Angin malam menerpa reruntuhan kuil Atherion. Debu, pecahan batu sihir, dan aroma sihir gelap menyatu dalam senyap.
Sosok berjubah hitam itu berdiri, mengangkat pedang bayangannya tinggi ke langit. Cahaya di sekitarnya tertarik masuk ke bilah senjata itu, seolah malam sendiri sedang menelan terang.
Kael berdiri tegak, meski lututnya hampir gemetar. Elya tetap di sampingnya, menggenggam tangannya erat.
"Jika dia berasal dari kehidupan kita sebelumnya..." suara Kael rendah, "kenapa aku tak bisa mengingat wajahnya?"
Elya menggeleng perlahan. "Karena tidak semua kenangan kembali sekaligus. Tapi perasaannya... aku bisa merasakannya. Pahit. Terbakar."
"Iri hati," gumam Kael. "Bukan kebencian biasa."
Sosok itu mengayunkan pedangnya ke tanah, dan retakan muncul dari tempat bilah itu menyentuh tanah. Dari retakan itu, makhluk-makhluk hitam menjalar keluar. Mereka lebih kecil, lebih cepat, tapi sama mengerikannya.
"Dia ingin menguras kekuatan kita," bisik Elya. "Memancing kita agar meledak sebelum sepenuhnya siap."
Kael mengangguk. "Kita tak bisa melawannya sekarang. Tapi kita bisa bertahan."
Dengan satu isyarat tangan, lingkaran sihir biru terbentuk di bawah kaki Kael dan Elya. Pelindung cahaya muncul seketika, menahan gelombang makhluk yang menyerbu.
Tapi hanya sebentar.
Makhluk-makhluk itu mulai menggerogoti batas lingkaran, dan Kael tahu pelindung ini tidak akan bertahan lama.
"Elya. Kita harus menyatu lagi."
Elya memejamkan mata. "Baik. Tapi kali ini... mari buka segalanya."
Jari mereka saling menggenggam, dan sihir di sekeliling mereka menyala lagi. Tapi berbeda dari sebelumnya. Kini ada suara-suara. Teriakan. Tangisan. Lembaran-lembaran ingatan yang terbuka seperti buku lama terbakar dan terbaca ulang dalam kobaran api.
Kael melihatnya. Hujan deras. Sekolah. Gadis di luar jendela. Surat merah muda. Senyuman terakhir. Cahaya putih. Tubuh Ayla yang hancur di pelukannya.
"Aku... ingat segalanya."
Seketika kekuatan Kael meledak. Aura biru cemerlang menyebar dari dadanya, menyapu makhluk-makhluk gelap itu seperti badai. Retakan di tanah berhenti menjalar. Sosok berjubah hitam memundurkan langkah, untuk pertama kalinya tampak waspada.
Tapi bukan hanya Kael yang berubah.
Elya berdiri, rambutnya melayang, mata merahnya menyala lembut. Dari tubuhnya memancar cahaya ungu muda, seperti bayangan bulan pertama di langit malam.
"Jika kau datang dari masa lalu," ujar Elya, "maka kau harus tahu... cinta kami tidak mati di sana."
Sosok berjubah itu tertawa kecil. "Cinta kalian... penyebab kehancuran. Tapi ini bukan waktunya. Kalian akan mengingat siapa aku, cepat atau lambat."
Ia menghilang dalam kabut, meninggalkan tanah retak dan udara dingin yang menusuk.
Beberapa jam kemudian, di dalam kuil Atherion yang rusak, Kael duduk diam menatap tangannya.
"Aku hampir kehilangan kendali," bisiknya.
Elya duduk di sampingnya, menyandarkan kepala ke bahunya. "Tapi kau tidak."
Keheningan tercipta. Tenang. Hangat.
"Elya..."
"Hmm?"
"Waktu itu... saat kau meninggal di kehidupanku dulu. Aku berjanji, kalau suatu saat kita bertemu lagi, aku tak akan jatuh cinta padamu."
Elya mengangkat kepalanya, kaget. "Kau... apa?"
Kael menatapnya, tersenyum kecil, sedih dan penuh makna.
"Karena rasanya terlalu sakit untuk kehilanganmu sekali lagi."
Elya terdiam. Tapi air matanya jatuh, satu tetes.
"Tapi nyatanya kau gagal menepati janji itu, ya?"
"Total gagal," gumam Kael, menahan senyum.
Elya memukul pelan dadanya. "Bodoh. Kalau aku mati lagi, jangan menyesal. Karena aku juga tak pernah bisa berhenti mencintaimu."
Mereka berdua tertawa pelan, untuk pertama kalinya sejak lahir kembali.
Namun di kejauhan, di atas puncak Gunung Isevir, sang musuh menghadap ke arah bintang-bintang. Dan dari cahaya redup bulan, sebuah nama muncul di bibirnya.
"Revan... Ayla... kalian masih belum tahu siapa aku sebenarnya..."