Setelah semua meeting diselesaikan, Reza bergegas pulang. Jam yang melingkar di pergelangan tangannya menunjuk angka delapan. Ia pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai rumah.
Suasana rumah hening seperti biasanya. Tak heran baginya karena sudah terbiasa tak mendapatkan sambutan dari seorang istri yang seharusnya membukakan pintu untuk sang suami. Namun, untuk saat ini yang membuatnya sedikit penasaran adalah kemana Arumi, istrinya itu.
Ia melirik sekilas ke ruangan di lantai bawah yang kini menjadi kamar Arumi. Pintunya tertutup rapat, mungkin penghuninya sudah tak sadarkan diri. Reza tersenyum samar, lega karena tak perlu menyapanya dulu.
Ia mempercepat langkah kaki menaiki tangga. Namun baru saja beberapa langkah, matanya menangkap sosok wanita yang baru saja dinikahinya. Istrinya tengah tertidur pulas dengan beralaskan tangan di atas meja makan. Reza mencoba tak acuh dan meneruskan langkahnya
Ia segera melepas pakaian yang membalutnya. Rasa penat karena bekerja hampir dua belas jam membuatnya ingin segera menyentuh air, menyegarkan pikiran. Direndamnya tubuh atletis itu dalam bathtub yang berisi air hangat. Untuk beberapa saat Reza menikmati relaksasi rumahan yang dilakukannya.
Selesai mandi, ia segera mengenakan baju tidur berbentuk kimono. Namun, baru saja hendak membaringkan tubuhnya, perut Reza keroncongan. Alisnya bertautan dengan sedikit kerutan pada dahi, ia tampak berpikir.
Padahal tadi kan udah makan! ucapnya pada diri sendiri.
Mau tak mau ia pun melangkahkan kaki menuju dapur untuk meredakan kebisingan dalam perutnya. Namun, saat baru turun ia terdiam sesaat.
Reza tertegun saat melihat Arumi yang masih tidur pulas dengan posisi tidak nyaman. Benarkah dia tertidur atau sedang berpura-pura? Reza sedikit berpikir. Perlahan ia berjalan dan mendekati Arumi.
Arumi tampak lesu terlihat dari wajah polosnya. Untuk beberapa saat Reza menatap istrinya itu. Tiba-tiba sesuatu merasuki hatinya membuat jantung berdebar hebat.
Reza mengalihkan pandangannya ke arah makanan yang tersaji. Beberapa menu kesukaannya ada di sana. Arumi memasakkan ini semua. Ia tahu, Arumi memang sangat hafal dengan apa yang disukai oleh. Perlakuan Arumi ini benar-benar membuat hatinya tersentuh, sehingga ia merasa semakin bersalah.
"Sudah pulang, Mas?"
Suara Arumi yang tiba-tiba terbangun membuat Reza terlonjak.
"I-iya, sudah," jawab Reza terbata, ia jadi salah tingkah.
"Maaf aku ketiduran," ucap Arumi kembali, tapi Reza abaikan. Pria itu beranjak dari tempatnya dan duduk di kursi lain.
Melihat hal itu, Arumi segera menyendokkan nasi dengan centong ke dalam piring untuk Reza. Saat ia hendak mengambil beberapa lauk, tangannya terhenti.
"Aduh sepertinya lauknya sudah dingin lagi, padahal tadi aku hangatkan," keluhnya refleks.
"Gak apa-apa. Ambilkan yang mana saja. Aku sudah lapar!" ucap Reza datar.
Arumi menoleh sekilas, menatapnya untuk beberapa saat. Namun, ia segera menuruti perkataan Reza saat Reza menoleh. Setelah memberikan makanan pada Reza, Arumi segera mengambilkan untuknya.
Suasana hening, hanya terdengar suara piring berdenting yang beradu dengan sendok dan garpu. Suara jarum jam yang bergerak setiap detik juga turut menemani menjadi alunan musik yang tampak menambah suasana semakin canggung.
Reza makan dengan lahap. Mungkin aktivitas sehari ini membuat perutnya menuntut makanan dengan porsi lebih, atau mungkin karena hal lain. Arumi merasa senang melihat suaminya itu sangat menyukai masakannya. Alih-alih menikmati makanannya, ia lebih memilih menikmati pemandangan di depannya.
"Mau tambah?" tawar Arumi segera kala melihat isi piring di depan suaminya berkurang.
Reza bergeming beberapa saat, rasa gengsi sudah merasuki dirinya. Arumi yang paham betul sikap Reza segera mengambil piring suaminya kemudian mengisinya kembali dengan lauk yang lain. Tanpa sepatah kata, Reza mengambil piring yang dipegang istrinya kemudian melanjutkan makan.
Arumi hanya tersenyum, ia kembali meneruskan makannya hingga habis. Arumi melakukan pelayanan yang benar-benar membuat Reza merasa diperlakukan sebagaimana semestinya sebagai seorang suami. Saat ini, ia sigap menambah air di gelas suaminya yang mulai berkurang.
Setelah selesai makan, Arumi bergegas membereskan piring kotor dan membawanya ke wastafel. Lalu ia segera membersihkan piring kotor tersebut. Saat sedang asyik menggosok tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Arumi terdiam, ia pun tak menoleh karena tahu Reza yang melakukannya.
"Sudah malam. Yuk, istirahat!" ajak Reza berbisik tepat di samping telinga Arumi.
"Tanggung, Mas. Ini sedikit lagi," jawab Arumi, ia masih meneruskan gerakan tangannya.
"Sudah, Sayang. Biar Mas yang teruskan," tawar Reza kemudian.
Arumi diam untuk beberapa saat. Rasanya aneh sekali, karena sebelumnya Arumi mengira jika suaminya itu masih marah padanya. Apalagi saat makan tadi mereka masih saling terdiam.
"Sayang!" kejut Reza kembali.
"Eh, gak usah. Mas istirahat aja, baru juga pulang kerja."
"Ya udah, kalau gitu mas tunggu di ruang tengah, ya!"
"Iya, Mas."
Arumi tersenyum senang, ia lega Reza sudah mau berbicara dengannya. Mungkin dengan begitu itu artinya Reza tak lagi marah. Arumi pun segera menyelesaikan pekerjaannya. Setelah selesai mencuci piring, ia segera membuatkan teh manis panas dua cangkir untuk dirinya dan suaminya.
Reza tengah membaringkan tubuhnya di atas sofa. Ia beringsut bangun saat melihat kedatangan Arumi. Arumi pun segera menyimpan nampan yang berisi minuman yang dibuatnya tadi.
Reza dengan cepat menarik tangan Arumi sehingga kini posisinya Arumi duduk di atasnya seraya membelakangi. Pria itu memeluk erat istrinya dan menenggelamkan wajahnya di balik punggung sang istri. Tak ada kata yang diucapkan membuat Arumi kebingungan harus berbuat apa.
Dengan jantung berdebar-debar Arumi mencoba untuk melepaskan pelukan Reza. Ia tak nyaman jika harus duduk dengan posisi seperti itu. Takut memberatkan suaminya, karena sadar diri tubuhnya tak seramping itu.
"Tahan dulu sebentar, aku ingin seperti ini," cegah Reza, ia semakin mengeratkan pelukannya.
Arumi pun bergeming, mau tak mau ia kudu menuruti perintah suaminya. Untuk beberapa saat Arumi menahan diri sekaligus menenangkan degupan jantungnya agar tidak terdengar suaminya. Jangan sampai, karena itu rasanya memalukan.
"Maafkan aku, Sayang. Aku sangat merindukan hal seperti ini. Terima kasih sudah memperhatikan aku," ucap Reza setelah beberapa saat terdiam.
"Sama-sama, Mas. Lagi pula, Mas sudah menjadi milikku seutuhnya. Sudah sepantasnya aku memberikan sisa hidup untuk mengabdikan diri padamu."
"Tolong jangan tinggalkan aku jika terjadi sesuatu."
"Aku tak pernah meninggalkan kamu, Mas. Baik dulu atau sekarang."
"Maafkan mas ya, Sayang. Maafkan mas karena pernah mengkhianati kamu."
"Yang lalu biarlah berlalu. Aku senang saat ini kita bisa bersama kembali merajut cinta kasih yang pernah terurai."
"Terima kasih mau menerimaku dan masih percaya padaku."
"Iya, Mas."
Reza kembali mempererat pelukannya hingga Arumi masih bertahan dengan posisinya itu. Biarkan ia nikmati beberapa saat untuk menyenangkan suaminya itu.