Happy Reading ...
"Again?" gumam Agas, pandangannya menerawang jauh.
Entah apa yang terjadi dengan teman sebangkunya itu, yang jelas ini sudah hari ketiga Yonathan absen dari sekolah. Kalau dibiarkan begini maka besok wali kelas pasti akan menghubungi orang tua Yonathan untuk menanyakannya secara langsung karena sebelumnya Agas lah yang sudah berinisiatif memberi alasan pada sang guru atas nama Yonathan, hal yang selama ini Yonathan lakukan kalau Agas berhalangan hadir. Namun, jujur saja Agas tidak pernah menjadi setidak tahu diri ini. 3 hari berturut-turut? hal penting apa yang bisa jauh lebih penting dari yang selama ini cowok itu selalu pentingkan.
"Raf!" panggil Agas, menepuk punggung Raffan yang tengah fokus dengan aktifitasnya.
Tak ada sahutan.
"Woyy, Raffan ..." Agas meninggikan bisikan suaranya, tapi tetap saja kawannya itu sama sekali tidak mengacuhkan walau sebenarnya Agas tahu Raffan sengaja melakukan itu.
Tampaknya Raffan sedang menguji kemampuannya. Baiklah, bukan Agas namanya kalau sampai kehabisan akal. Raffan mungkin bisa mengabaikan sentilan pada punggungnya, tapi sekarang Agas tidak yakin kalau Raffan akan tetap fokus kalau sekarang kursinya ia buat goyang-goyang.
"Bisa diem, gak?" kesal Raffan, habis kesabaran.
"Nggak, sebelum lo ..." belum selesai Agas bicara, Raffan sudah kembali membenarkan tempat duduknya.
"Raffan!!"
Kembali tak mendapati sahutan.
"Ck!"
Kini giliran Agas yang hilang kesabaran. "Lo lagi ngapain, sih? kok b***t," berjalan ke depan bangku Raffan.
"Menata masa depan."
"Masa depan?" mata Agas menyipit, "what?! ini kan PR buat dikumpulin besok, ngapain dikerjain sekarang?"
"Bukankah lebih cepat lebih baik?"
Agas segera menggeleng tak setuju. Bukan, bukan mengenai pernyataannya, tetapi kebiasaan Raffan yang semakin mendekati Yonathan.
"Punya 1 temen kayak Nathan aja udah cukup, lo gak usah ikut-ikutan, Njir."
Agas menutup buku catatan milik Raffan, "ikut gue."
"Bolos?" tebak Raffan benar, "ogah!"
"Kalau mau ke jatoh ke jurang, jatoh aja sendiri jangan ajak-ajak."
"Astagfirullah, mulutnya?!"
"Masalahnya temen lo ada yang hampir jatoh ke jurang, lo gak mau nolongin?"
"Siapa? Nathan lagi?" Raffan mencebikkan bibirnya, "jatoh ke hamparan bunga kali. Udah, lo gak usah overthinking."
Mendengar hal itu, lantas membuat kening Agas mengerut.
"Lo sembunyiin sesuatu?" tilik Agas, mulai mencium bau-bau ketidaktahuan dirinya. "Raffan plis, gue butuh tahu."
Tak tega dengan raut wajah Agas, Raffan pun akhirnya membisikkan sesuatu.
"Gue gak cepu, ya. Berhubung sama lo doang."
"Ke warnet?" lontar Agas keras.
Belum 1 menit Raffan bicara, sengaja pelan agar hanya Agas yang dengar dan cowok itu malah seperti membuat pengumuman.
"Nathan ke warnet? hahaha."
Agas mengulanginya lagi dan bahkan semakin jelas. Tapi kali ini dengan disertai tawa yang terpingkal-pingkal. Bukan karena percaya, melainkan Agas masih menganggap semua perkataan Raffan hanyalah mengada-ngada.
"Gak usah ngadi-ngadi deh."
Hening.
"Serius?" Agas kembali berkata, sebenarnya ia sama sekali tak mau percaya, hanya saja wajah Raffan sama sekali tidak terlihat bau-bau kebohongan.
2 hari yang lalu.
Hari sudah hampir gelap. Raffan pun menutup layar komputer yang sudah ia pakai sejak 3 jam lalu, waktu yang seharusnya ia pakai untuk mengikuti les. Belum cukup kah 8 jam nerkutat dengan buku? belum lagi guru privat yang pasti sudah menantinya di rumah. Meski nantinya akan ketahuan, setidaknya Raffan sudah merasakan kesenangannya.
Raffan sudah berada di depan meja yang seharusnya si penjaga berada di sana, tapi ia tidak menemukannya. Matanya mengedar sampai berhenti di sudut ruangan, seseorang yang ia cari ada di antara sekat komputer yang paling ujung.
"Aduh gimana ini? lu yang bangunin dah."
"Kok gua? 'kan lo yang jaga."
Dua orang pria terlihat saling tuduh yang entah sedang mempermasalahkan apa. Tanpa pertimbangan, Raffan pun melontarkan maksudnya, membuat salah satu di antara mereka memilih untuk kembali ke meja, tempat komputer utama.
Sebenarnya tak ada yang aneh, hanya saja ujung mata Raffan melihat sesuatu yang berhasil menarik perhatian seutuhnya. Seragam SMA Pelita, sebab selama bertahun-tahun Raffan sering menghabiskan waktu, belum pernah sekali pun ia melihat seorang siswa yang berasal dari sekolahnya kemari.
"Nathan?"
Saking terkejutnya, Raffan bahkan hampir terjungkal, untung saja tangannya segera meraih partisi yang ada di sampingnya.
"Lo kenal anak ini?"
"Huh?"
Keterkejutan Raffan belum selesai, membuatnya tak sempat seolah-olah tak kenal. Akibatnya, Raffan menjadi tumbal di sini. Selain harus membawa orang tidur, Raffan juga harus membayar tagihan yang membludak. Bukan main-main. Dari pagi? yang benar saja, apa yang cowok itu lakukan selama itu? apakah dalam waktu sehari cukup membuatnya ketagihan bermain game?
Flashback off
"Wuah, daebak!"
seseorang bersorak, menyadarkan Raffan kalau ternyata yang tengah mendengarkan ceritanya bukan hanya Agas saja, melainkan hampir satu kelas. Sesuatu yang tadinya biar hanya ia saja yang tahu, menjadi rahasia umum.
"Kenapa gak ngasih tahu kalau mereka ikut denger?!"
Agas mengerjap, pandangannya pun ikut mengedar. Cukup menjelaskqn kalau Agas pun tak tahu-menahu mengenai hal ini karena saking fokusnya.
"Kok gue terharu, ya?" ujar seseorang lain, "seneng banget gila, denger Nathan lepas sama buku."
"Yoi dong ... Akhirnya dia normal juga."
Sepertinya tak ada satu pun hujatan yang terdengar.
"Gak akan ada yang cepu sampe guru, 'kan?"
Terdengar suara jentikan jari.
"Eh istirahat udah hampir habis nih, kantin yuk?"
"Pantesan laper. Ayok."
Satu per satu dari mereka pun undur diri, tidak seperti habis mendengar berita mengejutkan apa pun. Sekaramg bahkan mereka sudah kembali sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, seolah yang mereka dengar tadi hanyalah hembusan angin.
"Gas?"
Psstt!
Telunjuk Agas mendarat tepat pada bibir Raffan. "Lo tenang aja. Everything it's gonna be okay."
Jauh berbeda dengan sebelumnya, wajah Agas kini tampak santai. "Silakan, lanjutkan menata masa depannya," ucapannya terjeda akibat gas yang keluar dari mulutnya. "Gue mau lanjut tidur. Ngantuk banget, semalem habis ngonten."
Bisa jadi yang terjadi pada Yonathan adalah sebagai luapannya yang selama ini terlalu suka dengan belajar, hanya tau belajar, dan bahkan tidak tertarik mengenai apa pun selain belajar saja. Jadi, setelah Yonathan keluar dari zona nyamannya maka ini lah yang terjadi. Setidaknya itu lah yang terlintas dari pikiran Agas. Memang normalnya manusia itu tidak terlalu lurus, seharusnya mengalami sedikit jalan terjal dan menanjak.
Benar. Yang orang-orang itu pikirkan memang benar. Saat ini Yonathan tengah disibukkan dengan tumpukan buku-buku, bahkan jauh lebih banyak dari yang biasanya karena yang sekarang Yonathan coba bongkar merupakan bidang yang sama sekali tidak pernah ia sentuh.
Mulai dari sejarah--siapa, kapan, dan bagaimana sebuah game online pertama kali muncul, tanpa tanggung-tanggung Yonathan bahkan sampai mempelajari tentang bagaimana sebuah game dibuat hingga akhirnya bisa dimainkan dan dinikmati orang banyak. Mulai dari merancang cerita, merancang karakter, membuat animasi dan storyboard, membuat user interface, programming, proses produksi game tersebut, hingga distribusinya.
Bukankah Yonathan sangat suka dengan belajar? ya, benar lagi. Tapi tidak berlangsung lama karena semua itu berhenti ketika pada akhirnya Yonathan sama sekali tak bisa mendapatkan jawaban atas kebingungannya. Bagaimana caranya karakter dari dalam sebuah game dapat berinteraksi? jawaban pastinya hanya ada 1, yaitu ilmu spriritual. Hantu. Hal yang bahkan tidak terbukti secara ilmiah.
"Hantu? haha jaman udah secanggih ini masih percaya begituan?"
Lihat. Bahkan karakter di dalam game yang menjadi sumber masalah saja mengejeknya, sekarang. Bisa-bisanya makhluk itu tidak saar dengan apa yang terjadi pada Yonathan adalah karena ulahnya.
"Cuma perlu selesaikan permainan, 'kan?"
Setelah lama menimbang-nimbang, akhirnya kalimat itu lah yang keluar.
"Pakek komputer jaman purba kayak gini?" balas si visual dalam layar, menghina elektronik yang bahkan ia diami. "Gimana bisa menang, kursornya aja udah macet."
"Terus?"
Layar komputer tiba-tiba beralih sendiri, menampilkan laman aplikasi belanja online yang di mana tanpa Yonathan utak-atik, seolah sistem bergerak sendiri untuk mengarahkan benda apa yang tengah menjadi kebutuhan. Tampaknya karakter game itu bukan hanya menyita waktunya, tapi juga berniat untuk menguras kantongnya.
To be continued ...