Pernikahan digelar cepat, hanya tiga minggu setelah malam hujan itu. Sabtu pagi jam sepuluh, gedung serbaguna kecil di kawasan Cilandak sudah ramai. Dekorasi sederhana: bunga kertas putih, lampu fairy light, dan meja-meja kayu panjang penuh makanan rumahan. Bapaknya Scott—pria berusia lima puluhan yang gagah dengan kumis tebal—mengundang semua istrinya. Sebelas perempuan dari berbagai usia, dari yang masih berusia 30-an sampai 50-an, datang dengan senyum lebar. Mereka sibuk mengatur makanan, menata kursi, bahkan ikut make-up-in Luna dengan canda tawa. “Mama nomor tujuh yang paling jago masak rendang,” bisik Scott ke Luna sambil cengengesan. “Mama nomor empat yang paling galak, tapi dia yang bayarin gaun kamu,” lanjutnya. Luna cuma ketawa sampai matanya berair. Mama kandungnya yang juga

