Malam ini, Reza memutuskan untuk tidur di kamar atas meninggalkan Arumi seperti biasanya. Ia semakin menyadari bahwa dirinya tak bisa jauh dari Arumi. Cinta yang terkubur itu sepertinya mulai tumbuh kembali.
Bukan kah itu pertanda baik? Ya, seharusnya begitu. Namun, dalam perjanjiannya tertulis jika Arumi berhasil melahirkan seorang putra maka setengah kekayaan akan diberikan, tapi wanita itu harus pergi jauh dan tidak lagi menampakkan diri.
Begitulah seharusnya. Namun, Reza menyembunyikan itu semua. Arumi tak tahu menahu tentang hal ini, karena Reza yakin wanita itu takan mau menikah jika tahu apa yang menjadi tujuannya.
Dering telepon yang nyaring berbunyi mengejutkannya. Reza membuang nafas kasar sebelum kemudian menjawabnya. Inginnya ia abaikan panggilan itu. Akan tetapi, jika itu ia lakukan masalah lain akan muncul.
"Akhir-akhir ini kamu sering lama menjawab telepon. Kenapa? Apa karena wanita itu? Jangan lakukan apa pun saat dia datang bulan, itu semua percuma. Tunggulah sampai selesai!"
Wanita yang tak lain adalah istri pertama Reza terus mencecarnya. Menanyakan dan menuntut hal yang sama di situasi yang tidak seharusnya. Pria itu benar-benar tak diberi kesempatan untuk bertenang.
"Ada apa?"
Kalimat itu yang keluar dari mulut Reza dengan datar, mengabaikan semua pertanyaan Vera.
"Aku tahu masalah sudah selesai, tapi kita tetap harus waspada. Besok lusa aku akan pulang," tukas Vera.
"Secepat itu? Tunggu beberapa waktu lagi. Aku akan mengurus yang ada di sini," pinta Reza kemudian.
"Omong kosong! Nyatanya semua berantakan setelah aku tinggalkan!" Terdengar amarah yang meluap-luap dari lawan bicaranya.
"Tolong, kasih waktu lebih lama lagi!" Reza masih mencoba memohon bahkan suaranya lebih lembut demi meluluhkan kerasnya hati Vera. "Arumi pasti belum siap menerima semuanya," keluh Reza terus berusaha, bahkan ia menyebutkan Arumi memberikan sebuah pembelaan.
"Menerima apa? Dia itu orang yang paling diuntungkan. Tidak perlu capek bekerja, juga tidak perlu memikirkan strategi, tapi justru yang lebih banyak menang!" Suara Vera terdengar nyalang hingga memekakkan telinga.
"Sayang, aku mohon," tutur Reza tak henti-hentinya memohon. "Beri waktu sepuluh hari lagi. Saat itu mungkin aku akan memberikan kabar gembira."
"Sudahlah, aku akan pulang. Untuk kesepakatan lainnya kita bicarakan setelah aku datang ke rumah!"
Seperti biasa panggilan terputus begitu saja. Vera sama sekali tak bisa memberikan kesempatan. Reza semakin dilema dan cemas akan apa yang terjadi selanjutnya. Hal yang kini dicemaskannya adalah Arumi, Reza tak ingin melukainya lagi. Walau wanita itu terus meyakinkannya bahwa dia takan pernah pergi, tapi rasa takut itu masih saja menyelimuti.
Bagi Vera bisa saja ia meminta menggantikan Arumi dengan wanita lain yang lebih bisa diandalkan dan memberikannya momongan. Namun, Reza tak bisa, ia sudah masuk perangkapnya sendiri. Hatinya kembali jatuh pada cinta pertamanya.
***
Pagi menjelang. Reza masih terus memikirkan cara agar Arumi dan Vera tidak bertemu secepatnya. Paling tidak ia bisa menunda hingga Arumi benar-benar tak kaget saat tahu semuanya. Jika diberi banyak waktu mungkin ia bisa sedikit-sedikit memberikan pengertian untuk istri keduanya itu.
Walau pikirannya penuh dengan hal itu, ia tetap harus pergi bekerja. Seperti biasanya dan sudah menjadi kebiasaan baru saat pagi sebelum ke kantor, Reza menyambut sarapan yang disiapkan Arumi. Ia duduk seraya menutupi masalahnya dengan melempar senyuman pada sang istri.
"Selamat pagi, Mas," sapa Arumi. Pagi ini ia tidak membangunkan suaminya seperti sebelumnya karena tidur terpisah sedang kamar Reza dikunci rapat.
"Pagi, Sayang."
Arumi segera memberikan sepiring nasi goreng buatannya yang tentunya menjadi menu sarapan favorit bagi Reza sejauh ini.
"Besok hari Sabtu, apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi?" tanya Reza di sela-sela menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Emmm, apa ini artinya mas lagi mau ngajak liburan?"
"Ya. Gimana?"
"Aaaa, mau banget!"
"Jadi, mau ke mana nih?"
"Aku ingin ke puncak. Mas ingat gak? Kita pernah berencana pergi ke puncak setelah menikah," jawab Arumi antusias.
"Iya kah?"
"Ah, pasti lupa."
"Maaf, Sayang. Tapi kemarin kayaknya gak pernah bahas ini deh."
"Ya, aku memang sedang membicarakan tentang hubungan kita dulu. Bukan kemarin sebelum menikah."
"Ah, maaf Sayang, aku lupa. Baiklah, hari ini kamu bersiap. Kita langsung berangkat setelah aku pulang dari kantor."
"Hari ini? Kenapa buru-buru sekali. Besok saja, Mas!" tukas Arumi kemudian.
"Kita kan mau bermalam di sana, Sayang. Gimana? Besok kan Mas libur."
"Kalau berangkat besok pun kita masih bisa bermalam loh, Mas."
"Ah, Sayang. Apa tidak boleh suamimu ini menikmati sedikit lebih lama berbulan madu selain di rumah? Kamu sudah selesai kan?" Reza mengangkat sebelah alisnya.
"Selesai?" tanya Arumi bingung hingga keningnya berkerut.
"Tamu bulananmu sudah pulang? Atau masih betah?" tanya Reza kembali.
Arumi hanya tersenyum dan mengangguk samar. Ia baru paham maksud dari perkataan suaminya itu menjurus ke mana. Dan memang, saat ini sudah satu minggu dari saat pertama ia datang bulan.
Setelah selesai sarapan pagi, seperti biasa Arumi mengantar Reza hingga ambang pintu. Ia berperan sebagaimana seorang istri, memberikan bekal yang telah disiapkan kemudian menciumi punggung tangan sang suami serta mendoakan kebaikan untuknya.
Reza pun begitu, kini ia memperlakukan Arumi sebagai istrinya. Mencium pucuk kepala Arumi tanpa ragu serta memintanya menjaga diri selama ia tak ada. Hal ini terbiasa karena perlakuan Arumi kepadanya.
Setelah mobil yang Reza gunakan tak lagi terlihat, Arumi kembali masuk ke dalam. Ia melakukan aktivitas seperti biasanya dan mulai berkemas untuk berbulan madu seperti rencana yang dibuat tadi pagi. Arumi tampak sangat bersemangat menyiapkan semua keperluan yang harus ia bawa.
Setelah semua selesai, Arumi bermaksud keluar untuk mengambil air karena dahaga yang menyerang tenggorokannya. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara Inah yang tengah berkomunikasi melalui telepon genggamnya.
"Baik, Nyonya. Akan segera bereskan."
"...."
"Ya, ya. Semua akan beres dalam satu hari."
"...."
"Iya, besok saya bereskan."
"...."
"Terima kasih sebelumnya, Nyonya."
Inah kembali menyimpan ponselnya setelah selesai bicara. Tanpa ia sadari Arumi mendekat.
"Bicara dengan siapa, Bi?" tanya Arumi yang kini sudah ada di belakangnya.
Inah terlonjak, mungkin jantungnya sudah melompat.
"I-itu …." Ia menggantungkan ucapannya ragu. "Saya permisi, Non," lanjutnya tanpa menjawab pertanyaan Arumi.
'Apa yang akan ia bereskan? Bi Inah bilang besok? Kenapa harus besok sih?!' batin Arumi sedikit kesal.
Namun, tak berlanjut. Ia kembali meneruskan niatnya yang hendak membasahi tenggorokan. Setelah itu, Arumi duduk bersantai di depan TV dengan makanan ringan di dekatnya.
Di sisi lain, Inah memperhatikan. Ia merasa kasihan pada wanita yang sedang dilihatnya ini. Selesai sudah kebahagiaan yang ia rasakan dalam waktu singkat ini.