Bab 10

1308 Words
Setelah cukup lama terdiam, Arumi melepas pelukan Reza perlahan. Kemudian ia duduk di samping suaminya. Namun, baru saja ia menempelkan bokongnya, suaminya itu sudah menyandarkan kepala di pundaknya. "Aku capek," rengeknya sudah seperti bayi besar haus perhatian. "Mas, istirahat aja yuk! Tidur di kamar aja!" ajak Arumi lembut seraya mengusap kepala suaminya dengan penuh perhatian. "Entah. Aku gak yakin bisa diam saja jika di kamar." "Kenapa? Tinggal tidur aja!" "Aku gak bisa tidur kalau ada kamu, Sayang." "Ah, itu …." Arumi mengerti sesuatu. "Ya, mau bagaimana datang bulan tak bisa diatur sesuka kita." Reza mengubah posisinya. Kini ia tidur di atas paha Arumi. Arumi dengan lembut terus mengusap surai hitam suaminya. "Mas, maaf ya untuk pagi tadi." "Sudah gak perlu dibahas. Mas malu, mas yang minta maaf sama kamu." "Tapi kalau boleh tahu, kenapa mas semarah itu? Apa mas teramat sangat ingin memiliki seorang anak?" "Ya, begitu. Hidupku cukup sepi tanpa buah hati." "Sabar ya, Mas. Setelah selesai datang bulan, kita mulai program hamil. Itu waktu yang pas, karena saat masa subur." "Baiklah. Mas akan sabar untuk beberapa saat." Arumi tersenyum, ia terus mengelus pria di pangkuannya. Tak ada lagi percakapan, Reza pun mulai memejamkan matanya dan sepertinya terlelap. Dengkuran halusnya membuat Arumi tak bisa membangunkannya. Sudah cukup lama Arumi tak pernah melihat lagi wajah tenang kekasihnya sangat dekat. Wajah itu membuat ia tak ingin lagi berpisah dengan Reza. Perlahan ia mendekatkan wajahnya, bibirnya ia tempelkan pada bibir merah bebas rokok milik suaminya. Satu kecupan terasa begitu lembut hingga Arumi enggan melepasnya. Tiba-tiba Reza membalas, digigitnya untuk sedikit menahan karena Arumi hendak melepaskan. Arumi menjerit dalam bungkam, tapi kemudian keduanya saling menikmati. "Keganggu ya, tidurnya?" tanya Arumi merasa bersalah. "Tidak. Memang seharusnya aku bangun. Yuk, pindah." Arumi mengangguk kemudian ia berdiri saat suaminya itu berdiri. Namun, tiba-tiba Reza menggendongnya kemudian membawanya ke atas kasur dan membuatnya berada dalam kungkungannya. Nafas keduanya saling memburu. "Mas, libur dulu, ya!" pinta Arumi hati-hati. "Aaarrgghh!" Reza menjatuhkan diri ke atas kasur. "Ya sudah. Maaf, Sayang, aku gak bisa dekat-dekat dengan kamu." "Maksud kamu?" "Aku akan tidur di lantai atas, gak apa-apa kan?" "Emmm … iya. Tapi aku takut tidur sendiri." "Aku temani di sofa, setelah kamu pulas aku baru ke atas." "Gak apa-apa nih? Padahal kamu harus segera istirahat." "Gak apa-apa." Reza tersenyum untuk meyakinkan Arumi. Arumi pun segera tidur setelah sebelumnya Reza mengecup dahinya. Setelah dirasa cukup lama, Reza kembali melihat istrinya itu. Saat ia yakin Arumi telah tidur dengan pulas, Reza segera meninggalkannya. Banyak panggilan tak terjawab dari satu kontak begitu ia membuka ponsel. Seseorang yang terus menerus menghubunginya itu adalah orang yang sama. Melihat hal itu, Reza segera menelepon balik. "Kenapa lama sekali mengangkat telpon? Sudah kukatakan jangan tidur seranjang jika dia sedang datang bulan. Kamu hanya perlu membuatnya hamil, tidak lebih! Jika tidak, kita akhiri saja semuanya!" ancam wanita itu. "Vera, tolong mengertilah. Aku baru saja menikah, apa katanya jika aku mengabaikan dia. Kamu tenang saja aku gak bakal jatuh hati lagi sama dia, aku hanya melakukan basa-basi sebagai seorang suami!" "Huhhhh … kamu apa tidak merindukan aku?" "Ah, tentu saja, Sayang. Tidak ada lagi wanita secantik kamu, seseksi kamu, kamu tak ada bandingannya!" "Ya, tentu! Dia hanya wanita kampungan. Kalau kamu malah naksir sama dia awas saja, aku akan mencampakkan kamu saat itu juga!" "Iya, iya." "Ya sudah, nanti aku hubungi lagi! Aku lelah mau tidur." Panggilan terputus. Reza menggasak rambutnya. "Memangnya kamu saja yang lelah! Aku juga!" bentaknya dengan bersenandika. Ia frustasi kemudian kembali teringat Arumi. Lemah lembut sikapnya membuat Reza merasa istimewa. Selama ini, dalam pernikahan ia tak pernah merasa diistimewakan. Bahkan lebih sering hanya dianggap sebagai supir pribadi saat di rumah. Namun, Reza harus tetap sabar demi apa yang akan ia dapatkan. Reza spontan menggeleng kepalanya, menghapus ingatan dari bayangan Arumi. Jangan, jangan sampai ia jatuh hati pada wanita itu. Jika tidak, semua yang ia usahakan selama ini akan sia-sia saja. *** "Pagi, Mas. Ayo sarapan dulu," sapa Arumi saat suaminya itu turun dari tangga dengan setelan siap bekerja. Reza hanya membalas dengan senyuman. Ia turun mengikuti Arumi menuju meja makan kemudian duduk berhadapan. Arumi segera menyiapkan oatmeal dengan campuran buah-buahan serta kacang-kacangan. Reza terus memperhatikannya. Ada saja hal yang Arumi lakukan yang membuatnya terpesona. Arumi menjadi seorang istri baru-baru ini, tapi seolah telah terbiasa. Ia bisa menyesuaikan diri dengan kemegahan rumah ini, padahal di rumahnya menu seperti ini Reza yakin tak pernah ada. "Mas, ayo dimakan! Nanti kesiangan loh," tegur Arumi dengan kotak makan di tangannya. "Eh, i-iya." Reza menghabiskan sarapannya dengan salah tingkah. Apalagi saat ini Arumi hanya duduk menemani seraya memandang Reza. Reza semakin kikuk dibuatnya. "Kamu, gak sarapan?" Reza balik bertanya. "Aku sih gampang nanti aja. Toh, gak kemana-mana." Mendapat jawaban seperti itu Reza bungkam. Ia kembali melanjutkan sarapannya. 'Aku kenapa sih!' rutuk Reza pada dirinya. Setelah selesai sarapan, Reza beringsut bangun untuk segera berangkat ke kantor. Sigap Arumi mengambilkan tas kerja suaminya yang diletakkan di kursi sebelah Reza. Ia mengantar suaminya itu hingga ambang pintu rumah. "Nih!" Arumi memberikan tas kerja serta kotak makan yang sedari tadi ia siapkan. "Apa ini?" Reza menanyakan kotak yang disodorkan Arumi sebelum menerimanya. "Buat nanti makan siang," jawab Arumi. Wanita itu memberikan kotak makannya pada Reza kemudian mencium punggung tangan suaminya. "Semoga Allah mempermudah segala urusanmu, Mas," ucapnya diiringi senyum hangat menenangkan. "Iya. Assalamualaikum." Reza berlalu dan tak lagi menoleh ke belakang. Pagi ini Arumi cukup membuat hati Reza tak karuan. Sedangkan Reza sendiri harus menahan hasrat cinta yang terkubur. Jangan sampai cinta itu tumbuh kembali dan menghancurkan segalanya. Seperti biasa setelah kepergian Reza, Arumi melakukan aktivitasnya. Dimulai dengan membuat sarapan untuk dirinya. Nasi goreng ala kampung menjadi pilihan. Awalnya, Arumi ingin menyajikan menu ini untuk sarapan suaminya. Namun, ia sendiri keteteran dengan menyiapkan bekal Reza, karena ingin memberikan yang istimewa. Jadilah memilih yang simpel yaitu oatmeal yang kebetulan ada di persediaan makanan. Setelah selesai, Arumi segera melakukan aktivitas lainnya. Mencuci dan menggosok pakaiannya serta pakaian suaminya. Seperti biasa, bi Inah datang saat itu. Ia juga melakukan pekerjaan lainnya setelah menyapa Arumi. Setelah semua pekerjaan selesai, Arumi kembali ke bangunan berbentuk rumah yang ada di belakang. Ia mencari jalan untuk memasukinya, tapi lagi-lagi tak berhasil. Arumi yakin kuncinya ada di suatu tempat. Karena gagal mencari tahu tentang tempat itu, Arumi pun kembali ke rumah utama. Tepat saat itu, Bi Inah baru menyelesaikan pekerjaannya. "Bi, udah selesai?" tanya Arumi dengan ramah. "Udah, Non. Setelah Non tinggal di sini saya cukup terbantu, jadi pekerjaan pun cepat diselesaikan." "Alhamdulillah. Kalau gitu, gimana kalau kita ngeteh di gazebo belakang. Aku tunggu di sana ya, Bi. Buatkan aku lemon tea dingin." "Baik, Non." Inah tanpa merasa curiga membuatkan lemon tea sesuai pesanan tuan barunya. Sedangkan untuk dia sendiri teh manis panas ala orang tua. Arumi sudah diam menunggu di tempat yang dijanjikan sebelumnya. "Bibi asli orang sini?" tanya Arumi berbasa-basi. "Bukan, Non. Saya dari Tasik tapi sudah menjadi asisten rumah tangga di rumah ini dari tiga puluh tahun yang lalu." "Wah, sudah lama sekali ternyata. Jadi, rumah ini pun berusia tiga puluh tahun?" "Ya, Non. Kurang lebih segitu. Soalnya bibi mulai waktu nyonya besar dan tuan baru saja menikah." "Ah, begitu ya. Lalu kemana mereka sekarang?" Arumi terus memancing ART-nya ini agar mau menceritakan hal yang sesungguhnya. "Mereka sudah meninggal lima tahun yang lalu, Non. Korban kecelakaan." Arumi menutup mulutnya terkejut. Ia berpikir keras apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini. Ia hanya tahu bahwa orang tua Reza memang sudah tiada dari saat mereka pacaran. Itu artinya lebih dari lima tahun yang lalu. "Apa hubungan mereka sama Mas Reza, Bi?" Inah mulai sadar bahwa ia malah terbuai oleh keramahan yang diberi Arumi. Dia memang begitu, saat nyaman dengan seseorang akan menceritakan semua yang dia tahu. Namun, saat ini ia beruntung karena menyadari sebelum akhirnya membocorkan hal yang terjadi. "Eh, Non maaf, ya. Saya baru ingat, tadi suami saya minta dibuatkan kopi." Arumi mendengus lagi-lagi ia gagal mendapatkan informasi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD