Cemas

1430 Words
Sudah hampir satu minggu setelah kepergian Vince. Anna masih sama. Ia masih murung dan berdiam diri di kamar, ia bahkan sudah satu minggu tidak masuk kampus karena sakit. James benar-benar merasa sangat khawatir, ia juga sampai cuti beberapa hari untuk menemani putrinya di rumah karena Anna tidak ingin dirawat di rumah sakit. Anna tidak banyak bicara, nafsu makannya pun berkurang. Setiap kali James bicara pada Anna, Anna seolah-olah mengabaikannya. James tidak tau apa yang terjadi pada putrinya sampai ia seperti ini. "Anna," Anna menoleh kearah pintu, ia melihat David datang sambil membawa parsel. Ia masuk dalam kamar Anna lalu meletakkan parsel yang ia bawa di meja nakas. "Bagaimana perasaanmu?" tanya David lagi. Anna tampaknya masih tidak ingin bicara, ia hanya diam. Wajahnya terlihat sangat pucat. "Apa kau tau? Semua orang sangat mencemaskanmu. Ayahmu juga terlihat sangat khawatir dengan kondisi mu saat ini. Jika kau terus seperti ini bagaimana bisa ayahmu merasa tenang?" David duduk di samping Anna, "sampai kapan kau akan terus diam seperti ini?" Anna tetap tidak menjawab. David benar-benar merasa sangat bingung. Setelah kepergian Anna waktu itu yang tiba-tiba saja pergi bersama Leo, Anna mendadak menjadi orang yang pendiam. David yakin bahwa penyebab utama mengapa Anna seperti ini adalah Leo karena setelah Anna pergi bersama Leo, Anna mendadak sakit dan juga tidak banyak bicara. Jadi orang yang seharusnya di salahkan adalah Leo. "Jaga dirimu, istirahat yang cukup. Aku akan kembali besok setelah pulang dari kampus." David bangkit, ia keluar dari kamar Anna. Saat menuruni anak tangga, James menghentikan David. "Kau mau kemana?" tanya James. "Paman, aku harus pergi sekarang." "Kau baru saja tiba, aku bahkan belum sempat membuatkan minuman untukmu. Tunggu sebentar lagi, kita akan bicara sambil meminum teh atau kopi," ujar James. "Tidak paman, aku buru-buru sekarang. Ada beberapa hal yang harus aku kerjakan, besok aku akan datang kesini lagi untuk menemui Anna." "Baiklah, besok paman benar-benar menunggu kedatanganmu. Jika sampai besok Anna tidak membaik, paman mungkin akan membawa Anna ke rumah sakit. Kau tau, paman benar-benar cemas dengan kondisi Anna saat ini." James terlihat benar-benar cemas, dari raut wajahnya saja sudah terlihat jelas bagaimana kecemasannya. "Tentu paman, paman tidak usah banyak pikiran. Semoga saja Anna bisa membaik besok, kalau begitu aku permisi untuk pamit." Setelah David berpamitan dengan James, ia segera pergi. Tujuannya saat ini adalah menemui Leo, ia harus beritahu apa yang terjadi sebenarnya. Ia akan mencari tahu mengapa Anna bisa jadi seperti ini. David menatap kearah rumah Vince, ia melihat ada motor Leo di dalam sana. Jujur saja, untuk ukuran pria seperti David ia mungkin tidak akan selamat jika berurusan dengan Leo, terlebih lagi anak-anak black catcher. Tapi kali ini David tidak akan tinggal diam, ia harus membuat Leo mengakui apa yang telah ia lakukan pada Anna. Tok tok tok!! Tok tok tok!! David mengetuk pintu rumah Leo, ia baru sadar ternyata rumahnya memiliki bel, ia buru-buru memencet belnya. Pintu terbuka, rupanya yang membuka pintu adalah Christ. "Untuk apa kau datang kesini?" Christ menatap David dengan tatapan tajam, ini pertama kalinta David berani seperti ini. "Aku datang untuk menemui Leo, dimana aku bisa menemuinya?" "Masuklah." Christ mempersilakan David masuk. Rupanya di dalam sana Leo sedang pesta minuman bersama teman-temannya entah untuk merayakan apa. "Kita kedatangan tamu," seru Christ. Seluruh pasang mata mengarah pada David terutama Leo. "Apa yang membawamu kesini?" tanya Leo, ia masih bersikap tenang. "Untuk bicara denganmu!" sarkas David. Suaranya terdengar sedikit berteriak, hal ini mwmbuat semua yang ada disana heran. Ia benar-benar tidak tau darimana David mendapatkan keberanian seperti ini. "Hal mendesak apa yang membawamu kesini?" "Kau adalah pria yang sangat menjijikkan!" Semua orang yang awalnya duduk kini berdiri dan menatap David dengan tatapan tajam dan tidak percaya dengan apa yang baru saja David katakan. Ia benar-benar mengatai Leo bahwa dia adalah pria yang sangat menjijikkan. "Entah rencana apa lagi yang kau buat untuk menyulitkan Anna!" "Rencana untuk menyulitkan Anna? Kau sebenarnya ingin mengatakan apa padaku?" Leo yang awalnya duduk kini bangkit lalu berjalan mendekati David. "Kau tidak perlu berpura-pura di depanku. Aku tau apa yang sebenarnya kau lakukan. Aku benar-benar tidak habis pikir denganmu Leo." "Bicara apa kau? Berani-beraninya datang kesini lalu bicara hal yang tidak jelas pada Leo, kau ingin ku habisi?" teriak Christ. Ia sudah bersiap-siap untuk memukul David tapi Leo menyuruhnya untuk tetap tenang. "Jujur saja, aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang ingin kau katakan. Memangnya apa yang telah ku perbuat pada Anna?" Leo masih tidak mengerti apa yang sebenarnya coba David katakan. "Setelah melukai Anna kau masih bisa tertawa dan minum-minum bersama teman-temanmu. Apa menurutmu mempermainkan orang lain itu menyenangkan?" "Bicara yang jelas! Aku tidak mengerti." David tertawa hambar, ia benar-benar sangat berani kali ini entah ia mendapat keberanian darimana. "Kau berlagak seperti orang yang tidak tau apa-apa." "Memang aku tidak tau apa-apa," sangkal Leo. "Tidak tau apa-apa? Ah benarkah? Bukannya Anna waktu itu pergi bersama mu?" Iya, Leo ingat seminggu yang lalu ia dan Anna pergi bersama untuk mengantarkan Vince dan Veronica, lalu ada apa? Mengapa David tiba-tiba datang dan marah-marah? "Lantas?" "Kau masih bertanya? Setelah dia pergi bersamamu, Anna kini sakit. Tubuhnya lemas, wajahnya pucat. Ia bahkan tidak nafsu makan, dan tidak ingin bicara dengan siapapun. Lantas setelah apa yang terjadi pada Anna siapa yang harus aku salahkan jika bukan dirimu? Kau adalah orang terakhir yang keluar bersama Anna waktu itu!" "Kalau begitu coba kau pikir. Alasan apa yang mungkin membuat Leo sampai melakukan hal itu pada gadis itu? Kurasa Leo tidak memiliki alasan yang jelas. Lagipula jika benar Leo yang pergi terakhir bersama Anna, apakah itu bisa menjamin bahwa yang membuat gadis itu seperti sekarang ini adalah ulah Leo?" George kini bersuara, pria dengan kulit exotic berwarna hitam itu kini mendekat ke arah David. Sedangkan Leo, pria itu hanya diam. Ia tidak menjawab dan sepertinya tidak peduli dengan tudingan David padanya. "Lalu menurutmu yang harus bertanggung jawab atas ini semua siapa lagi kalau bukan ketua gang mu ini, huh?" "Jujur saja, kau sekarang banyak bicara!" Christ mulai mengangkat tangannya, ia mendorong tubuh David hingga ia jatuh tersungkur. "Tutup mulutmu itu!!" "Christ, tenangkan dirimu. Jangan melakukan sesuatu padanya." "Biarkan aku menghabisinya!" teriak Christ. Pria ini memang tipe pria yang tidak bisa mengontrol emosinya sekalipun Leo memintanya untuk tetap tenang, Christ tetap tidak akan mengindahkan ucapan Leo. "Bawa dia keluar dari sini," perintah Leo. Anak-anak yang berada di rumah Leo langsung sigap, ia membantu David berdiri dan menyeretnya keluar dari rumah Leo. "Kau harus bertanggung jawab Leo. Lepaskan aku!!" teriak David. Ia berusaha melepaskan diri tapi ia tidak bisa. "Kenapa kau hanya diam saja?" Joshua menatap Leo dengan tatapan bingung, ini untuk pertama kalinya ia melihat Leo seperti ini. "Tak apa. Lanjutkan saja, aku akan ke kamarku sebentar." Leo pergi menuju kamarnya, ia benar-benar tidak tau bahwa efek dari kepergian Vince benar-benar berpengaruh besar pada Anna. Leo baru sadar, alasan mengapa selama beberapa hari terakhir ia tidak melihat Anna ada di kampus karena kondisi tubuh Anna benar-benar drop. Ternyata Vince benar-benar membuat Anna berubah jadi seperti ini. "Apa mungkin ini bisa disebut dengan cinta?" gumam Leo. Ia menatap jendela kamar Anna yang masih tertutup itu, ia benar-benar tidak menyangka efeknya akan sebesar ini. *** Disisi lain, James terlihat sibuk membuat bubur dari Anna. Menurut info yang ia dapatkan, jika seseorang sakit yang ia butuhkan adalah bubur yang masih hangat, itu akan membuat siapapun merasa jauh lebih baik. Ia terlihat sibuk membaca dan menonton di ponsel bagaimana cara membuat bubur dari situs-situs yang ada. "Ternyata sangat sulit juga," gumam James. Ia melakukan hal ini karena ia benar-benar merasa sangat khawatir dengan kondisi Anna. Anna juga menolak untuk dirawat, jadi hal itu membuat James bingung, ia juga takut. "Sebaiknya aku memulai dari mana, ya?" Saat ia benar-benar fokus tiba-tiba ponselnya berdering sehingga fokusnya teralihkan. Ia baru sajs mendapat telepon dari kantor polisi yang memintanya untuk segera datang ke kantor. James benar-benar bingung sekarang. Ia tidak mungkin meninggalkan Anna seorang diri, namun ia juga tidak bisa untuk tidak datang ke kantor, lalu apa yang harus ia lakukan? Apakah ia akan meninggalkan Anna untuk sementara waktu? Dengan terpaksa James harus pergi meninggalkan Anna. Ia segera bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Saat ia sudah selesai, James mendatangi kamar Anna untuk berpamitan dengannya. Ia membuka pintu kamar Anna dengan perlahan, terlihat Anna sedang menatap ke arah atas dengan tatapan kosong. "Ayah harus pergi sekarang. Tak apa kan jika ayah meninggalkan mu untuk sementara waktu? Ada beberapa hal yang harus ay—" "Iya." "Tak apa?" Anna mengangguk lemah, ia mengizinkan ayahnya untuk pergi. "Baiklah, ini untuk sebentar saja. Kau tunggu dirumah ya?" Setelah berpamitan James segera pergi untuk ke kantor. Sementara Anna masih diam dan terus menatap dengan tatapan kosong.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD