Mobil sedan hitam milik Tante Hana melaju membelah jalanan Jakarta yang lengang di hari Sabtu. Di jok belakang, Yena dan Hao duduk berjauhan, dipisahkan oleh udara dingin AC dan rasa bersalah yang menusuk. Tante Hana duduk tegak di depan, di samping supir, seperti komandan yang mengawasi pasukannya menuju medan perang. “Kalian berdua dengar baik-baik,” suara Tante Hana memecah keheningan, tanpa menoleh. “Kalian jangan aneh-aneh di rumah sakit. Apapun hasilnya, kalian harus terima. Kalau Yena benar hamil, kalian nikah. Bunda tidak mau ada drama lagi.” Yena memejamkan mata. Kepalanya terasa makin pusing, bukan karena mual, tapi karena stres. Ia membuka mata dan menatap Hao dengan sorot mata yang menuduh. “Ini semua salah kamu, Hao,” bisik Yena tajam. Hao, dengan rambut gondrong yang menj

