Bab. 3. Datang Secara Tiba-Tiba.

1253 Words
"Eh, i-itu, dia temanku," jawab Elvantri dengan gugup. "Lalu kenapa kau matikan telponnya?" "Biarkan saja, aku tidak mau diganggu dulu karena jarang sekali aku menghabiskan waktu denganmu, kan?" Risang tersenyum lebar, lelaki tampan itu merasa senang hanya mendengar sebuah kata sederhana dari kekasihnya. Satu jam berlalu, suami Anandini itu mulai membersihkan diri, lalu pamit pulang. "Aku akan pulang, lusa kita akan menginap di Surabaya, kita akan banyak waktu untuk berdua," ucap Risang. "Baiklah, aku juga akan beberes, kamu hati-hati," jawab Anandini. Setelah mengantar Risang ke luar apartemen, wanita yang berfrofesi sebagai sekertaris itu duduk di sofa dengan senyum merekah. Hidupnya terasa lebih indah setelah dia punya Risang. Lelaki yang mengaku bosan dengan semua tingkah polos istrinya. Mencari kesenangan pada dirinya. "Aku harus mendapatkanmu, Risang. Aku tidak mau seumur hidupku hanya menjadi pemuasmu saja." Tawa renyah keluar dari bibir Elvantri, wanita itu mulai beranjak mengambil alat kebersihan. Dia juga memasak untuk dirinya sendiri. Membayangkan akan pergi ke Surabaya untuk perjalanan bisnis pun, wanita itu merasa sangat senang. Satu jam berlalu, saat semua sudah selesai ia kerjalan, wanita yang sering dipanggil El itu membersihkan diri. Setelah selesai, dia mengirim pesan kepada Risang sekadar bertanya kegiatan apa yang dilakukan pria itu. 'Kau sedang apa?' Menunggu beberapa detik berlalu, dia mendapat pesan balasan dari Risang. 'Aku sedang menemani Narendra.' Seulas senyum tipis dengan tatapan prnuh makna langsung terlihat di wajahnya. Wanita itu mencari baju yang menurutnya bagus untuk dia kenakan. Lalu dia berdandan secantik mungkin, kemudian dia membuka lemari, mengambil hadiah yang ia beli kemarin sore setelah kerja. "Jadi, aku ada alasan untuk datang ke rumahmu," ucap Elvantri. ___ Narendra menangis, sedangkan Anandini masih di kamar mandi. Mau tak mau, lelaki tampan itu mencoba menggendongnya. Senyum tipis terukir di bibir Risang saat anaknya langsung terdiam kala berada dalam dekapannya. Untuk beberapa saat, lelaki itu menenangkan putranya. Diajak bicara seolah Narendra bisa paham akan setiap kata yang keluar dari bibir ayahnya. Hingga Anandini selesai mandi pun, bayi tampan itu masih dalam gendongan papanya. "Apa dia menangis?" tanya Anandini. "Kau mandi terlalu lama!" Risang menjawab tanpa menatap istrinya. Namun Anandini tidak memperdulikan semua ucapan itu. Dia mulai mendekat dan mengambil alih Narendra dari gendongan suaminya. "Sini, aku akan membawanya ke bawah," ucap Anandini. Seperti biasa, sebelum jam makan malam, Narendra akan menjadi rebutan mama dan juga papa mertuanya. Ya, hanya saat sore tiba saja, Laksmi mau menyentuh sang cucu. Jika kedua lelaki dalam rumah pergi bekerja, wanita paruh baya itu tak pernah peduli dengan apa yang dilakukan Anandini. Risang juga ikut turun ke lantai bawah, dia juga merasa rumahnya sedikit heboh jika di sore hari. "Bawa dia padaku, Anandini!" titah Abiyasa. Selagi anaknya bersama papa mertuanya, Anandini berjalan ke arah dapur untuk membantu asisten rumah menyiapkan makan malam. Meski sudah diarang agar istirahat, nyatanya Anandini tetap memaksa untuk ikut masak. Beberapa menit berlalu, tawa dan canda karena ada Narendra membuat suasana rumah begitu hidup dan terasa ramai. Suara bel rumah berbunyi nyaring, asisten langsung berjalan tergopoh untuk membukakan pintu. "Non El, to," sapa asisten rumah yang sudah kenal dengan Elvantri. Wanita yang memakai dres motif bunga itu tersenyum sebelum akhirnya menjawab, "Iya, Bi." "Ayo masuk, Non!" Elvantri mengangguk, dia mengikuti langkah asisten masuk ke dalam di mana keluarga Risang berada. Semua mata langsung tertuju pada derap langkah yang kian terasa mendekat. "Selamat malam, Tan, Om!" Elvantri menatap ke arah orang tua Risang secara bergantian. Sedangkan Risang sempat memperlihatkan wajah kaget juga gugup karena kedatangan sekertaris yang merangkap kekasih gelapnya itu datang secara diam-diam. Namun, sebisa mungkin dia langsung terlihat baik-baik saja, meski jantungnya kini berdetak tak karuan. 'Kenapa kamu datang tiba-tiba, El?' tanya Risang dalam hati. Tatapan keduanya bertemu, hanya untuk beberapa detik saja, sebelum suara Laksmi mempersilakan duduk. "El, sini duduk! Saya akan memberitahu Anandini agar dia membuat minuman untukmu," ucap Laksmi dengan ramah. "Tidak usah repot-repot, Tan. Saya hanya sebentar saja. Mendengar Nona Anandini melahirkan, saya belum sempat untuk melihat bayinya," jawab Elvantri. "Duduklah, dan lihat cucuku yang menggemaskan itu!" Laksmi langsung beranjak pergi ke arah dapur. Sedangkan Abiyasa menidurkan sang cucu di box agar sekertaris putranya bisa melihat Narendra dengan leluasa. "Dia sangat tampan," ucap Elvantri yang tersenyum saat melihat wajah Narendra dari dekat. "Apakah dia mirip ayahnya?" tanya Anandini yang tiba-tiba datang membawa minuman. Sontak saja membuat Elvantri merasa kaget karena suara rivalnya terdengar begitu tiba-tiba. "Ah, Nona, kalau tidak mirip ayahnya, tentu saja mirip kakeknya," jawab Elvantri sambil berdiri dari duduknya. Ia langsung memberikan kado itu ke istri bosnya. "Maaf baru sempat menjenguk putra anda," ucap Elvantri sambil memberikan kado. "Terima kasih, El. Apakah suamiku memberikanmu pekerjaan yang begitu banyak?" tanya Anandini dengan senyum tipis menatap suaminya. "Tidak, Nona. Hanya banyak jadwal pertemuan dengan klien yang membuat saya tidak bisa segera melihat Anda," jawab Elvantri. "Iya, sekalian papa mau tanya, apakah kamu jadi pergi ke Surabaya?" tanya Abiyasa. "Kalau tidak ada perubahan jadwal, aku akan pergi lusa, Pa. Semoga bisa satu hari selesai, kalau tidak ya, tentu saja aku harus menginap," jelas Risang menatap papanya. Sedangkan Anandini hanya mendengarkan saja, meski dia tahu suaminya akan melakukan perjalanan bisnis, dia tidak akan kepo untuk bertanya, selayaknya istri yang seaungguhnya. Karena Risang akan marah dan berakhir membentaknya, yang membuat hatinya sakit bahkan merasakan kesedihan. Jadi, dia memilih ngobrol dengan sekertarisnya saja. Wanita itu menjelaskan kalau ada perjalanan bisnis selama dua hari jika semua selesai tepat waktu. "Anandini, cepat siapkan makan malamnya, biar El sekian ikut makan malam di sini!" titah Laksmi. "Baik, Ma." "Aku harus pergi, Tan, jadi enggak bisa ikut makan malam," ucap Elvantri mencoba untuk pamit. Namun Laksmi tidak mengizinkan dirinya pergi sebelum ikut makan malam. Dia juga menatap bosnya dan mendapat anggukan kecil tanda persetujuan. "Ayo, El kita makan malam dulu, baru kamu boleh pergi," ucap Anandini. Semua beranjak ke ruang makan, Risang sengaja berjalan belakangan agar bisa bicara dengan Elvantri. "Kenapa kamu kemari tanpa pemberitahuan?" Elvantri tersenyum, "Aku sengaja ingin membuatmu deg deg gan." "Seharusnya kau nakal di atas ranj@ng saja, jangan nakal di setiap hal!" Elvantri terkekeh pelan, dia mendoangak sehingga bisa menatap ke arah Risang. "Kau tidak memberitahu istrimu kalau kita ada perjalanan bisnis?" "Belum sempat, malah papa bertanya soal itu." "Jelaskan kalau kita akan pergi berdua! Aku takut dia akan salah paham dan mulai peka dengan keadaan kita yang sebenarnya!" Setelah mengatakan itu, Elvantri mulai mendahuli langkah bosnya. Dia duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh Anandini. Di mana dia berada tepat di sebalah kanan Risang. Jika saja Anandini peka, jika masalah utaman dalam hambarnya hubungan suami istri itu ada di depan mata. Sayangnya, wanita cantik itu masih terlalu percaya dengan orang yang dia anggap dekat dan tak akan pernah memberinya luka. Makan malam diselingi dengan obrolan riangan. Membuat suasana semakin hangat. Apalagi, Abiayasa selalu perhatian ke Anandini menyangkut makanan agar cucunya punya asupan yang bagus untuk ASI. 'Aku juga tak sabar menjadi bagian keluarga ini. Meski harus sembunyi-sembunyi, bagiku akan menjadi pengalaman pribadi yang tak akan pernah aku lupakan.' 'Mencintai atasan hingga dijadikan istri simpanan, hal menjijikkan memang. Tapi, aku mulai menyukai jalan yang aku pilih sendiri,' monolog Elvantri dalam hati. Risang mulai menurunkan tangan kirinya, dia langsung menuju paha mulus sekertarisnya. Dia raba pelan, yang membuat jantung El semakin berdetak tak karuan. Wanita itu menoleh sesaat dengan tatapan penuh arti, hingga senyum tipis nyaris tak terlihat tersemat di bibir Risang. "Makanlah yang banyak, El!" Anandini tersenyum ke arah wanita itu. Elvantri tersenyum kaku karena menahan geli bercampur was-was akibat ulah bosnya. "Jujur, masakan ini enak dan perutku merasa sangat kenyang." Tangan Elvantri dan Risang saling bertaut di bawah meja, membutakan semua tatapan tulus yang tertuju ke arahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD