau tau siapa gadis itu, itu pasti akan membuatmu merasa jauh lebih baik, Anna. Ayolah," ujar David. Ia memberikan saran pada Anna agar Anna tidak menerka-nerkanya sendiri. Jika ia tau kebenaran itu dari Vince ia pasti akan tau bagaimana sikap yang harus ia lakukan nanti.
"Dengar Anna, jika kau menanyakan hal ini pada Vincent kau jelas akan tau siapa gadis itu sebenarnya dan kau juga akan tau apa maksud Vincent mendekati dirimu sampai berbuat baik seperti ini padahal sebelumnya kalian tidak saling mengenal," jelas David.
Apa yang David katakan memang ada benarnya, dengan begitu Anna akan tau apa tujuan Vincent sebenarnya. Ia akan tau apakah Vincent benar-benar tulus ingin berteman dengan Anna atau justru hanya akan memperalat Anna.
Anna terdiam. Ia mulai mempertimbangkan apa yang David katakan barusan. Anna rasa apa yang David katakan ada benarnya. Tapi bagaimana bisa ia menanyakan hal ini pada Vincent? Apa hak yang ia miliki? Tapi, jika ia hanya diam tanpa mencari tau siapa orang itu, Anna akan terus-menerus merasa penasaran yang sama sekali tidak ada ujungnya.
"Bagaimana? Apa kau akan melakukan saran yang aku katakan padamu? Pikirkanlah baik-baik, aku yakin kau tidak akan menyesal jika setuju." David tersenyum simpul, ia lalu berpamitan keluar sebentar untuk membiarkan Anna memilih keputusan untuknya. Jika ia tetap tidak berani maka biarlah ia terus-menerus merasa penasaran mengenai identitas orang itu.
Anna memijat pelipisnya, setelah ia fikir-fikir ia setuju untuk menanyakan ini sendiri pada Vincent. Sekarang ia hanya perlu menunggu waktu yang tepat.
"Benar, lebih baik aku mencari tahu jawaban ini langsung dari Vincent. Dengan begitu aku akan tau apa maksud ia mendekati ku dan mengatakan bahwa sangat mempercayai diriku," batin Anna.