Hao menyandarkan punggungnya ke sofa kulit besar di ruang tamu Yena. Rumah itu terasa luas, elegan, dan dingin—hanya ada Yena dan seorang ART tua di sana. Hao sedang asyik menggambar detail konsep sketsa baru lukisannya, sementara Yena sibuk mengurus laporan HIMA di laptop. Suasana tenang itu pecah ketika bel pintu berbunyi berkali-kali dengan tidak sabar. “Siapa sih? Nggak biasanya ada tamu,” gumam Yena, menghela napas. Hao, yang merasa tidak nyaman dengan kedatangan tiba-tiba, beranjak ke pintu. Ketika ia membukanya, Scott berdiri di sana, dengan Luna yang berdiri angkuh di sisinya. Ekspresi wajah Scott adalah perpaduan antara kemarahan yang membara dan kekecewaan yang mendalam. Luna tampak sinis, mengenakan kacamata hitam di dalam ruangan. “Ngapain lo berdua ke sini?” tanya Hao, nad

