Bab 44

1260 Words

Kabut di sekeliling mereka teraduk liar ketika kawanan makhluk itu menyerbu dari segala arah. Suara klik tulang dan desir kabut bergesekan menekan telinga, seperti seribu kuku menggores kaca sekaligus. Elias melangkah maju, pedangnya memancarkan kilatan perak setiap kali memotong tubuh tulang itu. Serangan cepatnya bukan hanya membelah, tetapi juga memutus aliran kabut hitam yang mengikat makhluk-makhluk itu. Aren menghantamkan tongkat ke tanah. Retakan terbuka, memuntahkan duri batu dari bawah, menembus beberapa makhluk sekaligus. Tapi setiap kali satu hancur, dua lagi muncul dari celah tanah lain, seperti tanah itu sendiri sedang melahirkan mereka tanpa henti. "Selena, kita butuh perisai bergerak!" teriak Elias sambil menangkis ayunan tulang yang nyaris mengenai Elara. Selena mengger

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD