Kabut itu bukan kabut biasa. Ia membawa desisan asing yang tidak terdengar oleh telinga, hanya terasa di dalam d**a, seperti bisikan rasa takut yang terwujud dalam udara. Bahkan roh penjaga di sekitar Kuil Atherion mulai menghilang satu per satu, tenggelam dalam dimensi perlindungan mereka sendiri.
Kael menggenggam tangan Elya erat.
"Jangan lepaskan."
"Aku tak pernah berniat," jawab Elya, menatap ke arah gelap di balik kabut.
Langkah kaki tak terdengar. Hanya bayangan bergerak cepat dari sudut ke sudut taman kuil. Sesuatu mengintai mereka, tapi tak terlihat.
"Bayang-Tanpa-Jiwa," bisik Kael. "Mereka datang untuk menelan cahaya kita."
Elya mengangguk. "Kita harus menyatu. Seperti waktu itu."
Kael menarik napas dalam. Tubuhnya gemetar, bukan karena takut, tetapi karena sesuatu di dalam dirinya berdenyut. Sebuah kekuatan yang belum ia sentuh sejak kehidupan sebelumnya. Hujan. Darah. Pelukan terakhir. Semua itu kembali dalam kilatan yang menyakitkan.
"Aku tak akan kehilanganmu lagi..."
Mereka berdiri berdampingan lalu merentangkan tangan ke arah pusat kabut. Jari mereka bersentuhan dan lingkaran sihir perlahan terbentuk di bawah kaki mereka. Warna putih keperakan mulai bergelombang ungu dan emas.
Tiba-tiba, sesosok makhluk menerjang. Tingginya dua meter, tanpa wajah, kulitnya seperti bayangan hidup. Tetapi sebelum ia menyentuh tanah
"Ignis Ardentia!" seru Kael.
Semburan api putih keluar dari telapak tangannya, melesat seperti tombak panas. Makhluk itu menjerit tanpa suara dan mencair seperti lilin dalam cahaya.
Kael terdiam. Napasnya terputus.
"Itu... sihir level tinggi. Tapi kau belum pernah"
"Aku tidak mempelajarinya di sini," gumam Kael. "Itu... ingatan dari kehidupanku dulu."
Elya menatapnya, mata merah mudanya bersinar. "Mungkin kekuatan kita belum sepenuhnya hilang."
Tiga makhluk lain muncul dari sisi kanan dan kiri sekaligus. Mereka bergerak cepat, menukik seperti arwah haus.
Elya bergerak duluan. "Lunaris Vela!"
Cahaya bulan melengkung seperti sabit dan menebas keheningan. Dua dari tiga makhluk lenyap, meledak menjadi percikan bayangan. Namun yang satu berhasil menembus pertahanan dan menerjang Kael.
Waktu melambat.
Elya berteriak, tetapi Kael tak bergerak. Ia membiarkan makhluk itu menubruk dan saat cakar bayangan itu hampir menusuk jantungnya
Sesuatu bangkit dari dalam dadanya.
Cahaya biru menyilaukan meledak dari tubuhnya. Bukan api, bukan petir, melainkan kekuatan murni, jiwa yang dibakar oleh tekad dan cinta.
Makhluk itu terlempar jauh, menabrak pilar kuil dan mencair seperti embun terkena mentari.
Kael terhuyung, tetapi Elya menangkapnya.
"Kael... kau... itu sihir asal. Sihir Jiwa Murni."
Kael mengangguk perlahan. "Aku mengingatnya... sedikit demi sedikit. Waktu dulu, sebelum kita mati, kekuatan ini muncul ketika aku berjanji untuk melindungimu."
Mereka berdiri dalam diam. Udara bergetar. Kabut mulai memudar.
Namun suara langkah kaki menggema.
Dari balik reruntuhan kuil, sosok berjubah hitam melangkah pelan. Wajahnya tertutup, dan suaranya berat serta dingin.
"Kalian benar-benar kembali. Revan, Ayla. Tapi sayangnya, kalian terlalu lambat mengingat segalanya."
Elya mundur selangkah. "Siapa kau?"
"Seseorang dari kehidupan kalian sebelumnya. Seseorang yang tak kau selamatkan."
Kael melangkah maju. Aura di tubuhnya mulai berkedip.
"Jika kau datang untuk membalaskan masa lalu, maka kau datang pada waktu yang tepat."
Jubah hitam itu tertawa pelan.
"Bukan balas dendam, Kael. Aku datang untuk mempercepat kehancuran kalian."
Dan detik itu juga, kabut yang tersisa menyatu di sekeliling sosok itu. Ia membentuk pedang hitam dari bayangan, dari kenangan buruk dan rasa sakit yang disimpan terlalu lama.
Pertarungan besar belum dimulai. Tetapi mereka tahu, ini bukan hanya tentang kekuatan.
Ini tentang cinta yang belum selesai, luka yang belum pulih, dan janji yang akan diuji sekali lagi.