Arumi terbangun tepat saat alarm ponselnya berbunyi. Ia terkejut saat mendapati noda merah tepat di bawahnya. Tak heran saat noda itu ia temui pada malam pertamanya. Namun, setelah melakukan hal itu kesekian kalinya ia menyadari noda itu berasal dari tamu bulanannya.
Ia terdiam sesaat memandangi wajah suaminya yang terlelap. Begitu tenang dan penuh kehangatan hingga ia merasa tak tega untuk membangunkannya. Setelah beberapa menit berlalu, Reza terbangun Arumi bergegas menutupi noda itu.
"Ada apa?" tanya Reza heran melihat Arumi yang salah tingkah.
"B-bukan apa-apa," jawab Arumi tergagap.
Arumi berusaha menyembunyikan hal yang sebenarnya. Ia takut suaminya itu kecewa mengingat perkataannya semalam yang sangat menginginkan Arumi hamil. Namun, Reza tak bisa dibohongi. Ia tahu betul gelagat Arumi saat menyembunyikan sesuatu.
"Katakan! Ada apa?" tanya Reza kembali. Wajahnya sangat serius.
"Sepertinya aku datang bulan," ujar Arumi seraya menundukkan kepala.
"Apa? Secepat itu?" Sontak Reza membentak tanpa sadar. Kemudian ia keluar, membanting pintu, meninggalkan Arumi begitu saja.
Sesuai dugaan Arumi, Reza benar-benar kecewa. Namun, siapa yang ingin semua itu terjadi. Bahkan Arumi sendiri sudah memperingatkannya sejak awal bahwa hal itu mungkin saja terjadi. Akan tetapi, begitulah Reza, sejak dulu ia akan sangat marah jika kecewa.
Alih-alih segera ke kamar mandi Arumi memeluk lutut menangisi apa yang baru saja terjadi. Baginya kemarahan Reza merupakan sesuatu yang ingin dihindari, karena pria itu sulit sekali berdamai jika sudah diliputi amarah.
Di tempat lain Reza segera merendam diri di dalam air sejuk berharap rasa marahnya segera hilang. Ia menyesal telah semarah itu pada Arumi padahal datang bulan bukan Arumi yang mengatur. Namun, untuk meminta maaf pun ia berat hati karena tak biasa melakukannya.
Setelah merasa cukup, Reza bergegas membereskan kegiatan mandinya. Setelahnya ia segera mendirikan salat dua rakaat kemudian bersiap untuk berangkat kerja. Ini hari pertamanya kerja setelah cuti selama satu minggu.
Ia tak ke kamar Arumi karena baju serta tas kerjanya ada di kamar lain yang merupakan kamarnya sendiri. Arumi sendiri tak tahu tentang ini. Hingga setelah semua siap, tepat pukul setengah tujuh pagi Reza keluar kamar untuk segera pergi ke kantor.
Awalnya ia enggan menemui Arumi karena merasa malu dan bersalah, sedangkan untuk meminta maaf ia belum bisa. Namun, wanginya aroma nasi goreng buatan Arumi membuatnya terpaksa harus menemui istrinya itu sebelum pergi bekerja, karena ia tahu Arumi telah menyiapkan sarapan untuknya.
Saat Reza menuju dapur, Arumi tengah duduk bergeming seperti menunggu sesuatu. Matanya berbinar begitu melihat kedatangan Reza, Arumi segera menyiapkan makanan serta minuman untuk Reza. Keduanya menghabiskan sarapan dalam keheningan.
Setelah menghabiskan makannya, Reza bermaksud segera pergi. Namun, Arumi menahannya. Ia membenarkan dasi Reza yang sedikit berantakan lalu mencium punggung tangannya.
"Maafkan aku," ucap Arumi dengan suara tercekat karena menahan tangis.
Hati Reza semakin tersentuh. Sosok istri yang ia inginkan memang ada di diri Arumi. Akan tetapi, egonya yang tinggi membuat ia pergi begitu saja tanpa mengacuhkan istrinya. Reza bergegas menuju ke depan kemudian memasuki mobil yang telah dipanaskan supirnya sebelumnya.
[Dia sedang datang bulan]
Reza segera mengirimkan pesan kepada seseorang yang terus menghubunginya selama ini.
***
Seorang wanita paruh baya datang saat Arumi tengah menunggu mesin cuci yang sedang berputar. Ia mengenakan daster batik tangan panjang dengan kepala ditutupi jilbab instan lebar berwarna hitam. Arumi menduga bahwa wanita itu asisten rumah tangga yang dimaksud Reza kemarin.
"Assalamualaikum," sapanya seraya membungkukkan badan.
"Wa'alaikum salam," jawab Arumi ia mengangkat tubuh wanita paruh baya itu untuk tidak membungkuk.
"Maaf, Non Arumi. Saya Inah asisten rumah tangga di sini. I-itu ... bajunya biar saya aja yang selesaikan."
"Tidak, Bi. Mas Reza minta saya yang lakukan. Bi Inah cukup mengurus rumah saja."
"Ah, baiklah. Maaf ya, Non."
"Tidak apa-apa, Bi. Setelah selesai boleh minta bantu saya antar berkeliling?"
"Boleh, Non. T-tapi memangnya, Non belum berkeliling?"
"Sudah. Tapi banyak ruangan yang saya tidak tahu, jadi nanti sambil tanya-tanya boleh?"
"Baik, Non. Nanti saya temui Non kembali. Kalau gitu, saya izin undur untuk beres-beres ya, Non."
"Oh, iya. Silakan, Bi."
Sementara Bi Inah pergi, Arumi melanjutkan membersihkan pakaian suaminya. Sesekali ia masih terbayang kejadian pagi tadi yang membuat suaminya marah. Di sisi lain ia merasa heran mengapa Reza begitu sangat menginginkan ia segera hamil.
Setelah selesai, Arumi segera menjemur pakaian yang telah dicucinya. Kemudian ia berjalan mengitari sekeliling rumah yang belum sempat ia datangi.
Rumah ini memang sangat besar dengan halaman yang cukup luas. Terlebih lagi dengan halaman belakang. Selain gazebo, di bagian lain terdapat bangunan dengan ukuran sedang. Bentuknya yang seperti rumah seolah memang ada yang tinggal. Namun, sejauh ini yang Arumi tahu asisten rumah tangga serta supirnya tidak tinggal di sini.
Rumah itu terkunci sehingga Arumi tak bisa masuk ke dalam. Rasa penasarannya hanya terbayar sampai depan rumah saja. Ia tak bisa mengetahui lebih dari itu. Arumi pun memutuskan kembali ke rumah utama.
Bersamaan dengan itu, Bi Inah selesai mengerjakan tugasnya. Seperti permintaan Arumi sebelumnya, Bi Inah diminta untuk menemaninya berkeliling rumah dan sekitarnya.
Pertama Arumi meminta Bi Inah mengantarnya ke lantai atas. Sebetulnya tak ada yang aneh di sana, sebelum itu Arumi hanya melihat tiga kamar yang terkunci serta balkon di ujungnya yang sejajar dengan depan rumah. Namun, Arumi ingin tahu ruang apa itu dan mengapa terkunci.
"Bi Inah tahu, ini ruang apa?" tanya Arumi menunjuk ketiga ruangan berjajar.
"A-anu, memangnya kamar Non Arumi di mana?"
Arumi mengerutkan keningnya tapi tetap menjawab, "Di bawah."
Inah terlihat gusar. Ia bingung harus menjawab apa.
"I-ini ruang kerja Tuan Reza," tunjuk Arumi pada ruangan yang paling dekat dengannya.
"Kalau ini?" tanya Arumi menunjuk ruangan yangg berada di tengah.
"Ini ruang kerjanya."
"Satu lagi?"
"Emmm ... i-itu ...." Inah ragu untuk menjawab.
"Ruang apa?"
"Non, maaf sekali. Saya tidak bisa menjawab. Biar Non Arumi tahu dari Tuan Reza saja."
Sejujurnya Arumi kecewa, tapi apa boleh buat ia tak bisa memaksa wanita paruh baya di depannya. Namun, yang pasti banyak hal yang Arumi curigai saat ini. Ia yakin banyak yang disembunyikan Reza di rumah ini.
Setelah itu, Arumi mengajak Inah ke halaman belakang. Setelah ruangan yang berada di lantai dua, rumah di belakang menjadi tempat yang dicurigai Arumi selanjutnya.
"Bi Inah tahu tempat ini?"
Inah yang tak bisa berbohong hanya mengangguk sebagai tanda kejujurannya.
"Ini rumah siapa? Siapa yang tinggal di sini?"
"I-itu, awalnya saya tinggal di sini. Tapi sejak kemarin saya dipindahkan ke kontrakan yang tak jauh dari sini."
"Siapa yang memindahkannya?"
"Nyonya, Non."
"Nyonya?"
Inah tak lagi sanggup menjawab, ia hanya tertunduk seraya ketakutan. Dalam hatinya ia mengutuk diri karena keceplosan.