Bab. 6. Kehilangan.

1445 Words
"Kenapa dia harus pergi, Ma?" pertanyaan dengan air mata yang berlinang di pipi Anandini. "Sudah, Sayang. Allah lebih sayang Narendra daripada kita semua." Anandini menggeleng dengan tatapan frustasi ke arah mamanya. Dia langsung berdiri, lalu berlari menuju ruangan di mana anaknya berada. Dara dan suaminya pun mengikuti langkah anaknya itu. Semua yang menyayangi Anandini pasti juga merasa kehilangan atas meninggalnya Narendra. Tangis Anandini kembali pecah, dia meraung sejadinya, memeluk tubuh mungil yang sudah dingin dan terlihat pucat. Dara dan Kalingga sebagai orang tua pun tak bisa membendung kesedihan itu. Tak ada lagi yang bisa mereka lakukan kecuali membiarkan putrinya meluapkan rasa sedihnya. Dara yang dipeluk suaminya pun akhirnya meminta agar memberitahu Risang atau orang tuanya. Mereka berhak tahu kabar duka ini. Meski dalam hati Dara bertanya-tanya mengenai mama mertua putrinya yang tak ikut mengantar. "Pa, telpon Risang beri tahu kondisi Narendra! Kalau dia tidak menjawab, telpon saja Abiyasa atau siapa pun. Anandini tidak bisa seperti ini tanpa keluarga suami." Abiyasa mengangguk, dia merogoh ponselnya, lalu keluar dari ruangan. Dara mulai menarik pelan bahu putrinya. Dia peluk erat tubuh ringkih itu meski tak ada kata yang terucap untuk membuat Anandini tenang. Setelah beberapa saat, Anandini pun bisa tenang, dia masih menangis tetapi tidak sekalut tadi. "Ma, aku benar-benar kehilangan Narendra!" "Shuut, Mama tahu semua tidak mudah, Anandini. Tetapi, semua sudah menjadi takdir yang harus kamu lalui. Semua tak bisa dicegah karena sang pemilik hiduplah yang berkuasa atas segalanya." "Tapi aku tidak rela, Ma!" "Dia akan menjadi tabungan terindah untuk kamu kelak di akhirat. Doakan saja untuk ketenangannya. Narendra akan lebih bahagia di sisi-Nya, Sayang!" Dara membawa putrinya keluar, karena pihak rumah sakit mulai mengurus semua hal yang dibutuhkan Narendra sebelum ia di perbolehkan pulang bersama keluarga. "Nona, biarkan aku pulang lebih dulu untuk mempersiapkan segalanya," pamit Darmi ke Anandini. Wanita itu hanya memberi anggukan sebagai jawaba. Air matanya tak henti keluar membasahi pipi. Setelah beberapa menit berlalu, Risang datang bersama papanya. Terlihat wajah syock juga kehilangan. Tatapannya tertuju pada Anandini yang terus menangis di pelukan mamanya. Lelaki itu perlahan mendekat, dia berjongkok agar tatapannya bisa sejajar dengan wajah istrinya. Ia pegang pelan tangan Anandini, membuat perhatian istrinya langsung tertuju padanya. Anandini kembali menangis tersedu. Dia tidak bisa untuk terlihat baik-baik saja, karena dia memang sedang hancur karena kehilangan seorang anak yang teramat tampan yang baru seminggu ia lahirkan. "Narendra pergi, Mas!" Risang menghapus air mata istrinta. "Bukankah dia tadi pagi baik-baik saja?" "Semua terasa cepat, dia panas, lalu kejang dan aku bawa ke rumah sakit diantar Bi Darmi. Namun setelah sampai sini, dia sudah tidak ada," jelas Anandini dengan suara tersendat-sendat karena menangis. Risang memeluk istrinya, dia pun tak mengira semua akan menjadi luka. Anak pertama yang selalu di dambakan oleh seluruh pasangan baru, nyatanya harus mereka relakan karena sang pencipta lebih menyayanginya. Abiayasa pun memberikan semangat untuk sang menantu. Meski bersedih kehilangan cucu pertama, sebagai seorang kakek dan orang tua harus memberikan penghiburan untuk Anandini yang jelas terpukul dengan keadaan ini. Laksmi pun datang ke rumah sakit. Wanita itu hanya menyapa sekilas ke kedua orang tua Anandini. Lalu dia mendekat ke arah putra juga sang menantu. "Apa yang terjadi, sehingga Narendra dinyatakan tiada?" tanya Laksmi. Anandini langsung menatap nyalang ke arah mama mertuanya. Rasa marah yang beberapa saat lalu terlupakan, kini muncul kembali. "Seandainya mama mengizinkan aku membawa Narendra ke rumah sakit menggunakan mobil di rumah, mungkin keadaannya akan berbeda." Laksmi menatap marah ke arah menantunya, merasa tidak terima dengan semua yang diucapakan Anandini. "Jaga bicaramu, Anandini!" "Tidak, Ma. Biar semua orang tahu, Bi Darmi pun menjadi saksi atas keegoisan mama. Sudah tahu anakku kejang dan harus segera mendapat pertolongan, mama malah memintaku memesan ojol karena mobil itu akan dibawa pergi oleh mama." Anandini berucap dengan setengah berteriak karena marah kepada mama mertuanya. Semua mata kini menatap wanita paruh baya yang berdandan menor itu. "Ti-tidak se-seperti itu. Aku memang ada acara di luar, kalau mobil itu dipakai aku juga mau pergi," jelas Laksmi dengan suara tergagap. "Mama seharusnya mementingkan Anandini yang sedang darurat butuh pertolongan. Bukan malah memikirkan kesenangan sendiri seperti ini!" Risang pun bicara dengan nada marah ke mamanya. "Jangan mentang-mentang Anandini terpaksa mau menikah dengan putramu, kamu bisa seenaknya saja memperlakukan dia ya?" Dara pun menatap marah, bahkan sampai menuding wanita paruh baya itu. "Kau harus paham Laksmi, kalau sebuah pernikahan ada seorang anak itu, berarti mereka berdua sudah saling menerima hubungan yang awalnya terpaksa menjadi cinta," ucap Dara melanjutkan pembicaraannya. "Sudah, ini di rumah sakit, nanti, setelah semua proses pemakaman Narendra selesai kita bahas lagi," ucap Kalingga mencoba menengahi masalah. Setelah semua proses selesai, Narendra diperbolehkan dibawa pulang oleh keluarga menggunakan ambulance. Sepanjang jalan, Anandini tak henti menangis, di dalam kendaraan dengan suara sirine nyaring itu, ada Risang dan Dara. Kalingga pulang dengan kendaraan milik menantunya bersama kedua besannya. Rumah mewah itu langsung penuh dengan tetangga dan sanak saudara yang melayat. Binar sebagai sahabat Anandini pun langsung datang untuk memberikan suport. Kedua wanita itu saling berpelukan, menangis bersama. Binar pun tak pernah menduga semua kebahagiaan Anandini diambil secepat ini. "Sejak dulu aku mengenalmu, kau adalah wanita yang hebat juga kuat, Anandini. Allah lebih tahu apa yang terbaik untukmu." "Aku tahu semua tak mudah bisa kau jalani. Tapi, Narendra sudah lebih bahagia karena kembali ke sisi-Nya." "Tapi semua ini terlalu cepat, Binar. Aku bahkan baru menjadi ibu satu minggu. Dan hari ini, anakku sudah tiada." Binar melepas pelukannya, dia tatap serius wajah sembab juga mata yang bengkak karena menangis itu. Tangannya juga menghalau air mata yang tumpah. "Ikhaskan, Anandini. Semua tak akan pernah pergi tanpa alasan." Anandini mengangguk, meski air matanya seolah tak mau berhenti. Sikap Laksmi pun hanya diam saja sejak Anandini meluapkan amarahnya di rumah sakit tadi. ___ Siang harinya setelah salat dhuhur selesai, Narendra akhirnya di makamkan. Suasana haru kembali menyelimuti, semua keluarga. Bagaimanapun, bayi itu menjadi cucu pertama untuk kedua belah keluarga. Anandini terus saja menangis meski semua orang saling menguatkan dan memberinya kasih sayang. Risang kali ini menunjukkan rasa empatinya kepada sang istri yang sudah lama dia abaikan. Meski di sana ada Elvantri yang datang melayat, lelaki itu terus memeluk istrinya dan selalu berada di dekat Anandini. Entah rasa kasihan sungguhan atau hanya sebuah pencitraan, namun perlakuan Risang sungguh berbeda kepada sang istri. "Kamu tidak usah ikut ke makam, ya." Risang mencoba bernegosiasi dengan Anandini. Wanita cantik tanpa makeup dengan wajah pucat itu menggeleng. "Biarkan aku melihatnya meski dari jauh." Risang memberikan tangan istrinya ke arah Binar dan mama mertuanya. Karena dia akan membopong jasad anaknya menuju pemakaman umum yang jaraknya tidak jauh dari perumahan yang mereka tinggali. Kendaraan mulai beriringan menuju pemakaman. Anandini kembali menangis histeris, semua hal yang ia dambakan, nyatanya hanya semu belaka. Semua kisah dari awal perjumpaan dengan Risang pun kembali teringat. Awal pertemuan yang keduanya tidak ia inginkan. Karena sebuah insiden kebangkrutan dari perusahaan yang dikelola papanya Anandini. Menjadikan Abiyasa yang memang sudah suka dengan putri temannya itu, menjodohkan putranya dengan Anandini. Dengan sebuah alasan mengenai pertumbuhan dua perusahaan. Keduanya sempat menolak. Dengan berbagai alasan, Anandini menolak dijodohkan karena tidak saling kenal. Awal pernikahan pun terasa hambar, namun setelah dua minggu bersama, nyatanya, Risang meminta Anandini agar menerima pernikahan itu dengan lapang d**a. Bagaimana pun, keduanya sudah tidak bisa lagi mundur untuk mengakhiri pernikahan. Tak disangka pula, hadirnya Narendra pun terlalu cepat untuk pasangan baru yang sedang menumbuhkan rasa. Berharap hadirnya bayi itu bisa memperkuat hubungan yang mulai dingin, nyatanya, Narendra malah diambil sang pencipta dengan begitu cepat. Membuat Anandini yang sempat menyerah dengan pernikahan pun kembali ingin menuntaskan apa yang ia rasakan. Dara dan Binar memeluk tubuh ringkih itu hingga semua masuk ke dalam mobil. Sungguh tak ada kejadian yang paling menyedihkan untuk Anandini kecuali kematian sang buah hati. Proses pemakaman pun selesai, gundukan tanah merah yang masih basah, dengan bunga mawar tebal menjadi selimut di atasnya. Semua perlahan meninggalkan Anandini yang masih diam dengan meratapi peristirahatan anaknya. Tertulis dengan jelas nama dan tanggal lahir juga tanggal wafatnya. Air mata tak kunjung reda membasahi pipinya yang mulus. "Semua sudah menjadi takdirnya, Anandini. Aku tahu apa yang kau rasakan sekarang ini tak ada obatnya. Tapi, kesedihan yang berlarut juga akan menghambat jalan Narendra yang baru," ucap Binar sambil merangkul bahu sahabatnya. Anandini tidak menjawab, dia dipaksa oleh Binar untuk meninggalkan makam Narendra. Sedangkan kedua orang tuanya dan juga Risang masih menunggu di dekat kendaraan. Semua pulang masih dengan rasa sedih juga kehilangan. Dara dan Binar mengantarkan Anandini ke kamar agar bisa istirahat, meski mereka tahu, semua tak akan mungkin. "Istirahatlah, Sayang. Mama tidak akan pulang dulu. Kalau suamimu mengizinkan, aku akan membawamu kembali ke rumah untuk sementara waktu." Anandini menatap wajah mamanya, "Tunggu sebentar, Ma. Ada hal penting yang harus aku bicarakan!" Dara dan Binar saling tatap, dengan perasaan gelisah karena keinginan Anandini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD