Menjenguk

1158 Words
Hari ini aku benar-benar merasa sendirian. Ayah pamit untuk berangkat kerja karena ada urusan mendadak, dan aku hanya berbaring di kasur king size sambil menatap langit-langit kamar dengan tatapan sendu. Tubuhku terasa sangat lemas, untuk bangun saja rasanya sangat sulit. Tapi ku paksakan untuk bangun, udara di kamar rasanya seperti sesak, aku tidak bisa menghirup udara segar. Dengan sedikit kekuatan yang kupunya, aku berusaha bangun dari tempat tidur. Tujuanku adalah membuka pintu balkon untuk membiarkan udara di sore hari masuk memenuhi seisi kamarku. Aku berjalan dengan langkah gontai menuju kearah pintu, tubuhku benar-benar sangat lemas. Aku tidak kuat menopang tubuhku sendiri, pandanganku pun terasa kabur. Saat membuka pintu, semilir angin disore hari menerpa wajahku rasanya sangat segar. Aku seperti ini karena terlalu memikirkan hal yang tidak penting, seperti Vince. Pria itu benar-benar merebut semangat hidupku, lalu bagaimana bisa aku mengatasi diriku sendiri? Aku teringat akan Vince, setiap waktu dan setiap saat. Bagaimana caraku agar bisa melupakannya? Kenapa rasanya sangat sulit sekali menerima keadaan ini? Tubuhku rasanya akan remuk ketika mengingat bahwa dia akan melangkah ke tahap yang lebih serius. Dan kenyataan yang teramat sangat menyakitiku adalah karena dia hanya menjadikan ku sebagai permainan, apakah aku seburuk itu hingga tidak ada satupun yang serius menjalin hubungan denganku? Setelah membuka pintu balkon, aku kembali pada tempat tidurku dan berbaring, aku tidak sanggup lagi untuk duduk atau semacamnya. Aku hanya menginginkan berbaring saja, ini bisa membuatku merasa jauh lebih baik. Tiba-tiba tanpa aku sadari, muncul sosok seorang pria tepat di ambang pintu, ia menatapku seraya tersenyum. "Untuk apa dia kesini?" batinku. Aku terdiam cukup lama dan mengamatinya yang masih berdiri diambang pintu, aku yakin dia kesini karena tau ayahku sudah pergi, ia juga pasti memanjat karena ia tidak mungkin lewat pintu depan. "Apa aku bisa masuk?" tanya Leo. Dia meminta izin sebelum masuk, jujur saja aku tidak bicara dengan siapapun saat ini. Aku mengangguk mengiyakan, membiarkan dia masuk. Ku lihat dia membawa tote bag lalu meletakkannya di meja nakas yang tidak jauh dari tempatnya berdiri tadi. "Bagaimana perasaanmu?" tanya Leo. "Lumayan." "Kenapa kau bisa sampai seperti ini? Apa ini karena Vince lagi? Jujur saja Anna aku benar-benar meminta padamu untuk stop memikirkannya karena dia sudah tunangan, sampai kapanpun dia tidak akan bisa menjadi milikmu, jadi lebih baik belajar untuk melupakannya karena suatu hari nanti kau pasti harus melupakannya," ujar Leo. "Inilah yang coba aku lakukan." Leo mendekat ke arahku, ia duduk tepat pada tepi ranjang. "Bolehkah aku menyentuh dahimu?" "Hah?" Aku menatap Leo dengan tatapan bingung, dia ingin menyentuh dahiku? Untuk apa? Apa untuk mengecek suhu tubuhku? Baiklah, aku mengangguk mengiyakan. Sesaat itu juga tangannya terangkat untuk menyentuh dahiku. Rasa pertama kali yang aku rasakan adalah dingin, tangannya seperti es. Lalu dia mulai mengusap dahiku, rasanya sangat nyaman. Aku menutup mataku perlahan menikmati setiap usapan tangan Leo dengan lembut. Ia seperti mengerti aku menikmatinya, tangannya yang dingin itu membuat dahiku terasa sejuk. Entah apa yang membuat Leo tiba-tiba memperlakukan aku seperti ini. Apa mungkin ini perintah dari Vince? Tapi jika tidak berarti Leo melakukannya dengan tulus? Haruskah aku senang karena ternyata Leo peduli padaku, atau justru aku akan bersikap biasa saja? "Oh iya, aku membawakan buah segar untukmu. Kata Joshua, buah bisa membuat orang merasa jauh lebih baik. Bagaimana jika aku membukakan buah untukmu?" Aku membuka mata perlahan, "tidak usah. Tetaplah disini." Entah apa yang membuatku seperti ini. Mungkin Leo merasa aneh karena tiba-tiba sikapku berubah padanya. "Baiklah." Cukup lama kami diam dan larut dalam pikiran masing-masing akhirnya Leo mulai membuka pembicaraan. Mungkin jika sama-sama diam dia merasa agak canggung. "Kapan ayahmu pulang?" "Itu... sepertinya tidak menentu. Kadang dia akan pulang cepat kadang juga pulang terlambat," jawabku. "Oh." Aku mencoba untuk bangun, rasanya aku ingin bersandar. Tapi sayang aku kesulitan menggerakkan badanku sendiri, untunglah Leo dengan sigap mau membantuku. "Terimakasih." "Tidak masalah." Rasanya aku ingin sekali menanyakan perihal Vince, ini sudah seminggu setelah kepergiannya apakah mungkin mereka telah tunangan? Atau menikah? "Omong-omong, bagaimana dengan mereka?" tanyaku dengan hati-hati. Leo menatapku, "ah iya. Mereka telah bertunangan kemarin." "Kau... kau tidak datang?" Leo menggeleng, "tidak. Mungkin aku akan datang saat mereka menikah. Sulit dipercaya bahwa mereka benar-benar akan menikah." "Aku pun sampai saat ini tidak mempercayainya," gumamku dalam hati. Aku masih tidak menyangka Vince benar-benar akan menikahi gadis yang ia cintai, yang merupakan masa lalunya itu. Harusnya aku merasa senang karena Vince akhirnya bisa bersatu dengan Veronica. Tapi bagiku ini terlalu cepat, mengapa mereka harus buru-buru? "Cuaca sore ini tampaknya sangat bagus, mau lihat?" ucapan Leo tiba-tiba mengagetkan ku dari lamunan. Aku menatapnya dengan tatapan bingung, mau lihat apa? "Apa?" "Langit sore, kau ingin lihat?" "Ah, kau tau aku... aku sama sekali tidak bertenaga untuk bangun. Kurasa ti—" "Aku akan menuntunmu, bagaimana?" Setelah dipikir-pikir aku setuju. Mungkin saja menghirup udara sore hari bisa membuatku merasa jauh lebih baik. Lagipula pemandangan yang paling indah adalah saat senja datang. Leo membantuku untuk turun dari atas kasur, ia memegangku dengan hati-hati. Jika boleh jujur Leo adalah pria yang lumayan. Dia tampan, dan juga baik, ya walaupun sedikit kasar dan dingin tapi jika seseorang bisa menarik perhatiannya pasti seluruh hal yang ada pada Leo akan mengarah padanya. Tapi yang membuatku bingung adalah mengapa Leo sampai tidak percaya akan cinta dan ia tampaknya tidak peduli dengan para gadis. Itu sedikit aneh. "Apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan?" Leo menatapku. "Bukan apa-apa." "Kau terus memperhatikanku, apa mungkin kau baru menyadari bahwa aku itu tampan? Ah iya, jangan-jangan kau ingin merubah pikiranmu bahwa sebenarnya aku ini lumayan juga daripada Vince?" Aku menepuk pundak Leo dengan pelan, "kau ini bicara apa? Ada-ada saja." Leo tertawa, entah apa yang membuatnya tertawa tapi ini adalah kali pertama aku melihatnya tertawa. "Kau lucu." "Ada apa dengannya?" batinku. *** Berkali-kali aku mendengar Leo menghela nafas. Entah apa yang mengganggu pikirannya saat ini. Ia menatap layar ponselnya dengan serius.. Leo ada disini sudah hampir 2 jam, dan selama itu juga kami tidak bertengkar atau semacamnya. "Kau sudah lama ada disini, mengapa tidak pulang?" tanyaku. Ia mengangkat kepalanya lalu menatapku, "kau ingin aku pergi? Ah tidak-tidak. Aku akan tetap disini sampai ayahmu pulang." "Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?" Leo diam, ia meletakkan ponselnya lalu beranjak mendekat kearahku. "Ada apa?" "Apa yang membuatmu sampai seperti ini?" tanyaku lagi. "Kenapa tiba-tiba kau terlihat baik dihadapanku? Apa karena Vince yang memintamu?" "Tidak, ini sama se—" "Jangan lakukan hal ini lagi, kau membuatku merasa aneh." "Ada apa denganmu, Anna? Kenapa kau mendadak dingin padaku? Bukannya sebelumnya kita baik-baik saja?" "Tidak ada. Aku hanya merasa bingung, hanya itu saja." Leo menghela nafas pelan, "baiklah. Kalau begitu aku akan pergi." Leo bangkit, ia berjalan menuju meja nakas untuk mengambil ponselnya dan jaket miliknya lalu pergi keluar dari kamarku. Apa aku terlalu berlebihan padanya? Aku hanya takut, aku takut jika ternyata lagi dan lagi aku dipermainkan. Apakah aku tidak bisa berpikir seperti itu?" Ketakutan yang aku rasakan bukan semata-mata karena aku tidak percaya pada Leo, tapi bagaimana jika benar aku hanya dipermainkan lagi? Aku benar-benar sudah lelah menghadapi semuanya, sungguh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD