13. Umpan

747 Words
Helikopter biru itu perlahan naik meninggalkan halaman Mansion Xeyren Crow. Suara baling-baling memecah keheningan malam, bergema di atas hutan dan danau kecil di sekeliling properti yang tampak indah namun mencekam. Di dalam kabin, Luca Montclair duduk tegak di kursi dengan wajahnya yang tegang. "Bagaimana pertemuan Anda dengan Xeyren Crow, Tuan Montclair?” Tanya seorang pria bertubuh kurus dan tinggi yang duduk di sampingnya. Pria itu bernama bernama Alistair Dubois, orang kepercayaan Luca yang paling bisa diandalkan. Alistair menatap Luca dengan serius. Suaranya tenang, namun mengandung kekhawatiran yang sulit disembunyikan. Luca mendesah pelan lalu menundukkan kepala sejenak, membiarkan matanya menatap ke luar jendela. “Sepertinya… aku yakin Daniela masih hidup,” ucapnya pelan, meskipun hampir tersendat oleh perasaan cemas dan bersalah yang menumpuk. “Aku akan mencari cara untuk menyelamatkannya dari cengkeraman Xeyren. Aku tidak bisa membiarkannya berada dalam bahaya begitu saja.” Alistair mengangguk pelan, kemudian menatap Luca dengan tatapan antara hormat dan kekhawatiran. “Tapi Tuan… Xeyren Crow bukan pria yang bisa diremehkan. Ia kejam, tanpa belas kasihan terhadap musuh. Jika ia mengetahui identitas Daniela sebagai mata-mata… risiko terbesar mungkin sudah terjadi pada Daniela.” Luca menarik napas dalam-dalam, menahan perasaan yang mengganggu pikirannya. . “Aku terlalu percaya bahwa ia akan baik-baik saja, tapi ternyata aku salah. Salah besar.” Alistair menepuk bahu Luca dengan ringan. “Anda tidak bisa menyesali apa yang terjadi. Yang bisa kita lakukan hanyalah memastikan langkah selanjutnya." Luca menutup mata sejenak, sebelum menghela napas panjang. Pikiran tentang Daniela telah menyita seluruh ruang di benaknya. Gadis itu, yang sejak awal dipercayainya untuk menggali informasi tentang Xeyren Crow, kini terjebak dalam dunia yang lebih berbahaya daripada yang bisa ia bayangkan. Luca merasakan penyesalan di dadanya, campuran rasa bersalah dan dorongan untuk segera menebus kesalahan itu. “Aku akan membawa Daniela dalam keadaan hidup dan selamat," ucapnya berjanji. Ia menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke depan, seolah baru saja menyusun sesuatu di kepalanya. “Alistair,” panggilnya pelan. “Ya, Tuan.” “Kau masih ingat siapa saja tamu tetap Xeyren dalam tiga bulan terakhir?” Alistair sedikit mengernyit, tidak langsung menjawab. “Beberapa nama besar… kolektor senjata, investor bayangan, dan~” “Bukan itu.” Luca memotong, suaranya tenang namun tajam. “Aku tidak butuh daftar orang pentingnya.” Alistair terdiam ketika Luca menoleh ke arahnya dengan tatapan yang menusuk. “Aku butuh daftar orang yang tidak penting seperti teknisi atau kurir.” Alistair kini menatapnya penuh perhatian. “Apa rencana Anda?” Luca tersenyum tipis. “Kita akan masuk lagi ke Mansion itu.” Alistair langsung menegang. “Itu mustahil. Setelah pertemuan tadi, keamanan di sana pasti dilipatgandakan.” “Justru bagus,” jawab Luca santai, namun justru membuat Alistair terdiam. “Semakin ketat penjagaan,” lanjut Luca, “semakin mudah membaca polanya.” Luca menggerakkan tubuhnya sedikit. “Dan semakin kecil kemungkinan mereka mencurigai sesuatu yang seharusnya tidak berbahaya.” Alistair menghela napas pelan. “Jadi kita menyusup lewat jalur logistik?” “Tidak.” Jawab Luca cepat sekaligus tegas, dan membuat Alistair menatapnya bingung. Luca menoleh ke arah Alistair. “Kita tidak menyusup, tapi diundang.” Alistair mengerutkan kening. “Diundang… oleh siapa?” Senyum Luca perlahan melebar, namun tidak ada kehangatan di sana. “Xeyren sendiri.” Alistair benar-benar terkejut kali ini. “Itu tidak masuk akal.” “Memang,” jawab Luca ringan. “Makanya dia tidak akan melihatnya sebagai ancaman.” Luca kembali menatap ke luar jendela helikopter. Lampu-lampu kota kini semakin jelas. “Xeyren adalah tipe pria yang tidak suka kehilangan kendali,” lanjutnya pelan. “Jika dia merasa ada sesuatu yang belum selesai… maka dia pasti akan ingin memastikan sendiri.” Alistair mulai memahami. “Dan Anda akan memberinya alasan untuk itu?" Luca mengangguk tipis. “Bukan alasan, tapi sebuah umpan.” Ia berhenti sejenak. Lalu menatap lurus ke depan. "Sebarkan kabar bahwa aku akan mengadakan sebuah lelang secara privat.” Alistair mengangkat alis. “Lelang apa?” “Informasi tentang jaringan internal Xeyren.” Alistair pun langsung menegang. “Itu bisa memancing perang.” Luca menyilangkan tangannya. “Memang tujuannya itu.” “Xeyren tidak akan mengabaikan sesuatu seperti itu. Dia akan datang… atau mengirim orang kepercayaannya. Dan saat itu juga, kita akan masuk.” Alistair terdiam beberapa detik untuk mencerna serta menghitung risiko laou perlahan mengangguk ragu. “Itu berbahaya.” “Tentu saja," sahut Luca. “Dan jika jebakan ini malah berbalik?” Luca tersenyum lagi. “Semua rencana berpotensi menjadi jebakan balik, Alistair. Tinggal siapa yang lebih dulu menyadarinya.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD