Baikan

1386 Words
Bagaimana bisa mengakhiri hubungan yang sama sekali belum pernah dimulai? Hari ini Anna merasa jauh lebih baik. Ia bahkan sudah bisa bangun dari tempat tidur. Badannya terasa sangat segar setelah beberapa hari cuma bisa berbaring di tempat tidur saja. Anna beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Badannya benar-benar terasa lengket sekarang, ia harus mandi sesegera mungkin. Ini akibat selama seminggu ia benar-benar tidak mandi, bagaimana bisa ia mandi jika bangun dari tempat tidur saja Anna tidak bisa. Setelah selesai mandi, Anna bergegas turun untuk menemui ayahnya, mungkin saat ini ia masih duduk sambil meminum kopi dan membaca koran. Anna menuruni tiap anak tangga dengan langkah hati-hati. "Ayah?" Anna menyapa ayahnya seraya tersenyum. "Kau tampak terlihat segar, apa sekarang kau sudah merasa lebih baik?" Anna mengangguk, "iya, rasanya tubuhku terasa sangat nyaman ketika habis mandi. Ayah tau kan sudah seminggu aku tidak mandi." James tertawa menanggapi ucapan putri semata wayangnya itu, "tubuhmu pasti sangat lengket. "Iya, untung saja sekarang aku sudah bisa mandi." James menarik putrinya untuk duduk tepat disampingnya, ia mengusap lembut rambut Anna dengan penuh kasih sayang. "Jangan sakit lagi, ayah benar-benar khawatir. Kau tau, makan saja ayah rasanya tidak nafsu," ujar James. Anna tersenyum, "maaf karena aku telah membuat ayah khawatir." *** Hari ini Anna sudah bisa masuk kampus. Orang pertama yang ingin Anna temui tentu adalah David, pria itu pasti benar-benar khawatir dengan kondisi Anna. Anna juga ingat saat terakhir kali David datang ke rumah, Anna bahkan tidak bicara dengannya. Anna pergi dengan diantar James, hari ini James juga akan berangkat kerja. Sekarang ia sudah merasa jauh lebih tenang karena Anna sudah baikan. "Baiklah, kita sudah sampai nona. Silakan masuk," ucap James seraya tersenyum kearah putri semata wayangnya itu. "Aku akan masuk, hati-hati ayah." Anna mengecup pipi ayahnya sekilas sebelum keluar dari mobil. Saat ia keluar dari mobil rupanya David sudah menunggunya, Anna segera bergegas menemui David. "Bagaimana kabarmu?" tanya David. "Aku? Seperti yang kau lihat sekarang. Aku sudah lebih baik." "Syukurlah. Aku benar-benar merasa sangat khawatir dengan kondisimu waktu itu, aku bahkan sampai menemui Leo dan marah-marah padanya." "Apa?" Anna menatap David dengan tatapan bingung dan tidak percaya. "Iya, usai menemuimu waktu itu aku langsung datang ke rumah Leo. Entah apa yang ku pikirkan saat itu sampai aku benar-benar berani bicara kasar dengannya." David terlihat serius sekarang. "Kau datang menemui Leo? Sungguh?" Anna benar-benar tidak percaya dengan apa yang David katakan, ini benar-benar diluar dugaan. Mana mungkin David memiliki keberanian itu. Apa mungkin yang David katakan itu benar? Mungkin ia datang karena David yang telah bicara dengannya? "Kau mengatakan apa?" tanya Anna. "Aku berpikir bahwa yang membuatmu seperti ini ialah Leo. Ya maksudku, kau dan dia pergi bersama waktu itu dan saat pulang tiba-tiba saja kau merasa tidak enak badan dan sakit. Aku khawatir jika Leo melakukan sesuatu padamu." David menghela nafas pelan, "saat aku tiba di rumahnya, disana ternyata banyak anak-anak black catcher. Tapi anehnya Leo tidak menyuruh mereka memukulku. Entah apa yang pria itu rencanakan sebenarnya." "Vid, semua yang terjadi padaku tidak ada hubungannya dengan Leo. Dia sama sekali tidak bersalah dalam hal ini. Jangan salahkan dia, apalagi jika kau sampai beritahu ayahku soal ini, ini pasti akan menjadi masalah yang sangat besar untukku dan untuknya juga, kau mengerti maksudku bukan?" David mengangguk mengiyakan, "aku mengerti. Hanya saja aku terlalu khawatir denganmu. Maaf." "Tidak masalah, lebih baik kita segera masuk, ayo." *** Jam menunjukkan pukul 3, Anna dan David tidak ada kelas sama sekali. Mereka berdua memilih untuk ke perpustakaan mencari beberapa buku untuk nantinya mereka pinjam. Ditengah perjalanan mereka berdua berpapasan dengan Joshua dan Christ yang merupakan teman-teman Leo. "Anna?" panggil Joshua. Anna menoleh lalu menatapnya, ini pertama kalinya seseorang dari teman Leo menyapa dirinya. "Aku?" Anna menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan apakah dia yang barusan Joshua sapa. "Ya. Apa mungkin aku memanggil David dengan sebutan Anna?" "Ah iya, kau benar juga. Ada apa?" "Bagaimana kabarmu? Kudengar kau sakit, apa sekarang kau sudah baik-baik saja?" Anna mengangguk, "iya." "Syukurlah." "Kau tau darimana?" tanya Anna penasaran. Mungkin saja ia tau hal itu dari Leo. "Tentu saja temanmu. Dia datang ke rumah Leo lalu marah-marah dan menyalahkan Leo bahwa kau sakit karena ulah Leo," timpal Christ. "Ah iya, maaf untuk itu." "Maaf," sahut David. Ia menunduk, tampaknya ia malu. Anna menoleh kanan dan kiri, ia tidak menemukan Leo. Kemana pria itu? Kenapa hanya ada Joshua dan Christ saja. "Kau mencari Leo?" Joshua tampaknya memperhatikan gerak-gerik Anna, ia sepertinya mengerti. "Tidak." Anna menggeleng dengan cepat. Apakah gerak-geriknya langsung bisa terlihat dengan jelas? Ya ampun, Anna benar-benar sangat mudah di tebak. "Leo tidak masuk kampus hari ini. Katanya dia sedang tidak enak badan. Mungkin karena kelelahan." "Ah begitu, ya." "Kalau kau ingin menjenguknya datang saja temui dia, mungkin dia akan merasa baikan setelah melihatmu. Bukannya kemarin dia sempat datang untuk menje—" "Ah iya-iya, tentu. Aku akan datang nanti. Kalau begitu kami permisi, ayo." Anna menarik tangan David untuk segera pergi. Ia khawatir jika Joshua sampai mengatakan yang tidak-tidak tentu David akan memikirkan hal lain nantinya. Anna takut jika David nanti berpikir bahwa Anna dan Leo memiliki hubungan yang tidak ia ketahui. "Anna, aku perlu bicara denganmu. Ini benar-benar serius." David menatap Anna dengan tatapan yang serius, tampaknya ada suatu hal penting yang harus Anna ketahui. "Iya, katakan saja." "Dengar, Leo bukanlah pria sembarangan. Kau harus berhati-hati dengannya, terlebih lagi teman-temannya. Anna, tolong jangan pernah berhubungan dengan mereka lagi. Apa kau tidak terluka dengan kepergian Vince? Percayalah, mereka hanya ingin mempermainkanmu saja. Kau harus mendengarkan perkataanku sekali saja, hm?" ujar David. Entah apa yang sebenarnya David katakan sekarang. Ia berpikir bahwa Anna sebaiknya menjauhi Leo dan teman-temannya itu. Tapi mengapa ia seperti ini? "Vid, Leo dan teman-temannya bukanlah orang seburuk itu. Ya aku mengerti bahwa kau sangat mengkhawatirkan aku, tapi apakah boleh kita menganggap seseorang buruk padahal kita tidak tau seperti apa dirinya dan mengapa ia sampai melakukan itu. Apakah itu adil?" "Anna..." "David, aku tau Leo. Dia sama sekali tidak pernah menyakitiku. Bahkan untuk menyentuhku saja ia tidak pernah, lantas bagaimana bisa kau mengecap dia bahwa dia adalah pria yang buruk?" David diam, ia mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Ia tidak lagi menatap Anna. Mengapa rasanya ia tidak terima jika Anna membela Leo? Ia benar-benar khawatir pada Anna. "Bagaimana jika ayahmu tau kau dekat dengan pria-pria itu?" David kembali menoleh lalu menatap Anna. "Ayah tidak akan tau jika kau menutup mulutmu. Biarkan aku yang akan menjelaskan semua pada ayah, jika aku sudah benar-benar siap." David menghela nafas pelan, ia lagi-lagi akan setuju. "Baiklah, aku mengerti." "Terimakasih karena telah memahamiku lagi," seru Anna. Mereka kembali melanjutkan perjalanannya menuju perpustakaan. Kali ini mereka berdua hanya diam, masing-masing larut dalam pikirannya sendiri. Anna tidak menduga dengan apa yang telah ia katakan pada David tadi, entah darimana ia mendapatkan keberanian untuk mengatakan hal itu. Bukankah hal itu aneh? Kenapa rasanya ia ingin sekali membela Leo? Pria yang sebenarnya selalu membuat Anna merasa kesal. "Mengapa aku melakukannya?" Anna bertanya pada dirinya sendiri, mengapa ia harus melakukan itu. Rasanya benar-benar diluar dugaan, sungguh. *** Anna POV Sejak tadi aku hanya berputar-putar di antara tumpukan buku seperti orang yang kebingungan. Aku menoleh mencari David, tampaknya pria itu sudah menemukan buku yang ia cari. Sejak tadi aku merasa sangat gelisah, entah apa yang terjadi padaku lagi. Aku sulit untuk berkonsentrasi. Perhatianku selalu saja tidak fokus. Aku teringat akan Leo. Bagaimana kondisi pria itu? Tapi jika kupikir-pikir mengapa aku harus repot-repot memikirkannya? Kami bahkan tidak sedekat itu. Aku kembali ingat perkataan Veronica. Ia memintaku untuk menjaga Leo, oh ya ampun kenapa aku harus mendengarkan apa katanya? Tapi bukankah itu sebuah Amanah? "Apa sebaiknya aku melihat kondisinya?" Baiklah, aku akan melihat dia. Dengan langkah ragu-ragu aku datang menghampiri David yang tampak serius membaca buku. "Kau sudah menemukan buku yang kau cari?" ujar David seraya menatapku.. Aku menggeleng, "tidak. Tapi... sepertinya aku harus pergi sekarang. Maaf aku tidak bisa menemanimu disini. Aku ada urusan mendadak, dan ini tidak bisa aku tunda." "Jadi, kau akan pergi?" "Iya, aku harus pergi sekarang. Maaf, ya?" David mengangguk pasrah, "baiklah. Hati-hati, jika ada apa-apa tolong jangan sungkan untuk menghubungiku, hm?" "Iya," kataku dengan cepat. Jika boleh jujur penampilan David memang masih sama, tapi ia tampak lebih tegas dari biasanya. Ia benar-benar sudah berubah saat ini. Aku mengambil barang-barangku sebelum benar-benar pergi. Setelah itu aku berpamitan pada David lalu segera keluar dari perpustakaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD