Sudah beberapa hari sejak Ayla dan Revan mengikat jiwa mereka.
Hari-hari Revan berubah. Lebih berwarna. Lebih hidup.
Aneh, tentu saja. Tapi juga hangat.
Setiap pagi, Ayla membangunkannya dengan lagu aneh yang dinyanyikan setengah sumbang. Setiap siang, ia mengikutinya ke sekolah, bersembunyi di balik papan tulis atau melayang di atas lemari kelas. Dan setiap malam, mereka duduk berdampingan di jendela, menatap langit dan bercerita tentang dunia... dan tentang kehilangan.
Tapi malam ini terasa berbeda.
Ayla tidak bernyanyi.
Tidak tersenyum.
Ia hanya duduk diam di sudut kamar. Wajahnya pucat. Matanya... kosong. Seolah ada sesuatu yang jauh lebih berat daripada yang bisa diucapkan.
Revan memperhatikannya dari tepi ranjang. Ia memanggil, pelan. “Ayla?”
Tak ada jawaban.
Ia mendekat, perlahan meletakkan tangannya di udara, di tempat yang biasa menyentuh Ayla. Tapi kali ini... tidak terasa apa-apa. Bahkan hawa dingin yang dulu jadi penanda keberadaan Ayla pun hilang.
“Ayla!” Revan panik. Suaranya menggema di kamar yang sunyi.
Ayla menoleh perlahan. Tatapannya kabur, dan kilau bening di matanya telah berubah menjadi abu kelam. Gelap. Kosong.
“Ada yang memanggilku,” bisiknya, lirih.
Revan terdiam. Napasnya tercekat. “Siapa?”
Ayla menggigit bibirnya, pelan, menahan sesuatu. “Penjaga batas. Penjaga antara dunia ini dan dunia yang seharusnya jadi tempatku...”
Di dunia roh, tidak semua arwah boleh tinggal di dunia manusia terlalu lama.
Roh yang terikat oleh dendam akan membusuk, perlahan menjadi makhluk yang membahayakan.
Tapi roh yang terikat oleh cinta... bisa menghilang dengan tenang, atau justru ditarik secara paksa karena dianggap melanggar takdir.
Dan Ayla tahu. Ia tahu sejak awal bahwa waktunya tak panjang.
Tapi ia tidak menyangka... bahwa saat hatinya baru mulai merasa utuh, dunia justru ingin memisahkannya lagi.
Dan penjaga batas itu... kini telah datang.
Keesokan harinya, Revan berjalan sendiri menuju sekolah.
Ayla tidak muncul.
Ia memanggilnya di kamar. Di lorong sekolah. Di tangga tempat Ayla pernah kehilangan nyawanya. Tapi tak ada suara. Tak ada aroma melati. Tak ada bisikan malam.
Hanya dingin yang menempel diam di udara.
Revan mencoba menenangkan diri. Tapi hatinya seolah disobek pelan-pelan.
Ia menunggu. Menunggu malam datang.
Dan ketika akhirnya ia terlelap... ia bermimpi.
Ia berada di tengah ladang luas yang penuh bunga melati. Wangi bunga itu menguar lembut, membawa kenangan yang manis dan menusuk. Tapi langitnya... bukan biru. Bukan gelap. Tapi hitam kelabu, tanpa bulan, tanpa bintang.
Kabut menggantung di udara. Dan dari kejauhan, bayangan-bayangan besar bergerak perlahan.
Di tengah ladang itu, Ayla berdiri.
Sendirian.
Kakinya terikat rantai gelap yang keluar dari tanah. Rantai itu tampak berat. Hidup. Seolah mencoba menyeretnya ke dalam bumi.
“Ayla!” Revan berteriak. Ia berlari, tapi setiap langkah terasa berat. Tanah di bawahnya seperti menarik tubuhnya, menolak kehadirannya.
“Revan... jangan datang!” teriak Ayla. Air matanya jatuh, tapi ia tetap berdiri tegak. “Ini bukan dunia untukmu!”
“Siapa yang melakukan ini?!”
Dari balik kabut, muncul sesosok makhluk tinggi. Tanpa wajah. Selubung hitam menutupi seluruh tubuhnya. Suaranya terdengar seperti kaca pecah, retak, tajam.
“Kau melanggar batas,” gumam suara itu. “Arwah muda tidak seharusnya menetap begitu lama di dunia manusia. Cinta... tidak bisa jadi alasan untuk menolak takdirmu.”
Revan menggertakkan gigi. “Dia tidak menyakiti siapa pun.”
“Justru itu masalahnya,” suara itu menggema. “Dia terlalu damai. Terlalu bahagia. Jiwa yang mati... harus kembali. Atau keseimbangan akan hancur.”
Revan berdiri di depan Ayla. Tubuhnya gemetar, tapi matanya tak gentar. “Kalau dia harus pergi, maka bawa aku juga.”
Ayla menjerit. “Tidak! Revan, kamu tidak boleh ikut!”
Sosok gelap itu mendekat. Anginnya dingin dan berat. “Kau manusia. Dunia ini bukan untukmu. Kau tidak punya hak.”
Revan tak mundur. Napasnya tersengal, tapi ia tetap berdiri. “Aku gak peduli. Aku mencintainya. Dia mencintaiku. Dan kalau cinta tak punya tempat di dunia ini... maka dunia ini yang salah.”
Sosok itu terdiam lama. Lalu, dengan suara berat, seperti batu yang menggesek tanah:
“Maka hadapilah ujian kalian. Jika cinta kalian cukup kuat... dia boleh tinggal. Tapi jika tidak... dia akan diambil. Dan kamu... akan melupakan semuanya. Dia, kisah kalian, semua.”
Revan terbangun dengan napas terengah.
Tubuhnya berkeringat. Jantungnya berdentum di dadanya seperti genderang perang.
Ayla belum kembali.
Tapi kini Revan tahu.
Ini bukan sekadar kehilangan.
Ini ujian.
Dan ia tidak akan kalah.
Di tempat lain, jauh dari dunia manusia, Ayla terbangun dalam ruang yang dingin dan gelap. Tak ada suara. Tak ada cahaya.
Tapi di tengah sunyi itu... ada bisikan yang menembus hatinya.
Revan.
“Aku akan menemukanmu, Ayla. Apa pun yang terjadi.”
Ayla memejamkan mata. Air mata meluncur pelan di pipinya.
Ia tersenyum tipis.
“Aku percaya padamu, Revan.”