Pintu kamar 312 terbuka pelan tanpa suara. Hao menyelinap masuk, membawa mangkuk bubur ayam yang masih hangat di satu tangan, tangan satunya sudah mengunci pintu dari dalam. Lampu kamar hotel di Jogja ini temaram, hanya satu lampu tidur kuning keemasan yang menyala di samping ranjang. Yena terbaring miring di atas sprei putih, selimut ditarik sampai dagu, rambutnya terurai di bantal seperti tinta hitam yang tumpah. Matanya sedang fokus menatap layar handphone, membaca komik online kesukaan. “Katanya sakit kepala kok malah maen hp,” kata Hao lembut, suaranya rendah seperti bisikan. “Bangun sayang. Buburnya udah dibawain nih.” Yena tak menjawab langsung. Dia hanya menatap Hao dari balik bulu mata, lalu menggeser tubuhnya sedikit, memberi ruang di sisi ranjang. Hao mengerti. Dia meletakkan

