Bab 5

1064 Words
Sore hari menjelang pernikahan barulah seseorang yang merupakan supir pribadi Reza menjemput Arumi serta kedua orang tuanya menuju hotel. Sara tampak sangat antusias hingga membuat suaminya geleng-geleng kepala. Tapi bagi Arumi ini merupakan suatu kebahagiaan melihat ibunya sangat bahagia. Setibanya di kamar Hotel, mereka segera beristirahat setelah sebelumnya mendapatkan servis terbaik dari para pelayan. Karena esok hari merupakan hari puncak yang sangat ditunggu, maka malam ini semua harus segera beristirahat agar esok hari bangun dengan semangat penuh. Namun Arumi dari sejak lampu kamar dimatikan ia tak bisa terlelap. Padahal sudah sejak beberapa menit yang lalu matanya ia pejamkan. Tapi rasa kantuk itu tak juga datang. Tak sabar sekaligus tak siap menunggu esok tiba. Itu yang kini dirasakan Arumi sebagai calon mempelai wanita. Jantungnya berdetak tak karuan, padahal acara dimulai masih beberapa jam lagi. Hingga setelah sekian lama dan mulai bosan, ia pun lelap juga. *** Arumi tampak gugup dengan balutan gaunnya yang mewah. Wajahnya telah dirias lima belas menit yang lalu dengan riasan wajah yang natural tapi terlihat menawan. Kepalanya yang dibalut jilbab simpel tak menghalangi sedikit pun kecantikannya. Ia masih duduk di ruang tunggu yang berada tak jauh dari ruang acara. Serangkaian acara dilaksanakan hingga akhirnya tiba di acara ijab qobul. Di atas meja yang telah disediakan Arif dan Reza duduk berhadapan. Keduanya mengulurkan tangan bermaksud melakukan akad nikah untuk mengesahkan kedua insan yang saling mencintai ini. Arif mengucapkan kalimat ijab dalam sekali tarikan nafas, kemudian disambut oleh Reza mengucapkan kalimat qobul dengan satu tarikan nafas juga. "Sah!" ucap kedua saksi secara bersamaan. Reza menangkupkan kedua tangannya kemudian mengusap wajahnya bersyukur. Di tempat lain Arumi melakukan hal yang sama. Bahkan ia sudah tak bisa lagi menahan bulir air mata yang sejak tadi mengembun di kelopak matanya. Pecah tangisnya saat orang-orang sibuk mendoakan keberkahan mereka. "Mempelai wanita dipersilahkan untuk memasuki ruangan." Terdengar suara MC membawakan acara. Arumi bergegas menghapus jejak air matanya kemudian ia segera bangkit dari tempat duduknya untuk kemudian memasuki ruangan menaiki pelaminan. Namun, tiba-tiba Reza datang menjemputnya, mengulurkan tangan dan langsung disambut Arumi untuk bersalaman. Wanita itu mencium punggung tangan pria di depannya dengan khidmat sebagai tanda bahwa ia siap patuh dan taat sebagai seorang istri pada sang suami. Kemudian mereka sama-sama menuju pelaminan dengan disambut sorak gembira dari para sanak saudara. Satu persatu para tamu memberikan ucapan selamat serta mendoakan keduanya. Sebuah tradisi saat perayaan pernikahan. Kebahagiaan tercipta di setiap jiwa yang menghadirinya. Begitu juga dengan kedua orang tua Arumi. Arif dari sejak kata sah itu terucap dari para saksi, ia tak berhenti mengeluarkan air mata. Berkali-kali ia hapus, tapi tetesan air bening itu terus keluar. Tentu saja melepaskan seorang putri tunggal merupakan hal terberat bagi seorang ayah. Hatinya bergetar karena kini putri kecilnya bukan lagi tanggung jawabnya, melainkan sudah menjadi tanggung jawab orang lain. Segala sesuatu mengenai Arumi termasuk kebahagiaannya kini ada di tangan pria yang sudah menyandang status sebagai suaminya. Berbeda dengan Arif, kebagian Sara terlihat berlipat-lipat. Ia begitu menikmati setiap suasana yang tercipta. Dengan bangganya ia duduk di kursi pelaminan orang tua membusungkan d**a menunjukkan pada keluarga Arif utamanya. Namun, yang pasti bagi Arumi kebahagiaannya tak bisa diukur oleh apa pun. Ia seolah sedang mendapatkan kebahagiaan terbesar dalam hidupnya. Terlebih melihat kedua orang tuanya yang juga turut bahagia. Dengan restu mereka Arumi berjanji dalam hatinya untuk menjaga keutuhan kebahagiaan ini sampai kapan pun. "Berjanjilah untuk menjaga Arumi sampai maut memisahkan kalian. Menomorsatukan kebahagiaan dia dan selalu memprioritaskan dalam segala urusan. Karena itulah yang kulakukan selama ini!" ucap Arif setelah para tamu berangsur pulang. Susah payah ia menahan tangisnya. "Insyaallah, Pak. Bapak yang tenang, Arumi sekarang menjadi tanggung jawab saya," jawab Reza meyakinkan. Arif yang sudah tak bisa menahan isak tangisnya terisak seraya memeluk menantunya itu. "Sudah, Pak. Malu ih masih banyak tamu!" Sara mengelus-elus punggung suaminya antara menenangkan sekaligus kesal karena suaminya yang terlihat cengeng hari ini. "Bapak haru percaya, ya. Arumi janji akan bahagia setelah menikah!" tambah Arumi membesarkan hati ayahnya. "Janji ya, Nak. Takan ada lagi air mata setelah ini." "Insyaallah, Pak. Doakan selalu kami." Setelah Arumi angkat bicara barulah Arif mulai tenang. Ia segera menghapus jejak air matanya kemudian duduk di kursinya kembali menyambut para tamu yang baru datang. *** Lamanya berdiri menyambut tamu membuat Arumi dipenuhi rasa penat dan lelah. Kakinya sudah tak kuat lagi menopang tubuhnya, maka ia memutuskan merebahkan tubuhnya setelah membersihkan diri dan mendirikan salat fardhu. Tanpa sadar Arumi terlelap begitu saja. Reza sendiri baru selesai menyambut tamu yang tak ada hentinya. Melihat sang istri terlelap tidur, ia hanya tersenyum kemudian bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai mandi, Reza merebahkan tubuhnya di samping Arumi yang membelakanginya. Ia lingkarkan tangan kanannya pada perut kecil sang istri. Refleks tangannya itu mengusap lembut perut Arumi. "Semoga segera berisi," gumamnya dengan senyum mengembang penuh harap. Reza masih asyik mendekap tubuh Arumi. Hingga hasratnya membawa ia spontan mencium tengkuk sang istri. Arumi yang merasa terganggu seketika terbangun. Refleks tangannya menepis tangan Reza yang melingkar. Kemudian ia beringsut bangun menjauh. Dalam keadaan setengah sadar gadis itu lupa akan statusnya saat ini. Reza hanya tersenyum dengan tatapan sedikit menggoda. Tangannya melambai mengajak Arumi agar kembali merebahkan tubuh di samping kirinya. Untuk beberapa saat Arumi terdiam hingga akhirnya ia sadar bahwa dirinya sudah menjadi istri orang. Arumi kembali merebahkan tubuhnya dengan jantung yang berdetak kencang. Ini kali pertamanya tidur satu kasur dengan seorang pria membuatnya gugup luar biasa. Apakah dia akan mengambil haknya malam ini? batin Arumi penuh kecemasan. Reza kembali melingkarkan tangannya ke tubuh Arumi, kemudian menariknya hingga menghilangkan jarak di antara mereka. Lalu ia mendekatkan wajahnya pada wajah Arumi hingga hembusan nafasnya bisa Arumi dengar dan rasakan. Refleks, Arumi pejamkan matanya. Ia mulai pasrah dengan apa yang akan dilakukan suaminya itu. Cup. Satu kecupan mendarat di kening Arumi membuatnya spontan membuka mata. "Selamat tidur, Sayang," ucap Reza. Ia sedikit menjauhkan tubuhnya kemudian mengambil posisi ternyaman untuk tidur. Arumi bergeming, untuk beberapa saat ia berpikir. Apa benar tidak apa-apa? batinnya kembali. "Ayo, tidur! Tadi padahal kamu lelap banget tidurnya," ujar Reza kemudian. "Eh, i-iya Mas." Lampu tidur pun dimatikan, Arumi kembali terpejam. Baru saja beberapa jam terlelap, Reza kembali meluncurkan aksinya. Sebagai pria normal ia tak ingin melewatkan malam pertamanya begitu saja. Reza mencoba membelai Arumi perlahan. Arumi terbangun. Ia yang awalnya sedikit takut berubah menjadi pasrah hingga akhirnya merasa nyaman. Ini karena perlakuan Reza yang sangat lembut. Ia mampu membuat istrinya itu merasa nyaman. Malam pertama sebagai mana kebanyakan pengantin itu berjalan dengan lancar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD