Kampus kembali berdenyut setelah trip Bali. Tapi yang paling berubah bukan jadwal kuliah, melainkan aura di sekitar Yena dan Hao. Rapat HIMA Fakuktas Teknik lantai tiga gedung F berlangsung serius. Yena lagi berdiri di depan proyektor, menjelaskan rundown dies natalis. Suaranya tegas, gerakan tangannya lincah. Di pojok ruangan, Hao duduk diam kayak patung marmer. Memakai hoodie hitam, tangannya disilang, matanya cuma fokus ngeliatin Yena. Tiba-tiba Yena berhenti, nengok ke Hao sambil nyengir lebar. “Halo, pacarku,” sapa Yena santai, langsung bikin ruangan riuh. Junior-junior pada cengengesan, ada yang tepuk tangan kecil. “Eh, tolong bawain pacar aku makan dong. Dia pasti laper nungguin dari tadi,” perintah Yena sambil ngedipin mata. Dua menit kemudian, nasi kotak ayam geprek udah non

