Bab 31 : Takut-Takut

1178 Words

Hari Sabtu kali ini terasa berbeda. Tubuh Yena yang ringkih bersandar sedikit ke counter top. Ia memegang pisau, tapi pandangannya kosong. Sesekali ia menoleh ke ambang pintu dapur, tempat Hao berdiri seperti patung, pura-pura minum segelas air yang sudah habis isinya lima menit lalu. Di bawah celemek putihnya, perut Yena terasa aneh—bukan sakit, tapi… penuh. Ingatan suster di klinik kampus berputar-putar di kepalanya: Selamat ya, Pak. Ibu sudah hamil tiga minggu. “Hao, kamu ngapain berdiri di situ kayak tiang jemuran?” Bunda menegur tanpa menoleh, tangannya sibuk mengaduk sup. “Nemenin Yena, bukan jadi door stopper.” Hao tersentak, cepat-cepat mendekat ke Yena. “A-aku lagi…” “Lagi mau ngomong sesuatu ke Bunda?” potong Yena, suaranya pelan dan menusuk. Ia menyikut lengan Hao pelan. H

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD