Bab. 7. Kesempatan Dalam Kesempitan.

1391 Words
"Ada apa, Anandini?" tanya Dara dengan langkah mendekat ke arah putrinya lagi. "Aku akan pulang lebih dulu. Besok setelah kerja, aku akan mampir melihatmu lagi," sambung Binar menatap ke arah sabatnya. Anandini menggeleng, "Jangan pergi! Kamu juga sahabatku. Dari awal pun tahu bagaimana kehidupanku bersama Risang dimulai." "Sebenernya ada apa?" Dara kembali bertanya karena semakin penasaran dengan sikap putrinya. Anandini menghela nafas pelan sebelum bicara. "Jangan menyela atau bertanya apa pun, sebelum aku selesai bicara!" Anandini memberikan peringatan kepada sahabat juga mamanya. Keduanya pun mengangguk pelan secara bersamaan. Anandini pun mulai menceritakan semua hal yang sudah lama ia pendam. "Ma, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan hubungan pernikahan ini. Alasannya karena dia dan aku menikah karena terpaksa. Dan yang membuat aku mundur, karena perlakuan Mama Laksmi yang sejak awal memang tidak pernah menyukaiku." "Selama ini, aku sudah mencoba menjadi manantu dan istri yang baik. Tapi, aku tidak pernah dianggap ada olehnya. Bahkan setiap kali aku melakukan sesuatu pun dianggap salah." "Puncaknya adalah pagi ini, Ma." Anandini menjeda ucapannya karena dia merasa sesak menahan tangis. Air matanya kembali turun membasahi pipinya yang terlihat merona. Setelah beberapa saat, dia kembali melanjutkan ucapannya. "Kalau tadi pagi aku boleh membawa mobil, tentu takdir anakku tidak akan seperti ini. Hanya saja, semua sudah berlalu, Ma. Aku akan bertahan sampai tujuh harinya Narendra." "Setelah selesai, aku akan kembali pulang. Apakah Mama dan Papa keberatan kalau aku pulang?" tanya Anandini di akhir kalimatnya. Dara memeluk putrinya, begitu juga dengan Binar. Ketiganya berpelukan dengan air mata yang terus mengalir. "Pulanglah, karena rumah itu tetap menunggumu kembali di situasi apa pun," jawab Dara dengan suara lirih. "Apa pun yang kamu rasa benar, aku akan selalu ada di pihakmu, Anandini. Jadi, kamu harus bisa melewati fase ini. Jangan sampai kamu menjadi kalah. Mungkin rasanya ingin ikut mati saat anak kita pergi untuk selamanya." "Tapi, Allah kadang menempatkamu di jalan ini karena ingin memperlihatkan sesuatu hal kepadamu," sambung Binar. "Nanti bicarakan dulu dengan suamimu. Mama akan mendukung apa pun keputusan kamu. Jika pernikahan ini memang tidak membuat kamu bahagia, maka, lepaskan saja," ucap Dara sambil menghapus air mata Anandini. "Aku akan menunggu sampai tujuh harian Narendra selesai, Ma. Aku sudah memikirkannya sejak lama. Ada dan tiadanya putraku, aku harus membuat keputusan untuk kebahagiaan hidupku," jawab Anandini. "Mama juga akan bicarakan ini kepada papa. Mama harus pulang dulu. Nanti malam kami akan kembali datang untuk ikut tahlilan." "Sekarang fokus pada kesehatan kamu dan mentalmu, Anadini. Nanti keputusanmu ini kita bahas lagi." Anandini mengangguk, dia menatap langkah mama juga sahabatnya yang keluar dari kamarnya. Air matanya kembali tumpah, dia tidak bisa menyembunyikan rasa sedih karena kehilangan anaknya. ASI mulai menetes karena sejak pagi tidak di berikan kepada anaknya. "Aku harus bagaimana biar tidak menetes dan terasa nyeri?" Anandini bertanya pada dirinya sendiri. Dia ingat kalau ada yang memberikan kado waktu lahiran pompa ASI. Wanita berambut panjang itu langsung membuka lemari dan memanfaatkan alat itu. Dia merasa beruntung karena ada wadah untuk menampung ASI nya. "Mungkin ini tidak akan cukup untuk menampung. Aku akan beli lagi nanti." Anandini mulai memompa ASI dan menaruhnya di wadah. Dia akan menaruhnya di frezer. "Mama akan memberikan ASI ini untuk bayi yang membutuhkan, Nak. Semoga kau di sana mendapat kedamaian," ucap Anandini setelah selesai memompa ASI. Risang masuk ke kamar, bertepatan dengan istrinya yang akan keluar kamar menaruh ASI di dua botol berukuran sedang itu. Lelaki itu hanya melihat sekilas ke arah tangan istrinya. Tanpa bertanya mau di gunakan untuk apa ASI itu. Pikir Risang hati istrinya sedang tidak baik, dia akan membiarkan apa pun agar Anandini tidak berlarut dalam kesedihan. ___ Malam sebelum acara tahlilan di mulai. Risang yang baru selesai mandi pun melihat keadaan istrinya sedikit membaik, meski dengan kedua mata yang membengkak karena menangis dari pagi. "Bagaimana perasaanmu?" tanya Risang. "Aku tidak bisa menjelaskannya. Karena rasanya sangat tidak adil untukku," jawab Anandini. "Aku merasa kehilangan karena Narendra adalah anak pertama dan anak lelaki yang aku dambakan. Aku sudah punya rencana untuknya saat dia dewasa." "Nyatanya, Allah lebih mencintainya dan kita sebagai orang tua harus ikhlas dengan takdir anak itu." Risang menjelaskan. "Aku akan mencoba menerima takdir Allah memang selalu baik," jawab Anandini dengan wajah datar. Keduanya langsung turun untuk menemui semua keluarga dan juga beberapa rekan kerja suami dan papa mertuanya yang melayat. Anandini mencoba untuk tidak menangis lagi. Semua memang harus ia jalani meski hati merasa tidak terima. Semua hanya menunggu terbiasa saja. Hingga rasa sedih yang ia alami mulai terhibur. Dara dan Kalingga kembali datang. Keduanya langsung menemui putrinya. Anandini langsung memeluk papanya. Benar, dia tidak menangis, hanya saja, ada hal yang tidak bisa ia ceritakan mengenai perasaannya. "Kau perempuan kuat, semua ini akan berlalu, Sayang. Kelak kau akan mendapatkan kebahagiaan yang begitu kau dambakan." "Iya, Pa." Dara mengajak putrinya duduk bersama tamu lainnya. Mata Anandini pun tertuju pada Elvantri yang jug hadir di acara tahlilan sang putra. Meski banyak sekali pertanyaan dalam benaknya, dia hanya diam dan menikmati momen kesedihannya. Acara di mulai, lantunan ayat suci dan doa terus terdengar. Anandini sesekali menarik nafas dalam, dia tak bisa menutupi rasa sedihnya. Hanya saja, Tangan Binar menggenggamnya erat. Sesekali sahabatnya itu menatap dengan senyum tipis. Hingga acara berakhir, Anandini masih duduk. Elvantri akhirnya menyapa karena tadi siang, dia tidak bisa menemui dengan leluasa istri bosnya itu. "Nona, aku turut berduka. Semoga Nona menjadi wanita yang tabah untuk menerima semua ini," ucap Elvantri. "Terima kasih, El. Aku tahu sudah capek dengan urusan pekerjaan. Apalagi, sejak pagi suamiku juga sibuk dengan pemakaman putranya," jawab Anandini. "Aku juga tidak bisa lama-lama, Nona. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku tangani," pamit Elvantri sambil memeluk tubuh lemah Anandini. "Hati-hati di jalan!" Sedangkan Risang menatap dari jauh dua orang yang sedang berbincang itu. Dia sedikit khawatir kalau sekertarisnya itu salah bicara dan membuat semuanya terbongkar secara tidak sengaja. Namun setelah Elvantri pergi dari dekat istrinya, dia merasa lega. Dengan langkah sigap, lelaki itu menarik lengan sekertarisnya menuju parkiran di samping rumah yang jarang terjamah orang. "Ada apa?" tanya Elvantri yang sempat kaget. Tanpa menjawab, Risang mengungkung tubuh Elvantri sehingga membuat tubuh keduanya teramat dekat. Lelaki itu menaikkan dagu sekertarisnya, lalu dia mencium lembut, namun hanya beberapa saat saja. "Aku merindukanmu!" bisik Risang sambil menatap wajah Elvantri. "Kau ini nekat sekali. Bagaimana jika ada yang melihat?" tanya Elvantri sambil menatap awas ke sekitarnya. "Tidak akan ada yang melihat. Sampai tiga hari ke depan, aku tidak bisa ke kantor. Tapi aku harap kau bisa menyempatkan datang dengan alasan apa pun," ucap Risang. "Baiklah, aku akan berusaha menemui dan melakukan hal gila ini meski hanya sebentar." Elvantri mengecup kilat pipi bos sekaligus kekasihnya itu, lalu pergi dari area parkir rumah Risang. Lelaki itu juga kembali melenggang masuk ke dalam berkumpul kembali dengan keluarga. Sesekali tatapan Risang juga ke arah istrinya yang sering diam tanpa senyum di wajahnya. Helaan nafas terdengar berat dari bibir Risang. Hari ini menjadi hari yang begitu panjang juga melelahkan. Menit berlalu, semua orang mulai pergi dari rumah itu termasuk kedua orang tua Anandini. Wanita yang berwajah pucat itu dipanggil oleh Darmi karena sepanjang siang belum makan. "Nona Anandini!" Yang punya nama menoleh tanpa menjawab. Membuat wanita paruh baya itu langsung berjalan tergopoh dan menarik pelan tangan Anandini agar duduk di meja makan. "Ayo makan, Non. Jangan siksa diri nona dengan mogok makan. Nanti kalau sakit gimana?" "Tapi aku enggak lapar, Bi?" Anandini menjawab dengan lirih dan tatapan kosong ke arah asisten rumahnya. "Tiga sedok pun enggak masalah, asal nona makan," jawab Darmi dengan tatapan memohon. Anandini menurut, dia makan dengan pelan, sesuap demi sesuap nasi mulai masuk ke pencernaannya. "Sudah ya, Bi. Aku mau ke kamar. Makasih untuk makanannya," ucap Anandini. "Kalau butuh apa aja bilang ke aku ya, Non!" "Pikirin amat sih, Bi. Biarin aja dia mau makan apa enggak. Kan dia udah gede tahu mana yang harusnya ia lakukan." Tiba-tiba suara dari Laksmi menggelegar di belakang kedua wanita beda usia itu. Hati Anandini terasa sakit. Baru juga kehilangan anak pertamanya. Namun tak ada kata penghibur dari mama mertuanya. Sedangkan Darmi menatap penuh khawatir ke arah Anandini. Takut wanita yang sedang labil karena peristiwa hari ini itu marah. Namun, sedetik dua detik berlalu, Anandini tidak bergeming. "Bi, aku ke kamar dulu. Silakan istirahat!" "Mulai tidak sopan kamu ya! Ada orang tua bicara kamu malah mengabaikan!" Laksmi menatap tak suka ke arah sang menantu. Namun suara menginterupsi dari arah lain membuat wanita paruh baya itu tersentak. "Hentikan semua ini!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD