Bab 11

1030 Words
"Pagi, Pak. Maaf, apa Bapak sudah melihat rumor pagi ini?" Doni, sekertaris Reza masuk memberi kabar. "Rumor? Rumor apa?" tanya Reza heran. "Proyek kita yang sedang berjalan mengalami kerugian besar karena korupsi dari para karyawan." "Apa yang rugi? Jelas-jelas semua berjalan dengan lancar?!" bantah Reza, rahangnya mulai mengeras. "Betul, Pak. Seseorang membuat fitnah dengan rumor itu. Dan gawatnya, hal ini sudah terdengar ke para investor." "Ah, siapa yang melakukan hal kotor seperti ini?" "Sepertinya tak jauh dari dia." "Atur jadwal pertemuan dengan para investor siang ini juga!" "Sayangnya, bukan hanya itu rumor yang beredar. Tapi rahasia keluarga Adhiyaksa tentang kebangkrutan sepuluh tahun yang lalu kembali tersebar." "b*****h! Tua bangka itu sudah keterlaluan!" Reza dengan penuh amarah beranjak dari tempatnya. Ia bergegas menuju suatu tempat. "Tunggu, Pak. Mau ke mana?" tanya Doni. Namun, Reza tak mengindahkannya. Ia segera melajukan mobilnya sendiri. Sejak tadi ponselnya terus berdering, tapi bukan saatnya Reza menjawab. Hal yang harus dilakukannya kini adalah menemui seseorang yang nyaris membuatnya hancur. Reza menerobos sebuah perkantoran, menuju tempat yang ingin ia porak-porandakan. Seseorang tengah duduk santai dan tersenyum membuat Reza geram. Pria tua itu seolah telah meraih kemenangan. "Bagaimana? Kamu suka kejutan dariku?" ucapnya dengan seringai di wajahnya. "Apa maumu?!" ujar Reza penuh penekanan. "Menyerahlah!" "Dasar tua bangka serakah! Bukankah dalam perjanjian tertulis sepuluh tahun?" "Aku bosan menunggu lama. Sudah lima tahun tapi belum juga ada tanda-tanda, jadi menyerahlah!" "Buat klarifikasi untuk rumor tadi. Jika tidak, aku akan membawa ke jalur hukum sebagai pencemaran nama baik!" "Hahahaha … baiklah, baiklah. Anggap saja ini sebuah gertakan, jika kalian tidak lagi berusaha secara maksimal aku akan melakukannya dengan sungguh-sungguh!" Reza meninggalkan ruangan itu dengan hati yang kesal, bahkan ia sampai membanting pintu. Ia segera menemui sekretarisnya untuk mengadakan meeting bersama para investor. Reza segera kembali ke kantornya. *** "Mas, kok udah pulang?" tanya Arumi heran. Waktu baru saja menunjukkan pukul dua siang. Reza bergeming, ia hanya duduk di sofa sedang Arumi membantu membuka sepatunya. "Duh, mana aku belum masak lagi. Kenapa gak ngabari dulu, Mas?" Arumi terus mengoceh panik. Setelah membuka sepatu sang suami, ia mengambil tasnya. Kemudian berdiri hendak menyimpan itu semua. Namun, Reza menahan Arumi. Tanpa melihat situasi, Reza memeluk Arumi. Dibaliknya tubuh wanita itu kemudian ia mencumbu dengan ganas. "Duh, Mas. Jangan di sini dong!" Arumi menahan gerakan suaminya itu. Akan tetapi, Reza sama sekali tak mengindahkan. Ia terus mencium bibir ranum milik istrinya, lalu turun pada leher panjangnya. Bi Inah yang kebetulan lewat terlonjak, ia segera menutup mata dan menjauhi tempat itu. Tak pernah sebelumnya ia melihat tuannya seagresif itu. Tidak, bahkan ia tak pernah melihat hal itu di rumah ini. "Mas, stop!" Arumi sedikit membentak, barulah Reza menghentikan aksinya. "Kamu kenapa? Ada apa?" tanya Arumi kembali. Ia heran dengan sikap suaminya yang tak terkendali. "Aku lelah, aku frustasi. Aku butuh sedikit relaksasi yang hanya bisa dilakukan dengan kamu," jawab Reza. Wajahnya memang terlihat sangat lelah. "Aku masih haid, Mas!" "Lakukanlah yang memang diperbolehkan, aku takan mengganggu bagian itu." "Di kamar yuk, jangan di sini!" Pasutri itu segera ke kamarnya. Arumi melakukan hal sebisanya, asal keinginan Reza terpenuhi. Ya, karena tak