Hantu Di Sampingku

854 Words
Pagi itu, Revan bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena alarm. Bukan karena ibunya memanggil. Tapi karena... ada suara lembut yang menyusup ke telinganya. “Hei, bangun dong. Kamu tidur kayak batu,” gumam suara itu. Revan membuka mata perlahan. Pandangannya masih buram, tapi sosok yang duduk santai di atas meja belajarnya langsung membuat detak jantungnya melonjak. Ayla. Dengan senyum manis dan pipi yang tampak sedikit mengembung sebal, ia menatapnya dengan tatapan penuh protes. “Jam segini kamu masih belum bangun? Dasar manusia pemalas,” katanya sambil menjentik udara, ekspresinya genit dan lucu. Revan hanya menatapnya lelah. Setengah sadar, setengah tak percaya. “Ini nyata, ya?” tanyanya dengan suara serak bangun tidur. Ayla menoleh, bingung. “Hmm?” “Semalam... itu semua bukan mimpi, kan?” Ayla melayang turun, mendekat, lalu mencubit pipinya pelan. Sentuhan itu... terasa. “Apa mimpi bisa nyubit kayak gini?” bisiknya, tersenyum puas. Revan terkekeh, sedikit perih di pipinya. “Ternyata kamu beneran bisa nyentuh sekarang.” “Yup. Aku masih hantu. Tapi sekarang... aku bisa lebih nyata buat kamu.” Ayla memutar tubuhnya di udara, seperti menari. “Terima kasih, Revan. Karena kamu, aku punya tempat untuk berlabuh.” Revan hanya mengangguk kecil. Ada sesuatu di dalam dadanya yang bergerak pelan. Hangat. Aneh, karena yang membuatnya merasa hidup adalah makhluk yang sudah tidak lagi bernyawa. Hari itu, Revan kembali ke sekolah. Dan tentu saja, Ayla ikut. Dengan caranya sendiri. Ia mengambang di belakang Revan saat menyusuri lorong. Kadang mengintip dari balik pintu kelas. Kadang duduk bersila di bawah bangku, menggambar wajah-wajah lucu di buku catatan Revan, membuatnya nyaris tertawa di tengah pelajaran. Tentu hanya Revan yang bisa melihatnya. “Siapa cewek itu?” tanya Vina, curiga saat melihat Revan sesekali tersenyum sendiri. Revan tersentak. “Hah? Nggak, aku cuma... mikir sendiri.” Ayla yang duduk tak jauh darinya langsung cemberut. “Kamu gak bakal ngenalin aku ke temenmu?” Revan membisik pelan tanpa menggerakkan mulut terlalu mencolok. “Gimana caranya ngenalin hantu ke orang normal, Ayla?” “Normal itu membosankan,” balas Ayla sambil menjulurkan lidah. Revan menarik napas dalam. Hari-hari ke depan sepertinya akan jadi lebih panjang. Dan... penuh warna. Sore itu, ruang musik kosong. Revan duduk di kursi kayu, memetik gitar perlahan. Petikan nada-nada pelan itu mengalun tanpa irama pasti. Lagu itu belum punya lirik, belum punya judul, tapi rasanya sudah cukup untuk menggetarkan d**a. Ayla duduk di kursi seberangnya. Menonton dalam diam. “Aku suka lagu ini,” katanya pelan. “Belum selesai,” ujar Revan. “Aku bikin ini waktu kamu gak datang malam itu.” Ayla menunduk. Matanya meredup. “Waktu itu... rasanya seperti ada yang hilang. Kayak kehilangan cahaya yang biasanya menerangi malamku.” Ayla mengepalkan tangannya di atas rok seragamnya. “Maaf, Revan...” Revan menggeleng. “Jangan minta maaf. Justru karena itu aku sadar... kamu udah jadi bagian dari hidupku.” Ayla menatapnya, dan untuk pertama kalinya, matanya tampak berkaca-kaca. “Aku juga ngerasa gitu. Meskipun aku udah gak hidup, tapi setiap hari bersamamu... rasanya seperti aku bisa bernapas lagi.” Mereka terdiam. Bukan karena kehabisan kata, tapi karena kata-kata tak lagi cukup untuk menggambarkan perasaan mereka. Dan saat senja mulai menyapu langit, Ayla bersandar di dinding. Ia memejamkan mata, seolah menyimpan sesuatu yang berat. “Revan,” bisiknya, “kamu tahu gak... meski aku bisa bertahan karena ikatan jiwa kita, tetap ada batasnya.” Revan menoleh. Hatinya berdesir. “Maksudmu?” “Aku gak bisa ikut kamu selamanya. Dunia ini bukan tempatku, Revan. Aku cuma... tamu yang diberi waktu lebih panjang.” Revan menunduk. Ada sesuatu di tenggorokannya yang terasa mengganjal. “Tapi kamu masih di sini, kan? Sekarang?” Ayla membuka mata, lalu menoleh padanya. Senyumnya lembut. “Iya. Sekarang aku di sini. Di sisimu. Dan selama hatimu masih membuka ruang untukku... aku akan tetap ada.” Malam pun kembali. Revan duduk di ranjang, memandangi langit dari jendela kamarnya yang terbuka. Di sampingnya, Ayla bersandar di dinding. Kakinya menggantung, rambutnya ditiup angin pelan. “Kalau suatu hari nanti aku benar-benar harus pergi...” Ayla membuka suara, “...jangan sedih ya.” Revan menatapnya. Dalam. Diam. “Aku gak bisa janji.” Ayla menunduk pelan. “Manusia memang... sulit ditebak.” Revan bangkit. Ia berjalan ke arah Ayla, berdiri di depannya. Tak berkata-kata. Hanya menatap dalam mata bening itu. “Aku gak tahu apa yang akan terjadi nanti,” katanya lirih. “Tapi satu hal yang aku yakin... aku gak akan pernah menyesal telah mencintai seorang hantu.” Ayla tertawa pelan, matanya berkaca-kaca. “Dan aku gak akan pernah menyesal telah jatuh cinta pada manusia paling cuek dan keras kepala yang pernah aku temui.” Lalu mereka tertawa kecil. Tawa yang pelan, namun penuh makna. Ada kebahagiaan. Ada luka. Ada waktu yang mereka tahu tak akan selamanya. Tapi juga ada cinta... yang telah menembus batas. Dua dunia yang berbeda. Dua hati yang tak pernah dirancang untuk bersatu. Tapi di malam yang tenang itu, mereka tahu satu hal. Mereka telah saling menemukan. Dan selama cinta itu masih ada... mereka tidak benar-benar terpisah. Walau satu di antara mereka tak lagi hidup. Dan yang satu... perlahan mulai belajar hidup kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD