Gedung Himpunan Mahasiswa (Hima) Fakultas Teknik biasanya adalah sarang ambisi, kopi, dan kertas-kertas yang berserakan. Namun, bagi Yosua Omara—mahasiswa abadi yang sudah dua kali mengulang mata kuliah Algoritma—tempat itu terasa seperti kuburan ambisi. Ia berdiri di ambang pintu ruang rapat, memegang amplop putih lusuh berisi surat izin sakit Yena. Anting kecil di telinga kirinya berkilat tertimpa cahaya lampu neon yang berkedip. Yosua mendesah malas. Ini bukan levelnya. Seharusnya dia sekarang sedang di kafe, bukan mengantar surat seperti kurir. Di dalam ruangan itu, hanya ada satu orang. Seorang perempuan duduk di balik meja kayu panjang, dikelilingi tumpukan map dan laptop yang menyala. Rambutnya diikat kuncir kuda yang ketat, memperlihatkan rahangnya yang tegas. Wajahnya cantik, ta

