Pagi harinya Reza membangunkan Arumi dengan cara yang lembut dan penuh manja. Ia terus mengecup istrinya itu hingga terbangun. Tak berhenti di situ, begitu Arumi terbangun Reza segera meraup bibir ranum milik istrinya.
Arumi yang tak merasa nyaman perlahan melepaskan. Ia memberikan senyum pertamanya di hari ini pada Reza.
"Ini jam berapa, Sayang? Sudah salat?" tanya Arumi mengalihkan.
Namun, Reza terus mencoba mendekati istrinya itu. "Ada waktu lima belas menit lagi sampai adzan," jawabnya kemudian.
"Kenapa kamu sudah bangun?"
"Aku masih ingin yang semalam."
"Haissshh, Sayang, kayak yang bakal ke mana aja. Setiap hari kan kita bakal bareng-bareng terus!" ujar Arumi.
Reza terdiam. Akankah ke depannya sesuai apa yang dikatakan Arumi? Jelas saja Reza tak yakin. Arumi mengatakan hal itu karena ia tak tahu apa-apa!
"Sekali saja ya, Sayang. Beda suasana kalau di rumah!" pinta Reza seraya memohon.
"Nanti malam kita masih nginep kan, Mas?"
"Masih sih. Ah, pokoknya ayolah! Kamu gak boleh nolak."
"Huh, dasar! Ya, mau gimana lagi!"
Arumi adalah sosok istri yang penurut. Ia tak akan menolak apa yang jadi permintaan suaminya. Mau tak mau ia pun melakukan servis semalam. Sensasi yang tak bisa dilupakan kembali Reza dapatkan.
***
Jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Reza mengajak Arumi sarapan yang sudah disiapkan sesuai pesanan. Sarapan dilakukan outdoor dengan hiasan meja yang membuat romantis. Arumi merasa ini berlebihan untuk ukuran sarapan.
Menunya pun disiapkan beberapa dalam jenis makanan ala barat. Arumi tentu saja tak biasa. Namun, ia pun tidak sekolot orang kampung. Ia bisa mengikuti cara makan orang kaya. Satu keuntungan buat dia adalah saat ini ia makan hanya di depan suaminya.
"Kamu suka?" tanya Reza di sela-sela makannya.
"Suka, Mas. Aku seneng!" timpal Arumi. Ia begitu bersemangat menyambut hari.
"Aku juga," balas Reza. "Kamu jangan pernah lupakan semua ini, oke!"
"Apa sih ah, aku yakin akan ada banyak hal seperti ini yang kamu lakukan."
"Ya, kamu betul, Sayang." Reza tak ingin merusak suasana hati Arumi. "Oh ya, siang ini kamu mau ke mana?"
"Keliling di sini aja. Aku suka suasana di sini, sejuk menenangkan."
"Kalau aku belu rumah di daerah puncak seperti ini kamu mau?"
Tetiba Reza mendapat ide, jika Arumi mau mungkin ia tak perlu mengajaknya pulang besok. Reza bisa membawanya langsung mencari rumah yang ia sukai.
"Rumah?" tanya Arumi yang justru malah heran.
Reza salah menduga dengan membahas hal itu justru akan membuat Arumi banyak bertanya.
"Memangnya kenapa dengan rumah kamu?" lanjut Arumi kembali bertanya.
"Emmm … i-itu, ya … gak ada salahnya kita punya dua rumah. Kamu bisa tinggal di mana saja."
"Benarkah? Tapi, Mas, beneran deh. Sebetulnya aku heran, dari mana Mas bisa punya rumah sebesar dan semewah itu?"
"Memangnya kenapa? Mudah saja, lagian harga rumah itu tidak semahal yang kamu kira. Jadi mas bisa saja membelinya."
"Yakin?" tanya Arumi terus mengintrogasi.
"Dulu rumah itu dijual murah karena berhantu."
"Ih, kok gitu sih! Mas, becanda kan?"
"Ah, udahlah. Daripada itu, yuk kita keliling!"
Reza mengajak Arumi berkeliling ke berbagai tempat yang masih di sekitar puncak. Kebun teh yang menyejukkan jadi pilihan Arumi saat ini. Ia memang lebih suka menikmati keindahan alam dalam sunyi.
