Bab 6

1034 Words
"Hari ini kita pulang!" ujar Reza begitu keluar dari kamar mandi. Arumi yang tengah merapikan pakaian mengangguk. "Aku belum tahu rumahmu yang sekarang, Mas. Jauh gak?" "Tidak, kok. Tiga puluh menit perjalanan." "Emmm oke. Aku beresin sekarang." Arumi segera merapikan pakaiannya serta pakaian Reza. Ia menghentikan geraknya saat menyadari sesuatu. "Aku gak banyak bawa pakaian, Mas. Gimana?" tanya Arumi kebingungan. "Tenang saja, nanti kita beli." "Ah, baiklah." Arumi tersenyum, ia benar-benar menikmati kebahagiaan menjadi istri Reza. Kemudian ia segera bersiap untuk bergegas pulang. Mereka tidak memutuskan untuk pulang ke rumah Arumi lebih dulu, sehingga begitu check out dari hotel, Reza segera membawanya menuju rumah dia. Mobil yang mereka tumpangi pun memasuki halaman rumah yang sangat luas. Sejak masuk gerbang Arumi sudah heran sekaligus berdecak kagum dengan kemewahan rumah yang tak pernah ia singgahi sebelumnya. Hingga di depan teras, mobil pun berhenti. Reza dengan cekatan keluar mobil lalu membukakan pintu untuk istrinya itu. Masih dengan rasa terkagum-kagum, Arumi melangkahkan kaki keluar. Matanya masih menatap takjub ke arah rumah yang akan dihuninya. Sungguh, ia tak percaya jika ini semua nyata adanya. "Ini rumah kita!" ujar Reza begitu mereka sampai di depan rumah mewah yang sudah seperti istana. Mata Arumi berbinar, ia berdecak kagum. Hatinya tak percaya dengan penampakan rumah di depannya. Rumah yang dulu hanya ia lihat di televisi kini tampak nyata di depan mata. Rumah putih bertingkat dengan halaman luas di depannya, sudah seperti sebuah istana. "Ini beneran rumah kamu?" tanya Arumi yang masih diam mematung di tempatnya. Reza hanya mengangguk, kemudian menarik tangan istrinya itu agar ikut masuk bersamanya. Masih dengan perasaan tak percaya, Arumi menyeret kakinya masuk mengikuti tarikan lembut suaminya. Kekagumannya tak sebatas itu, saat masuk Arumi kembali dibuat terkagum-kagum dengan dalam rumah yang semua serba mewah. Apalagi bentuk dapur yang modern membuatnya teramat sangat senang karena akan menambah semangatnya memasak setiap hari. Kemudian Reza mengajaknya ke dalam kamar utama. Ranjang ukuran besar teronggok dengan mewah. Di atasnya bertabur kelopak mawar merah menandakan semua memang sudah disiapkan sebelumnya. Arumi duduk di tepiannya. Reza tersenyum melihat istrinya yang terus terusan menyisir sekelilingnya dengan tatapan kagum. Ia mendekat dan mengusap pucuk kepala istrinya. Dengan sangat hati-hati Reza menidurkan Arumi ke atas kasurnya. "Ini masih siang, Sayang," bisik Arumi yang mengerti akan kemauan suaminya itu. "Ini semua aku siapkan memang untuk menyukseskan ritual pengantin baru yang tak mengenal waktu." Nafas Reza sudah mulai memburu. Arumi hanya tersenyum pasrah akan perlakuan pria yang kini telah menjadi suaminya itu. Namun, baru saja Reza meluncurkan aksinya, Arumi tiba-tiba mendorong. "Ada apa?" tanya Reza heran. "Memangnya tidak ada orang di sini? Kamu belum tutup pintunya." "Tenang saja, hanya kita berdua di rumah ini. Kamu bisa berekspresi sesuka hati. Tak perlu ada yang ditahan ya, Sayang!" Arumi kembali tersenyum. Dasar pria, bila sudah seperti ini memang suka m***m! *** Untuk pertama kalinya, Arumi menyiapkan makanan untuk Reza. Dapur impian semua wanita kini Arumi miliki. Lengkap dengan semua peralatan serta bahan makanan yang ada. Ia bebas berkreasi apa saja. Arumi sangat kenal suaminya ini, sejak dulu ia tak pernah sulit untuk memilih makanan. Makanan apa saja akan ia makan, apalagi jika Arumi yang memasakkan. Reza akan selalu suka. Sup iga serta ayam goreng jadi menu makanan malam ini. Aroma masakannya tercium hingga ruang tengah membuat Reza yang tengah bersantai tertarik untuk menuju dapur. Wanginya sup membuat perut Reza terasa lapar. Arumi yang mengerti pada suaminya segera menyendokkan nasi. "Terima kasih," ucap Reza, ia cukup tersentuh dengan perlakuan Arumi. Sudah cukup lama ia menginginkan perlakuan seperti ini dari seorang istri. Namun, baru kali ini ia dapatkan. "Memang sudah seharusnya aku melakukan ini semua sebagai seorang istri, Mas. Jadi tak perlu mengucapkan terima kasih." "Sayang, jika aku memintamu untuk terus masak buat aku apa kamu sanggup?" tanya Reza ragu. "Kenapa tidak? Tentu saja aku sanggup!" ujar Arumi seraya menyuapkan nasi ke mulut. "Kalo mencuci bajuku juga? Emmm ... maksudku mengurus semua keperluanku gimana?" "Tentu saja akan aku lakukan! Aku akan melayani semua kebutuhan kamu, Mas." Arumi sangat percaya diri. Karena memang itu kan tugas seorang istri. "Untuk mengurus rumah aku akan meminta bantuan asisten rumah tangga. Tapi aku ingin kamu mengurusku sepenuhnya," ujar Reza kembali. Ia sampai menghentikan aktivitas makannya. "Sudah, Mas. Ayo, lanjut makannya. Nanti kita bahas lagi." Usai makan, Reza mengajak Arumi ke halaman belakang rumah. Di mana di sana terdapat gazebo berukuran besar dengan kolam ikan di depannya. Lampu hias taman terdapat di sekelilingnya. Cerahnya cuaca malam ini membuat bulan dan bintang tampak jelas di atas sana. Suasana romantis tercipta dengan sendirinya. Arumi mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Reza, kepalanya ia letakkan di pundak suaminya itu. Sudah lama sekali keromantisan ini baru mereka rasakan kembali. Reza mengambil kesempatan ini untuk menanyakan hal itu. Berharap Arumi tidak mencurigainya sedikit pun. "Sayang, kalau boleh tahu. Kapan terakhir kali kamu datang bulan?" tanya Reza sedikit ragu. Arumi tidak langsung menjawab. Ia menatap lekat mata Reza untuk beberapa saat membuat Reza ketakutan sehingga ia refleks membuang pandangannya. Namun, Arumi langsung tersenyum membuat suaminya keheranan. "Apa kamu ingin segera memiliki buah hati menanyakan hal itu?" Arumi kembali bertanya. "Bagaimana jika ya? Apa kamu siap?" "Kenapa tidak. Aku siap, Sayang." "Jadi kapan terakhir kali kamu datang bulan?" "Hmmm ... lumayan udah lama sih, udah mau satu bulan." "Apa biasanya normal?" Reza terus menelisik perihal kesuburan istrinya. "Tidak. Kadang telat, kadang juga cepat." "Ah, begitu ya." "Dengar, Mas. Kebanyakan orang setelah menikah itu kosong tiga sampai enam bulan. Jadi gak perlu cemas, kalau masih awal-awal wajar lah misal belum isi. Apalagi kita nikah bukan di waktu subur," jelas Arumi sebagaimana yang ia ketahui. "Tapi aku ingin segera kamu hamil. Jadi, gimana kalau kita coba lagi? Siapa tau kali ini yang bikin kamu hamil?" ujar Reza, ia mencondongkan wajahnya lebih dekat. "Ih, apa sih, Mas!" Arumi membuang muka menahan malu. Melihat Arumi bersikap seperti itu Reza langsung menggendongnya dan membawanya menuju kamar. Ia segera menidurkan Arumi begitu memasuki kamarnya. Kemudian meluncurkan aksinya. Bagi pengantin baru itu hal biasa. Jadi, Arumi harus menerima segala perlakuan suaminya yang tak kenal waktu bahkan tak kenal tempat. Kapan pun di mana pun semua bisa saja dilakukan. "Ini kita mau apa nih?" Arumi dengan polosnya masih mempertanyakan. "Menyatukan tubuh kita," jawab Reza singkat disusul dengan bungkaman halus yang dilakukan oleh bibirnya secara langsung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD