Malam itu, sleeper bus meluncur pelan di tol Jakarta menuju timur, lampu kabin sudah dipadamkan sejak dua jam lalu. Hanya deret lampu baca kecil yang menyala sporadis, seperti bintang-bintang redup di langit-langit bus. Udara AC dingin menusuk tulang, bikin selimut tipis yang disediakan pihak EO terasa tak cukup. Di seat nomor 17-18, paling belakang sebelah kiri, hordeng putih sudah ditutup rapat sejak mereka naik—pilihan Hao sendiri saat check-in. “Biar tenang,” katanya waktu itu. Yena tidur miring menghadap jendela, punggungnya menempel d**a Hao, posisi sendok klasik yang terpaksa karena tempat yang sempit. Hao tak tidur. Matanya terbuka lebar di kegelapan, menatap tengkuk Yena yang terlihat dari balik rambut pendek yang tergerai. Aroma shampoo vanila masih menempel, bercampur bau kulit

