Bab 42

1749 Words

Kabut itu bukan sekadar kabut lagi. Dari balik tirainya, siluet-siluet bergerak, ratusan mungkin ribuan, berjalan dengan langkah yang terlalu serempak untuk dianggap kebetulan. Suara itu, seperti denting besi yang dipukul berulang-ulang, mendekat seiring tiap detik. Bau logam menusuk hidung, bercampur dengan aroma basah tanah Aetheria. “Bukan hanya mereka yang kita lihat di dunia air hitam…” bisik Elias, matanya menyipit. “Ini… bentuk baru.” Aren sudah berdiri di dekat jendela besar ruang pusat, tangannya memegang erat tongkat perang. “Kalau benar ini bentuk baru, berarti mereka sudah beradaptasi. Hancurkan satu inti, dua lainnya berkembang.” Penjaga Kenangan memutar peta jiwa. Titik-titik cahaya yang sebelumnya menyebar kini bergerak ke arah pusat kota, berkumpul seperti kawanan yang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD