Malam itu, setelah pelukan yang hanya bisa dirasakan oleh hati, Ayla perlahan menghilang dari pandangan Revan. Tapi tak seperti biasanya, Revan tidak langsung bangkit dari tempatnya. Ia tetap duduk di tepi ranjang, diam, menatap jendela yang kini hanya menampilkan bintang-bintang dingin yang seolah ikut membeku bersama hatinya.
Keheningan terasa lebih dalam dari biasanya.
Ayla... hantu yang justru membuatnya merasa hidup, kini perlahan menjauh. Seperti bayangan yang terseret waktu, ia menghilang perlahan-lahan.
Dan Revan belum siap. Tidak setelah semua ini. Tidak setelah rasa yang perlahan tumbuh dan tak pernah diberi kesempatan untuk berakhir dengan wajar.
Keesokan harinya, Revan tidak pergi ke sekolah.
Ia mengurung diri di kamar. Bukan karena sakit, bukan karena malas. Tapi karena ada sesuatu yang jauh lebih penting dari pelajaran hari itu.
Ia membaca ulang semua yang ia temukan. Artikel, buku tua, kisah rakyat, dan mitos tentang roh penasaran. Tumpukan buku berserakan di lantai. Laptop menyala, tapi yang ia cari tidak ada di internet. Ia sedang mencari harapan. Mencari jalan. Mencari secercah kemungkinan agar Ayla... bisa bertahan.
“Ada banyak cerita,” gumamnya, membuka buku tua yang baunya seperti lemari tua dan hujan, “tentang roh yang terikat oleh cinta. Roh yang bisa tetap tinggal karena adanya pengikat antara dunia manusia dan dunia roh.”
Tangannya berhenti pada satu halaman. Kata-kata yang tertulis di sana membuat matanya membelalak.
“Jika roh belum menemukan kedamaian, maka satu-satunya cara untuk mempertahankannya di dunia adalah melalui perjanjian batin yang sangat kuat: ikatan jiwa.”
“Ikatan jiwa…” ulang Revan, nyaris berbisik.
Ia menegakkan badan. Wajahnya yang semula murung kini tertimpa cahaya kecil harapan. “Ayla belum menemukan kedamaian. Mungkin karena cinta ini... belum selesai.”
Malam pun datang lagi. Seperti malam-malam sebelumnya, Revan duduk di tepi ranjang. Jendela terbuka lebar. Angin masuk pelan, membawa aroma samar tanah basah dan daun yang gugur. Tapi tidak ada aroma bunga melati. Tidak ada suara lembut yang menembus keheningan.
Revan menatap ke luar. Langit bertabur bintang, tapi tak satu pun bisa menjawab kerinduannya.
“Ayla...” bisiknya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara malam, “kalau kamu bisa dengar... datanglah. Aku cuma ingin bicara. Aku cuma... ingin kamu tetap di sini.”
Ia menunduk, mengepalkan tangan.
Namun tepat saat jarum jam mendekati angka dua belas, udara di sudut ruangan mulai berubah. Sejuk. Lalu samar. Bayangan lembut muncul perlahan, nyaris seperti kabut yang mengendap di antara cahaya.
“Ayla…” Revan berdiri. Matanya memanas.
Gadis itu muncul, tapi tubuhnya jauh lebih pucat dari biasanya. Wajahnya lelah. Rambutnya tidak berkilau seperti dulu. Dan cahaya matanya... nyaris padam.
“Kenapa kamu memanggilku lagi?” suaranya serak, lirih seperti hembusan napas yang tersisa di musim dingin.
“Aku gak mau kamu pergi,” Revan melangkah mendekat. “Aku tahu waktumu hampir habis. Tapi aku juga tahu, kita belum selesai.”
Ayla menunduk. Tubuhnya bergetar, seolah angin bisa membuatnya pecah.
“Aku benar-benar kelelahan, Revan. Setiap malam aku muncul, tubuhku semakin rapuh. Dunia ini menolak ku sedikit demi sedikit.”
Revan menarik napas panjang, menahan rasa takut yang mengikisnya dari dalam. “Aku baca tentang ‘ikatan jiwa’. Katanya... kalau ikatan batin seseorang cukup kuat, roh bisa tetap bertahan. Mungkin... aku bisa jadi pengikat itu untukmu.”
Ayla mendongak. Tatapannya goyah. “Revan, kamu tahu artinya? Mengikatkan jiwamu pada seseorang dari dunia lain... bukan hal kecil. Kamu bisa kehilangan sebagian dari dirimu. Kamu bisa terikat padaku... selamanya.”
Revan tidak mundur. “Aku tahu. Tapi aku juga tahu, hidup tanpamu rasanya seperti kembali ke kekosongan yang dulu. Aku gak mau kembali ke sana. Aku gak mau kehilanganmu.”
Ayla terdiam. Matanya berkaca-kaca. Bukan air mata, tapi cahaya yang menggigil di sudut-sudut bening itu.
“Kamu benar-benar manusia paling bodoh yang pernah aku temui,” katanya akhirnya.
Revan tertawa kecil. “Dan kamu... hantu paling hidup yang pernah aku kenal.”
Ayla melangkah pelan. Ia menaruh telapak tangannya di d**a Revan, tepat di atas jantungnya. Dan untuk pertama kalinya, Revan merasakan sentuhan itu. Bukan hanya dingin, tapi... hangat. Nyata. Masuk sampai ke dalam hatinya.
“Kalau kamu yakin,” bisik Ayla dengan suara nyaris patah, “maka izinkan aku tinggal di hatimu. Sepenuhnya.”
Revan menutup mata. “Aku sudah melakukannya sejak malam pertama kamu memanggil namaku.”
Dan saat itu juga, cahaya hangat mengelilingi mereka. Bukan cahaya tajam yang menyilaukan, tapi lembut seperti cahaya matahari pertama di pagi musim gugur. Tubuh Ayla bercahaya perlahan. Bukan pudar. Justru semakin utuh. Seperti debu bintang yang kembali menyatu.
Sosoknya menjadi lebih jelas. Lebih padat. Ia masih seperti roh, tapi kini... hidup. Stabil. Tidak hilang lagi.
Revan menatap takjub. “Kamu... kamu gak tembus cahaya lagi.”
Ayla melihat tangannya sendiri. Ia tertawa, pelan tapi tulus. “Revan... kamu berhasil. Kita berhasil.”
“Berarti... kamu bisa tetap di sini?”
Ayla mengangguk. “Selama hatimu tetap memanggilku, selama jiwamu tidak menutupku... aku akan tetap ada. Mungkin tidak selamanya, tapi cukup lama... untuk menyelesaikan kisah ini dengan utuh.”
Revan menatapnya lama. Senyum tipis muncul di wajahnya yang biasanya tenang.
“Kisah kita belum selesai. Ini baru halaman pertama.”
Ayla tersenyum. Matanya bersinar lembut. “Dan aku... akan terus mencintaimu. Dari dunia ini, dan dari dunia lain. Dalam napasmu. Dalam sepi. Dalam senyummu yang kau pikir tak pernah bisa kembali.”
Di luar jendela, bintang-bintang masih menggantung di langit.
Tapi malam itu tidak dingin seperti biasanya.
Karena di dalam kamar kecil itu, dua jiwa yang seharusnya tak pernah bertemu telah memilih jalan mereka sendiri. Melampaui batas antara hidup dan mati. Melampaui logika.
Yang tersisa... hanya cinta.
Dan cinta, bagi jiwa yang rapuh sekalipun, adalah bentuk kehidupan paling murni yang pernah ada.