Di tempat itu, Arumi dapat memandang bintang yang bertaburan di langit. Apalagi cuaca cerah malam ini sangat mendukung, sehingga tak ada awan yang menutupi keindahan langit. Dengan puas hati Arumi bisa menikmatinya secara langsung.
"Aku selalu menginginkan hal ini, tak pernah kusangka aku benar-benar bisa menikmatinya bersamamu," ungkap Arumi.
"Kamu suka?" tanya Reza.
"Suka. Sangat suka."
"Coba sini. Tidurlah di sini, keindahannya akan sangat kentara." Reza menepuk-nepuk pahanya, meminta Arumi tidur dalam pangkuannya.
"Gak usah, Mas. Aku melihat dengan begini saja," tolak Arumi.
"Jangan menolak. Ayo, tidur sini!" Reza menarik lengan Arumi sedikit memaksa, Arumi pun menyerah tak dapat lagi menolak.
Benar apa yang dikatakan Reza, Arumi merasakannya. Keindahan malam ini benar-benar lengkap membuat Arumi sangat bahagia. Ia tak akan pernah melupakan momen ini yang entah akan terulang lagi di masa depan nanti.
"Mas, boleh minta sesuatu?" tanya Arumi kemudian setelah keduanya larut dalam pikiran masing-masing.
"Boleh. Apa pun boleh kamu lakukan dan katakan."
"Aku ingin datang ke sini bersamamu setiap satu tahun sekali, gimana?"
Untuk sesaat Reza terdiam. Bisakah hal itu dilakukannya? Sedangkan ia sendiri tak yakin jika tahun depan mereka masih bersama.
"Gimana, Mas?" Arumi kembali mengulang pertanyaan.
"Boleh, Sayang." Reza tersenyum.
Keduanya kembali larut dalam diri masing-masing hingga membuat suasana kembali hening.
Reza sibuk memikirkan hal yang akan terjadi setelah ini. Ia yakin akan hancur hati wanita dalam pangkuannya kini jika telah mengetahui hal sebenarnya. Namun, ditunda sampai kapan pun tetap saja semua akan terungkap.
Bagaimana nantinya? Apakah Arumi akan menggugat cerai? Apa ia akan kembali dibenci? Padahal cinta itu telah bersemi kembali.
Panggilan yang diabaikannya tadi berasal dari Vera. Vera akhirnya mengabari melalui pesan bahwa ia akan take off malam ini. Itu artinya besok siang ia sudah landing di bandara Soekarno-Hatta. Dan malamnya dia sudah ada di rumah. Reza berpikir keras bagaimana cara menyampaikan pada Arumi atas kejutan yang tak diinginkan ketika pulang nanti.
Arumi tertidur pulas di pangkuan Reza membuat Reza tak berani mengusik ketenangannya. Ia hanya terus mengelus kepala yang terbalut jilbab istrinya itu.
"Maafkan aku karena melibatkanmu," ucap Reza lirih. Perlahan ia kecup pucuk kepala Arumi dengan lembut.
Setelah beberapa saat, wanita itu tak juga terbangun, mungkin dia lelah. Maka dari itu, Reza pun menggendongnya karena dinginnya angin mulai menusuk kulit.
Reza membawa Arumi ke kamar, kemudian menidurkannya perlahan agar tidak mengganggu tidurnya yang sangat pulas. Namun, setelah ia telah menidurkannya, untuk beberapa saat Reza kembali memandangi tubuh istrinya itu. Sesuatu menggebu dalam d**a, suasana kamar yang awal mula sejuk tiba-tiba memanas. Reza tak lagi bisa menahan hasratnya.
Diusapnya kulit mulus wajah Arumi, kemudian ia belai lembut rambutnya. Dikecupnya setiap jengkal wajah Arumi hingga leher. Saat itulah Arumi terbangun, ia menggeliat lalu terlonjak melihat Reza yang sudah berada di atasnya tengah mencumbunya.
"Akhirnya, kamu bangun juga," ucap Reza, ia melanjutkan aksinya.
"Mas, tunggu." Arumi merasa belum siap.
"Apalagi? Malam ini kamu tak bisa menolak lagi, Sayang. Sudah saatnya aku kembali menikmati setiap jengkal tubuhmu."
Reza membuka satu persatu kancing baju Arumi.
"Apa aku tidur selama itu?" tanya Arumi ia masih berusaha mencairkan suasana yang baginya terasa tegang.
"Begitulah. Jadi sekarang siapkan diri."
"Mas, aku belum mandi."
"Tak masalah kamu tetap wangi."
"Mas …."
Arumi mencoba untuk berbicara lagi, tapi Reza membungkam dengan bibirnya sendiri. Mau tak mau, siap tak siap, Arumi harus terima. Dan seiring berjalannya waktu ia mengikuti ketukan nada sesuai irama. Mengalun indah, dirasakan oleh kedua insan yang saling berpadu dengan suka.
Arumi bukan gadis desa biasa. Tubuhnya yang putih mulus khas gadis desa dengan sedikit berisi sangat disukai Reza. Arumi lebih memuaskannya di ranjang daripada Vera. Dengan sikap patuhnya, Arumi mampu memuaskan Reza dengan mengikuti apa yang dimintanya.
Malam ini, ranjang yang digunakannya lebih hidup dari biasanya. Dua malam sebelum Arumi datang bulan, Arumi masih kaku dan kikuk. Namun, malam ini Reza benar-benar merasakan surga dunia secara nyata.
'Ah, untunglah aku memintanya menginap dua malam,' batin Reza di sela aksinya.
"Sayang, ekspresikan seperti apa yang ingin kamu ekspresikan. Jangan ditahan!" bisik Reza melihat istrinya itu tampak malu-malu dan menahan hasratnya.
Arumi hanya terdiam mendengar bisikan itu. Sesaat kemudian ia melakukan apa yang diucapkan Reza dengan bebas. Reza benar-benar menyukai permainannya. Hingga keduanya mengakhiri permainan itu dengan tuntas.
"Jadilah selalu milikku. Terima kasih sudah percaya padaku lagi. Aku harap kamu selalu mempercayaiku, Sayang," ucap Reza ia duduk bersandar di samping Arumi yang masih terbaring.
"Mas, kini jiwa ragaku sudah milikmu seutuhnya. Itu artinya tak ada lagi yang perlu kamu khawatirkan. Aku ini istrimu. Jika tak percaya padamu, pada siapa lagi aku harus percaya? Kamu tenang saja, aku akan selalu ada di pihakmu," ujar Arumi, ia penuh percaya diri dengan apa yang diucapkannya. Ya, itu karena Arumi tak tahu sama sekali apa yang dibicarakan Reza dan apa yang disembunyikan darinya.
"Jika nanti semua telah kudapatkan, aku akan membawamu pergi jauh untuk hidup menua berdua," ucap Reza kemudian. Ia mengusap surai hitam istrinya dengan sesekali mengecupnya.
"Pergi?" tanya Arumi heran, kepalanya menengadah menatap Reza dengan kerutan di dahinya.
"Saat ini kamu pasti bingung dengan semuanya, tapi sebentar lagi kamu akan mengerti. Semoga kamu kuat menghadapinya." Reza semakin lama mengecup pucuk kepala Arumi, tangannya dilingkarkan seraya memeluk wanita itu.
Sebetulnya Arumi sudah menduga sesuatu hal besar akan terjadi, tapi ia tidak tahu betul bentuknya seperti apa hingga ia tak tahu apa yang harus disiapkannya. Namun satu yang pasti, Arumi rasa ia hanya perlu percaya pada suaminya karena sepertinya itulah pilihan terbaik kelak.
"Mas, aku mandi dulu, ya! Kita salat isya berjamaah lagi sebelum tidur," ucap Arumi kemudian, ia mencoba melepaskan diri dari dekapan suaminya perlahan.
"Iya, kamu duluan, Sayang."
Arumi pun melenggang menuju kamar mandi. Sementara itu, setelah memastikan Arumi benar-benar di kamar mandi, Reza pun segera mengaktifkan ponsel yang dimatikannya sejak tadi.
[Oh, jadi kamu pergi honeymoon tanpa sepengetahuanku?!]
Pesan itu yang ia terima, tapi ia abaikan. Tak lagi bisa mengelak atau memohon, Vera sangat keras. Kini Reza hanya perlu bersiap atas kedatangannya yang tentunya akan tiba-tiba. Pasrah dan terus meyakinkan Arumi, mungkin hanya itu yang bisa dilakukannya saat ini.
Reza kembali menonaktifkan ponsel pintarnya, kemudian menyimpannya kembali. Untunglah, Arumi bukan tipe orang yang selalu mengecek ponsel pasangan. Sejak pacaran, dia menghargai privasi dari pasangannya.