Cahaya terakhir padam. Aren berdiri dalam kehampaan yang mutlak. Tak ada suara. Tak ada warna. Hanya denyut pelan dari pikirannya sendiri yang terus berusaha mengingat sesuatu yang tidak pernah ia tahu telah dilupakan. Kemudian, dari dalam kegelapan itu, terdengar bunyi lirih. Seperti tetesan pertama dari hujan yang jatuh ke permukaan kosong. Lalu satu lagi. Dan satu lagi. Setiap tetes menyisakan gema yang membentuk ritme. Seolah dunia yang sunyi mulai bernapas kembali. Aren melangkah pelan. Ia tidak tahu ke mana, hanya mengikuti suara itu. Tiba-tiba, di bawah kakinya, terbentuk lingkaran cahaya berwarna perak. Di tengah lingkaran itu, muncul bayangan seorang anak kecil. Bayangan itu duduk memeluk lututnya, menggambar sesuatu di udara. Huruf-huruf melayang di sekelilingnya, terhubung s

