Pagi di pantai Kuta masih sepi, ombak bergulung pelan seperti napas yang belum bangun. Yena berdiri di tepi air, kakinya tenggelam di pasir basah, angin meniup rok pendeknya sampai menampar paha. Hao datang dari belakang, tangannya langsung melingkar di pinggang Yena, dagunya bertumpu di pundaknya. “Kalau kamu ulangin lagi yang di Jogja itu,” bisik Yena tanpa menoleh, suaranya dingin tapi bergetar, “aku akan teriak sekarang juga. Di depan semua orang.” Hao tertawa kecil, napas panasnya menggelitik telinga Yena. “Teriak aja, sayang. Video kamu yang lagi telanjang sambil bilang ‘Hao sayang’ itu masih aman di kantongku.” Yena langsung berbalik, matanya menyala. “Kamu jahat banget, Hao.” “Dan kamu suka cowok jahat ini,” balas Hao santai, jari telunjuknya menyentuh ujung hidung Yena. “Makan