Selama lima tahun ini tak pernah Reza berlibur ke tempat seperti ini. Vera, istri pertamanya, selalu memilih tempat yang ramai pengunjung dan yang pasti bukan di negeri ini. Seperti setahun yang lalu, mereka berdua pergi ke kota Paris untuk mengunjungi menara Eiffel.
Arumi senang berlari dan menari di tengah-tengah kebun teh, bahkan ia meminta Reza agar memintakan izin untuknya untuk memetik teh membantu para petani. Arumi sudah seperti anak kecil yang polos tanpa beban dalam hidupnya.
Reza membiarkan itu. Hari ini ia akan mengabulkan semua permintaannya, karena besok mungkin ia takkan lagi sebahagia ini. Arumi melambaikan tangan meminta Reza agar mendekatinya.
"Ayo, berfoto. Langitnya terang, harus diabadikan nih!"
Reza mendekatkan dirinya. Kemudian Arumi menghitung sampai tiga, beberapa foto ia ambil dengan kamera depan.
Setelah puas bermain di kebun teh. Reza mengajak Arumi makan siang. Seperti biasa menu yang dihidangkan adalah menu istimewa. Hanya yang berbeda saat ini, mereka makan di dekat kolam renang.
Reza menyewa kolam renang ini secara pribadi. Ia ingin mengajak Arumi berenang menjelang sore nanti. Reza masih hafal bahwa renang merupakan salah satu olahraga yang Arumi sukai.
"Mas, sengaja sewa kolam renang?" tanya Arumi.
Reza mengangguk. "Kamu suka?"
"Suka banget," balasnya. "Oh ya, di rumah kenapa gak ada kolam renang? Padahal halaman belakang masih luas."
"Emmm … i-itu, belum kepikiran aja!"
"Nanti buatin dong ya, Mas. Biar bisa berenang kapan aja!"
"Siap!"
"Mas, ada yang ingin aku tanyakan tapi belum."
"Ya, kenapa?"
"Rumah di belakang itu untuk apa?"
"Itu … awalnya rumah buat asisten rumah tangga."
"Terus sekarang kenapa kosong?"
"Rencana mau direnovasi. Tapi belum mas urusin."
"Ah, gitu. Benar sih, Mas kan sibuk kerja."
Reza mengangguk. Ia sedikit takut karena Arumi selalu ada saja pertanyaan yang berkaitan dengan rumah Vera. Padahal nanti pun ia akan tahu sebenarnya.
Ia mengalihkan istrinya itu dengan mengajaknya mulai berenang. Toh, langit sedikit mendung sehingga tak panas jika berenang di siang bolong. Arumi dengan antusias menyetujui.
***
Menjelang malam Arumi bergegas merebahkan dirinya ke atas kasur. Banyak hal yang dilakukannya hari ini, membuat ia sangat kelelahan. Ia tak sabar menyambut esok hari untuk kembali ke rumah. Seasyik apa pun liburan, rumah tetap selalu dirindukan.
Berbeda dengan Arumi, Reza justru tak ingin malam segera berlalu. Ia terus memandangi wajah istrinya itu, karena tak yakin jika Arumi akan masih tetap bertahan dengannya. Mungkin esok malam, ia sudah tak lagi bisa memandang Arumi seperti ini.
"Mas, jangan lihatin aku gitu dong!"
"Kenapa? Kamu kan istri aku."
"Aku jadi salting nih!"
"Mau langsung tidur? Main dulu sekali, yuk!"
"Aku capek, Mas."
"Ya udah, tidur aja ya, Sayang."
Reza terus mengelus surai hitam milik Arumi hingga istrinya itu tidur terlelap. Ia tak menghentikannya, karena entah kapan bisa melakukan ini lagi. Karena esok ia tak tahu apa yang terjadi.
Jika bisa, dia ingin mengajak Arumi untuk tidak pulang. Biarlah lupakan tentang rumah itu dan hidup bersama hingga memiliki seorang putra. Namun, Arumi takan diam. Ia akan banyak bertanya dan merasa heran jika suaminya melakukan hal itu. Untuk itu, Reza memanfaatkan tiap detik malam ini yang akan dilewatinya, walau hanya sekadar memandang wajahnya.