Lovelle terbangun dalam keadaan setengah sadar serta rasa nyeri yang menjalar di seluruh tubuhnya.
Nyeri yang berat dan menetap, seolah setiap bagian dirinya baru saja dipaksa melewati sesuatu yang tidak semestinya.
Ia mengernyit.
Tangannya terangkat perlahan, menekan pelipisnya yang berdenyut.
Kepalanya yang masih terasa pusing membuat pandangannya buram selama beberapa detik.
Ia lalu menatap langit-langit kamar yang dingin dan asing, serta langsung mengingatkannya pada satu hal.
Yaitu tentang semalam.
Lovelle memejamkan mata sejenak, sambil mengutuk dalam hati.
"Argh, Xeyren Crow itu benar-benar keji dan keterlaluan!"
Lovelle menarik napas perlahan, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Ini semua gara-gara ucapannya sendiri, tentang Luca dan hubungan mereka.
Sebuah kebohongan yang awalnya ia gunakan sebagai tameng, namun justru menjadi pemicu dari kegilaan sikap Xeyren semalam.
Lovelle membuka matanya perlahan.
Tatapannya kosong, namun pikirannya bekerja cepat.
Aneh.
Dalam cerita asli, Daniela mati dengan cepat, dan Luca sama sekali tidak datang untuk mencari Daniela.
Mayat Daniela dibuang ke sungai dan ditemukan oleh warga hingga akhirnya berita itu pun sampai ke telinga Luca.
Di cerita asli, Luca pun tahu siapa yang membunuh Daniela.
Namun pria itu tetap diam, seolah kematian itu hanyalah bagian dari risiko yang sudah diperhitungkan sejak awal.
Dingin dan logis, seperti itulah Luca Montclair di dalam cerita.
Lalu… kenapa semalam Luca datang?
Alis Lovelle sedikit berkerut saat mengulang kembali setiap detail.
'Kenapa semalam Xeyren tiba-tiba bertanya tentang hubunganku dengan Luca?" guman Lovelle bermonolog, sebelum ia menghembuskan napas panjang.
Sepertinya alur cerita tidak lagi berjalan seperti yang ia ingat.
Sedikit demi sedikit, semuanya mulai bergeser.
Dan satu-satunya variabel yang membuat alurnya menjadi berbeda, adalah dirinya.
Daniela yang seharusnya sudah mati, namun hingga kini masih hidup.
Apakah ini semua adalah dampaknya?
Jika iya, maka masa depan tidak akan lagi bisa ia prediksi dengan pasti.
***
Pagi itu, udara kota terasa dingin dan bersih.
Sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan gedung tinggi berlapis kaca, pusat dari kekuasaan yang diam-diam menggerakkan banyak hal di balik layar.
Crow Corp.
Pintu mobil itu pun terbuka, dan Xeyren keluar dengan langkah tenang.
Setelan hitamnya rapi tanpa cela, ekspresi wajahnnya datar meskipun tampan seperti biasa.
Beberapa pria berbadan besar langsung mengelilinginya secara otomatis, membentuk lapisan pengamanan yang rapat.
Pintu gedung terbuka otomatis saat ia mendekat.
Namun sebelum ia sempat melangkah masuk, salah satu pria di sampingnya mendekat sedikit.
“Tuan Crow.”
Xeyren tidak berhenti. “Hm.”
“Ada informasi yang baru masuk.”
Langkah Xeyren kini mulai melambat… tapi tetap tidak berhenti.
“Bicaralah.”
Pria itu menelan ludah sebentar sebelum melanjutkan. “Luca Montclair akan mengadakan sebuah lelang privat.”
Langkah Xeyren akhirnya berhenti. Lalu perlahan, ia menoleh.
“Lelang?” ulangnya pelan.
“Ya, Tuan. Lelang informasi.”
Mata kelabu gelap itu pun tampak menyipit penuh minat.
“Informasi apa?”
Pria itu ragu sepersekian detik. “Diduga… berkaitan dengan jaringan internal kita.”
Beberapa detik berlalu dalam hening, sebelum Xeyren tersenyum tipis.
“Berani sekali dia,” gumannya pelan dengan tatapan yang mulai sedikit berubah sedikit menjadi mllebih hidup.
“Lokasinya?”
“Belum dipastikan. Undangan akan dikirim terbatas.”
Xeyren mengangguk kecil, lalu kembali melangkah masuk ke dalam gedung dengan langkah yang kini sedikit lebih ringan.
Apakah ini umpan? Bisa jadi.
Namun setelah kedatangan Luca semalam ke Mansionnya, Xeyren kini lebih menaruh perhatian pada langkah Luca selanjutnya.
Menarik sekali.
“Atur agar kita mendapat undangan itu,” ucapnya santai.
“Baik, Tuan.”
***
Siang hari lantai puncak di Crow Corp. terasa sunyi, meskipun aktivitas di lantai-lantai bawah tetap berjalan seperti biasa.
Di balik dinding kaca besar, Xeyren duduk tegak dan diam di kursinya.
Tatapannya tertuju pada layar di depannya, namun pikirannya jelas tidak sepenuhnya berada di sana.
Laporan keuangan, jalur distribusi, pergerakan aset, semuanya terbaca rapi.
Namun ada sesuatu yang lebih menarik dari sekadar angka.
Jemarinya berhenti bergerak, lalu ia menyandarkan tubuhnya disertai senyum samar yangh nyaris tak terlihat di wajahnya.
Tanpa menoleh, ia menekan tombol interkom di meja.
“Masuk.”
Pintu pun terbuka beberapa detik kemudian.
Sekretarisnya, seorang wanita muda melangkah masuk dengan sikap tenang dan profesional.
“Tolong hubungi Christian dan katakan agar membawa gadis itu ke sini, Linda.”
Linda menunduk. “Baik,Tuan.”
“Dan satu lagi,” lanjut Xeyren, suaranya turun lebih menjadi rendah.
“Tidak boleh ada satu orang pun yang tahu tentang keberadaannya.”
Linda mengangguk. “Dimengerti, Tuan Crow.”
***