ada larangan dalam agama b******u saat sang istri sedang menstruasi. Hal-hal yang tidak berkaitan dengan area kewanitaan itu teramat sangat dibolehkan. "Ahhh, terima kasih, Sayang. Akhirnya," ucap Reza lega. Ia pun membaringkan tubuhnya setelah mengecup pucuk kepala Arumi. *** "Ada apa? Apa kamu banyak masalah?" tanya Arumi. Sore ini mereka berdua duduk santai di belakang rumah. Setelah menerima kepuasan tadi, Reza segera tertidur untuk menghilangkan sedikit rasa penatnya. Dan setelah bangun, Arumi mengajaknya untuk bersantai di belakang rumah. "Nanti akan tiba waktunya kamu tahu," jawab Reza datar. "Tahu apa?" desak Arumi, mendengar jawaban tersebut justru semakin membuatnya penasaran. Apakah hal besar sedang disembunyikan darinya? "Nanti saja, Sayang. Tapi sebelumnya, jika kamu tahu aku gimana-gimana apa kamu akan meninggalkan aku?" Reza menatap ke arah Arumi. Ia tahu pertanyaannya ini akan membuat wanita itu menaruh curiga. Namun, tak ada yang perlu ditakuti karena semua akan terbongkar sendiri. "Gimana-gimana apa maksudnya?" Arumi semakin dibuat tak mengerti. "Ya, misal ngecewain kamu?" "Aku akan berusaha untuk ada di dekatmu, Mas. Selama ini memangnya aku pernah ninggalin kamu?" "Berapa kali pun kamu bilang tapi rasanya aku takut kehilanganmu." "Memangnya apa yang bisa bikin aku ninggalin kamu?" "Arrgghhh … aku merasa frustasi dibuatnya! Dengar, Sayang, kamu harus mempersiapkan diri. Jangan dengar apa kata orang. Kamu percaya padaku kan?" Semakin dipikirkan semakin membuat Reza takut kehilangan. Tanpa sadar, sepertinya Reza mulai kembali menaruh rasa untuk Arumi sejenak melupakan semua tujuan dan maksud dari menikahi wanita itu. "Mas, kamu bilang gini aku jadi takut. Sebetulnya ada apa sih?" "Pokoknya kamu harus percaya aku, dan percaya bahwa semua yang kulakukan adalah semata-mata untuk kamu!" Arumi bergeming, ia mulai berpikir keras. Apa yang untuk siapa? Arumi sama sekali tak mengerti. Tapi satu yang pasti, memang ada kejanggalan yang ia dapati. Terutama kamar atas yang terkunci dan mention belakang rumah yang tak diisi. Terlebih lagi Bi Inah yang bercerita tentang nyonya dan tuan besarnya. Arumi yakin itu bukan orang tua Reza. Melihat rumah mewah di depannya membuat ia menduga-duga siapa sebetulnya pemilik rumah ini dan apa hubungannya dengan Reza. Dulu bahkan mereka berdua tak pernah terbesit membayangkan bisa menempati tempat sebesar ini. Mereka cukup dan akan bertahan walau hanya dalam kontrakan, asal keduanya hidup bersama. "Boleh aku tahu, apa yang sedang kamu perjuangkan sehingga mengatakan semua demi aku?" "Sesuatu yang akan memberi kenyamanan hidup hingga akhir hayat kita. Jika aku berhasil mendapatkannya, tak akan ada lagi aral melintang yang menghalangi kita." Arumi bergeming. Jelas-jelas saat ini mereka sudah bersatu, tentu saja itu artinya memang sudah tak ada lagi yang menghalangi keduanya. Namun, kata-kata Reza membuatnya harus tetap waspada, mempersiapkan diri untuk hal yang mungkin terjadi esok lusa. "Baiklah, aku percaya padamu, Mas. Seperti halnya aku, aku harap kamu tidak lagi meninggalkan aku," ucap Arumi kemudian. "Tentu saja, Sayang. Aku tidak akan pergi dari kamu, kebersamaan ini kita harapkan dari dulu. Banyak hal yang kita lewati demi bersatu. Jadi tidak mungkin aku membuat semua berantakan padahal susah payah berjuang. Kamu percaya kan?" Arumi pun mengangguk. "Ya sudah, Mas. Kita masuk aja, yuk! Bi Inah sudah masakin makanan buat kita kayaknya." Reza mengangguk, tanpa menjawab ia mengikuti istrinya itu memasuki rumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD