Bab 43

1279 Words

Langkah raksasa itu terdengar seperti dentuman palu ke perisai baja. Setiap hentakan membuat debu turun dari langit-langit ruang pusat. Dari balik kabut, siluetnya mulai jelas: tinggi seperti menara, tubuhnya terdiri dari kumpulan makhluk-makhluk kecil yang saling menempel, membentuk sosok humanoid yang bergerak serempak. Matanya dua lubang kosong yang menyala redup, dan di dadanya berdenyut bola hitam, lebih besar dari semua bola yang pernah mereka lihat. Setiap denyutannya membuat kabut di sekitarnya berputar cepat, seperti menghisap cahaya dari udara. "Kalau itu inti terakhir..." Elara memegang kunci resonansi, jemarinya gemetar, "...maka kita harus menembaknya sekali saja, tepat di inti, atau semuanya percuma." Elias menarik napas panjang. "Kita buka jalannya. Kau tembak ketika ada

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD