Benar-benar Pergi

1413 Words
Rasanya seperti mimpi buruk, Anna benar-benar tidak menduga hal ini akan terjadi secepat itu. Veronica benar-benar merebut Vince dari semua orang termasuk Leo. Anna tau seperti apa perasaan Leo saat ini, ia hanya berusaha menutupi segalanya. Mereka berdua duduk di kursi kayu panjang dan larut dalam pikiran masing-masing. Setelah Vince berpamitan untuk menjemput Veronica, tubuu Anna serasa sangat lemas. Ia tidak menduga ini akan terjadi. Berkali-kali Leo mendengar Anna menghela nafas, seperti ada sesuatu yang berat tapi coba untuk ia ikhlaskan. Ini tentu karena keputusan Vince yang mendadak. "Apa kau tidak bisa mencegahnya untuk tidak pergi?" Leo menoleh menatap Anna dengan tatapan bingung, apa maksudnya? "Ini sudah menjadi keputusannya sejak awal. Aku tidak punya hak untuk memaksa dia tetap tinggal disini walaupun aku ingin. Vince sudah memilih jalan hidupnya sendiri yakni hidup bersama gadis yang ia cintai, lantas hak apa yang aku punya?" Anna mengusap wajahnya, "aku tidak bisa berkata-kata lagi." "Coba untuk ikhlaskan dia. Kalian bahkan sebelumnya belum pernah menjalin hubungan jadi kurasa itu akan mudah, bukan?" Anna berdecak kesal, "tidak semudah itu!! Kau mengatakan itu mudah karena kau belum pernah merasakannya!" teriak Anna. "Tenanglah! Kenapa kau mendadak sangat emosional? Dasar gadis aneh!" Anna hanya bersikap acuh tak acuh. Tidak peduli jika ia dikatakan sebagai gadis aneh, tapi yang pasti dan yang harus Anna pikirkan saat ini adalah Vince. Bagaimana bisa Vince benar-benar pergi secepat ini? Rasanya sangat mustahil untuk Anna percayai.Tapi kenyataannya berkata demikian, ini benar-benar diluar dugaan siapapun. "Apa yang sebenarnya kau pikirkan?" Leo menatap Anna. "Bawa aku menemuinya." "Hah?" Anna memegang kedua tangan Leo dan menatapnya dengan tatapan memelas, "aku ingin menemuinya sebelum ia benar-benar pergi, kumohon ajak aku bersamamu." Leo menghela nafas pelan, "baiklah." "Terimakasih." Anna berjalan lebih dulu, ia bahkan tidak peduli dengan kelasnya hari ini. Ia juga belum menemui David untuk memberitahu segalanya. Tujuan Anna hanya Vince, pria itu benar-benar akan pergi. Sedangkan Leo, pria itu tetap tenang dan berjalan tepat dibelakang Anna. Setibanya di parkiran, Leo langsung menarik Anna untuk masuk ke dalam mobil. "Jangan lupa memasang seat belt," ujar Leo. Anna sepertinya tidak fokus, ia bahkan tidak mengindahkan ucapan Leo. Ia hanya diam membisu menatap kearah depan dengan tatapan kosong. Leo melirik Anna sekilas, tanpa pikir panjang ia mendekatkan tubuhnya kearah Anna bermaksud untuk memasangkannya seat belt. Disaat yang bersamaan Anna menoleh kearah Leo sehingga tatapan mereka bertemu, Anna bahkan bisa mendengar dan menghirup deru nafas Leo. Untuk beberapa saat mereka sama-sama diam pada posisi tersebut hingga akhirnya memalingkan wajahnya kearah depan. Leo kembali ke posisinya semula, sedangkan Anna masih menatap lurus ke depan. "Pakai seat beltmu!" "Hah?" "Seat belt!!" seru Leo. Setelah itu Anna langsung memasang seat belt, lalu Leo mulai melajukan mobilnya meninggalkan area kampus. "Kau tidak memberitahu sahabatmu dahulu bahwa kau pergi bersamaku?" Leo memulai pembicaraan, ia tidak ingin hanya ada keheningan diantara mereka. "Tidak." "Bagaimana jika ia menelepon ayahmu dan bertanya kau ada dimana?" Anna menoleh menatap Leo, benar juga. Bagaimana jika David menelepon ayahnya dan mengatakan Anna tidak ada di kampus? "Baiklah, aku akan menghubunginya nanti." "Oke." "Apa mereka mungkin sudah pergi?" Leo menghela nafas pelan, "tiketnya berangkat pada pukul 7 nanti malam, kita masih mempunyai waktu beberapa jam lagi." "Syukurlah." Anna menatap kearah luar jendela, satu bulir jatuh membasahi pipi mulus Anna. Apa yang akan ia katakan nanti seumpama Vince menanyakan untuk apa ia datang? Bagaimana bisa nanti ia bicara pada Vince ketika ada Veronica? Apa mungkin Anna bisa memeluk Vince untuk terakhir kalinya? Dret dret dret!! Ponsel Leo berdering, Anna langsung menoleh menatap Leo. "Halo?" "..." "Benarkah? Secepat itu?" "..." "Padahal aku baru ingin kesana, bagaimana sekarang?" "..." "Iya, aku akan tiba sebentar lagi," ucap Leo sebelum menutup teleponnya. "Siapa?" tanya Anna dengan cepat sesaat setelah Leo menutup teleponnya. "Vince." "Kenapa? Ada apa? Apa ia batal pergi?" "Tidak." "Lalu?" "Keberangkatannya di percepat." "Apa?" Tubuh Anna rasanya sudah sangat lemas, kenapa semuanya berjalan begitu cepat? "Kita harus segera sampai!" titah Anna. "Mereka sudah dalam perjalanan menuju bandara." "Kalau begitu kita akan ke bandara," timpal Anna. "Baiklah." Leo mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah keramaian kota di siang hari. Kali ini mereka akan langsung ke bandara internasional. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Leo untuk sampai ke bandara. Mereka berdua telah tiba di bandara, Anna terlihat celingak-celinguk mencari keberadaan Vince dan juga Veronica. "Dimana mereka?" Anna menatap Leo dengan bingung, ia rasanya tidak tau harus mencari dimana Vince karena di bandara terlihat banyak sekali orang. "Aku akan meneleponnya." Leo mengeluarkan ponselnya, ia mencari nama Vince di ponselnya untuk ia hubungi. Tapi belum sempat Leo menghubungi Vince tiba-tiba Vince dan Veronica muncul sambil membawa koper. "Kalian disini?" tanya Veronica. "Kami datang menemuimu untuk mengucapkan selamat perpisahan," timpal Leo. Veronica melirik Anna yang sedari tadi hanya menatap Vince, "apa kalian ingin bicara?" Anna menggeleng lemah, bibirnya terasa kelu untuk berbicara, "aku... aku benar-benar berharap yang terbaik untuk kalian. Semoga apapun yang kalian rencanakan semuanya lancar. Aku sangat berharap demikian." "Terimakasih Anna. Aku tau kau adalah gadis yang sangat baik, aku harap kita bisa lebih dekat ya walaupun kami tidak akan menetap disini." Anna hanya bisa tersenyum sembari mengangguk mengiyakan. "Terimakasih sudah hadir disini, aku benar-benar menghargainya." Vince menghela nafas pelan sebelum melanjutkan ucapannya, "maaf kami tidak bisa bicara lebih lagi karena pesawat yang akan kami naiki akan berangkat sebentar lagi." Sebelum Vince pergi, ia dan Leo melakukan tos lalu berpelukan. Ini pertama kalinya mereka akn berpisah, walaupun ini berat bagi Leo, tapi ia harus merelakan kepergian sahabatnya itu, karena ia tau sumber kebahagiaan sahabatnya hanya Veronica. "Jaga dirimu." Veronica juga memberikan pelukan pada Leo sebelum ia pergi, "kami akan merindukan kalian. Dan untuk Anna, ku harap kau bisa menjaga Leo selama Vince tidak ada. Aku tau kau pasti bisa." Veronica dan Vince pergi secara beriringan, meninggalkan mereka berdua yang hanya bisa menatap punggung mereka yang perlahan mulai menjauh. Anna berusaha menahan tangisnya agar ua tidak menangis di hadapan Leo setelah melepas Vince pergi, taoi sekeras apapun ia berusaha memendam rasa sakit dan tangisnya Anna tetap tidak bisa menyembunyikannya. "Anna," panggil Leo. Anna menoleh ke arah Leo, bagaimana pun Anna berusaha menutupi kesedihannya Leo bisa tau hal itu. "Kau..." Anna terisak, ia benar-benar tidak bisa menutupi betapa teramat sangat sedihnya dia melepas Vince pergi. Leo juga tau seperti apa rasanya karena ia juga sama-sama merasakannya. Tanpa aba-aba Leo menarik Anna dalam pelukannya untuk memberikan ketenangan. Kali ini Anna tidak memberontak karena ia benar-benar membutuhkan seseorang untuk menumpahkan kesedihan yang ia rasakan saat ini. Anna terisak, hanya air mata yang bisa menggambarkan seperti apa suasana hatinya saat ini. Kali ini Leo tidak banyak bicara dan tidak mengatai Anna bahwa Annaitu cengeng, ia malah mengusap puncak kepala Anna agar Anna bisa merasa lebih tenang. Pernah dengar kata 'pasti ada pelangi setelah hujan?' Anna masih akan menunggu makna pelangi itu. Mungkin yang sebenarnya saat ini adalah Vince memang ditakdirkan bukan untuk Anna, dan Anna tidak bisa memaksa kehendak Tuhan, semua sudah ada yang mengaturnya. *** Leo menuntun Anna menuju mobil. Anna benar-benar sangat murung, ia merasa sangat kehilangan. Leo juga membantu Anna memang seat belt untuknya. Leo sepertinya tidak keberatan dengan caranya memperlakukan Anna. "Bagaimana perasaanmu, apakah kau merasa jauh lebih baik?" tanya Leo, sedari tadi ia menatap wajah Anna terus-menerus. "Ya." Leo menghela nafas, "kalau begitu aku akan mengantarmu pulang, bagaimana?" Anna menggeleng, ia tidak ingin pulang. "Lalu? Kemana aku akan membawamu?" "Aku ingin ikut denganmu." "Apa?!" Anna menoleh menatap Leo, "kumohon sekali lagi bawa aku bersamamu. Aku tidak ingin pulang atau bertemu dengan siapapun." "Kau tidak bisa terus seperti ini." "Bagaimana aku bisa menjelaskan seperti apa perasaanku saat ini?" imbuh Anna. "Aku mengerti seperti apa dan bagaimana perasaan mu saat ini, Anna. Tapi menghindar bukan jalan keluarnya." "Lalu apa yang harus aku lakukan? Bagaimana cara aku menghadapinya? Bagaimana cara aku menerima kenyataan bahwa Vince dan Veronica akan menikah, katakan!!" "Apa kau mencintainya?" Sorot mata Anna yang tadinya sayu kini berubah, ia menatap Leo seperti orang yang sedang kebingungan. Apakah pertanyaan Leo sangat sulit? "Apa kau mencintainya?" ulang Leo. Anna diam, ia menunduk. Anna tidak tau harus menjawab apa. Apakah perasaan yang selama ini ia rasakan bisa disebut sebagai 'cinta' ataukah ini hanya sebuah rasa yang dialami setiap orang jika orang terdekatnya akan pergi? "Jawabannya adalah tidak. Kau sebenarnya tidak mencintai Vince. Perasaan yang ada di hatimu saja hanyalah sebatas rasa kagum saja. Jika itu rasa cinta kau pasti dengan jelas mengatakan bahwa kau sangat-sangat mencintai Vince. Tapi apa? Kau bahkan tidak bisa menjawab peetanyaanku." "A-aku... aku tidak tau." Leo mengangguk, ie kemudian menyalakan mesin mobilnya dan pergi berniat untuk mengantarkan Anna pulang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD