"Sudah siap?" tanya Reza yang baru saja pulang. Tanpa mengganti pakaiannya, ia langsung mengajak Arumi masuk ke mobil. Sebelumnya ia mengabari istrinya itu agar langsung bersiap karena mereka akan langsung berangkat.
"Mas, yakin gak mandi dulu?"
"Nanti saja di sana. Mas sudah sewa villa untuk dua hari ke depan. Baju aku sudah kamu siapkan?"
"Sudah, Mas. Tapi kenapa harus buru-buru sih?"
"Ya, itu … biar kita bisa istirahat dulu aja. Nanti malam mas akan bawa kamu ke suatu tempat."
"Hmmm … baiklah."
Arumi mengekori Reza memasuki mobil. Barang-barang mereka sebelumnya sudah dirapikan oleh Mang Agus yang merupakan supir sekaligus satpam rumah ini.Reza segera melajukan mobilnya. Dari tempatnya kini butuh waktu sekitar dua jam untuk sampai ke tempat tujuan. Terlebih karena jalanan yang lengang membuat mereka bisa sampai tepat waktu.
Arumi sangat menikmati setiap pemandangan yang ia lewati. Sudah lama sekali ia tak melihat luasnya dan indahnya dunia, karena selama ini ia hanya mengurung diri di kamar. Membuat suasana hatinya sangat baik saat ini.
Reza sesekali melirik ke arah Arumi. Cemas, prihatin, dilema, semua rasa bercampur aduk. Senyuman manis di bibir istrinya itu hanya akan bertahan sampai esok lusa. Ia tak yakin Arumi bisa menerima saat tahu kenyataannya. Membayangkan akan ditinggalkan saja rasanya membuat hatinya terasa patah.
"Jangan pandang aku seperti itu," cegah Arumi mengejutkan.
"Emmm … m-memangnya kenapa? Kamu kan istriku!" tanya Reza gelagapan.
"Malu tahu!"
"Ah gitu?" Reza masih berusaha menetralkan perasaannya. "A-aku jadi nyesel deh bawa mobil sendiri. Jadi pandanganku terbagi-bagi antara kamu dan jalanan. Padahal aku sangat ingin memandangmu tanpa jeda waktu," kilahnya berusaha menyembunyikan apa yang sebenarnya ada dalam pikiran.
Reza mencoba mencairkan suasana dengan merayu Arumi. Lebih tepatnya menghilangkan kegundahan dalam hatinya.
"Ih, gombal!"
"Hari ini kamu cantik sekali, Sayang," puji Reza kemudian.
"Kemarin nggak?"
"Kemarin cantik, hari ini lebih cantik. Ah, sepertinya setiap ganti hari kecantikan kamu bertambah."
"Gombal ah! Dasar nih, pasti ada maunya!"
Arumi menyenggol lengan Reza, kemudian ia tertawa yang justru mengundang tawa pada Reza. Hal yang tak pernah Reza dapatkan dan lakukan dengan Vera. Reza benar-benar harus memanfaatkan waktu yang ada. Selain itu perlakuan Arumi membuatnya sedikit bisa tenangkan diri.
Setelah dua jam perjalanan mereka pun sampai. Reza segera memarkirkan mobilnya, kemudian menuntun Arumi menuju villa yang disewanya. Arumi mencemaskan waktu magrib yang tinggal beberapa menit lagi, sehingga ia ingin segera menuju kamar dan melaksanakan salat.
Karena sikap Arumi itu, Reza pun ikut terbawa. Mereka berdua segera mengambil air wudhu kemudian melaksanakan salat magrib berjamaah. Untuk pertama kalinya juga, Reza sebagai suami menjadi imam salat untuk istrinya.
Tenang dan tentram terasa dalam jiwa Reza. Matanya memanas menahan air mata haru. Jika bukan karena kekayaan, mungkin ia sudah merasakan hal ini dari lima tahun yang lalu. Namun, tetap saja demi kebahagiaan Arumi, Reza harus mendapatkan kekayaan.
Setelah selesai salat, mereka makan malam di sebuah restoran yang terdapat di dekat villa. Dengan menu mewah tersaji di atas meja, Arumi merasa istimewa. Semua Reza suguhkan untuknya.
"Kamu boleh makan semuanya," ucap Reza sebelum menyantap makanan.
"Ini kebanyakan, perutku mana muat," protes Arumi. Tapi tak dapat dipungkiri semua makanan ingin rasanya ia cicipi.
Reza tersenyum. Kemudian ia menyendokkan salah satu makanan menyimpannya di atas piring, lalu memberikan satu suapan untuk Arumi.
"Ayo, buka mulutnya!" pinta Reza saat Arumi ragu membuka mulut.
"Malu, Mas. Makan masing-masing aja! Gak perlu suap-suapan," tolak Arumi, matanya menengok ke arah kanan dan kiri.
"Hei, kok masing-masing? Kita ini pengantin baru harus romantis dong!" seru Reza kembali. "Ayo, buka mulutnya!" titahnya kemudian.
Arumi tak bisa menolak, ia pun membuka mulut dan menerima suapan dari suaminya. Hatinya benar-benar merasa senang hingga ia tak bisa berkutik. Bayangannya melambung jauh pada ayah dan ibunya. Ingin sekali Arumi menampakkan kepada kedua orang tuanya bahwa ia sangat bahagia.
'Ayah, pria yang kamu percaya ini benar-benar menyayangiku. Dia tak mungkin menyakitiku,' batin Arumi. Seulas senyuman terukir di bibir indahnya.
Reza terus melakukan hal itu hingga makanan di piring habis tak bersisa. Ia bahkan tak sempat menyuapkan makanan ke mulutnya karena sibuk memperhatikan istrinya.
"Ayo, sekarang giliran aku yang menyuapi kamu!" Arumi mengambil piring yang sedang di pegang oleh Reza.
"Aku sudah kenyang melihat kamu makan lahap."
"Aih, jangan gitu! Aku suapin ya, Mas."
Reza mengangguk seraya membuka mulutnya.
Suasana romantis memenuhi atmosfer sekitar mereka. Setiap pasang mata yang melihatnya pasti tahu bahwa mereka pengantin baru. Perlakuan satu sama lainnya akan membuat pasangan lama iri dan cemburu.
Setelah semua selesai. Reza menarik lengan Arumi hendak menunjukkan suatu tempat. Namun, Arumi menghentikannya.
"Ada apa?" tanya Reza.
"Kamu kan belum mandi. Mandi dulu, Mas!" bisik Arumi tepat di telinga suaminya.
"Eh, kamu ngerusak suasana aja ah! Ya udah, kita kembali ke villa. Sementara aku mandi kamu tunggu dan jangan ke mana-mana, ya!"
"Tentu saja. Aku gak bisa ke mana-mana tanpa kamu!"
"Dasar!" Reza tersenyum seraya menggasak pucuk rambut Arumi.
Sementara Reza mandi, Arumi duduk di sofa menunggu dengan ponsel dalam genggaman. Hal yang sering ia lakukan saat tak ada aktivitas yaitu membaca novel melalui aplikasi Dreame. Banyak novel dengan berbagai kisah cinta mulai dari usia remaja sampai dewasa.
Ia menghentikan aktivitasnya saat dering ponsel Reza memecah keheningan. Awalnya, ia membiarkan karena tak berani menjawab panggilan untuk suaminya itu hingga dering telepon berhenti sendiri. Akan tetapi, beberapa detik kemudian ponsel Reza kembali berdering.
Karena takut ada hal penting yang memang harus segera diketahui Reza, Arumi pun beranjak dari tempatnya bermaksud menjawab telepon tersebut. Namun, baru saja ia hendak mengambil ponsel suaminya itu, Reza datang langsung menyambar ponselnya dari genggaman Arumi.
"Ah, maaf. HP kamu terus berdering jadi aku bermaksud menjawabnya."
"Tidak, Sayang. Aku yang minta maaf. Harusnya kumatikan ponselku. Jangan sampai ada yang mengganggu kebersamaan kita."
"Jawab dulu, Mas. Dia sampai menelponmu dua kali, sepertinya ada hal yang penting."
"Buatku tak ada yang lebih penting dari kamu. Jadi, biarkan saja. Aku akan matikan ponsel ini dan menyimpannya. Jadi ayo, kita nikmati malam ini."
Reza menarik lengan Arumi untuk segera keluar.
"Kamu, dibaju dulu lah, Mas! Masa mau gitu?"
"Haha, saking semangatnya aku. Ya sudah, kamu tunggu sebentar lagi, ya!"
Arumi mengangguk, sementara Reza mengganti pakaiannya. Setelah itu, Reza segera mengajaknya ke tempat yang sudah ia siapkan.