Kabut malam belum sepenuhnya surut ketika Aetheria kembali bernafas normal. Namun di antara embusan angin, Elara bisa merasakan bahwa udara itu tetap membawa sesuatu. Bukan lagi pesan samar, melainkan seperti tatapan yang tak terlihat, menunggu dari jauh. Jiun masih duduk di dekat perapian, selimut melilit tubuhnya. Ia tidak banyak bicara sejak kembali, hanya sesekali melirik ke arah cermin serpihan yang kini terkurung dalam lingkaran pelindung buatan Selena. Permukaannya sudah tidak beriak lagi, tetapi warnanya semakin gelap, nyaris seperti lubang yang memakan cahaya di sekitarnya. “Aku tidak suka benda itu di sini,” gumam Aren. Tangannya menggenggam tongkat, seolah siap menghancurkannya kapan saja. “Kalau dihancurkan, celahnya akan pecah,” ujar Penjaga Kenangan sambil berjalan mende

